Gelap gulita. Ah, rupanya mati lampu. Sedang musimnya pemadaman listrik di pelosok kota. Pertanda energi semakin menurun hingga harus diperhitungkan. Kali ini giliran rumahku. Cat minyak pada kanvas yang menggantung di dinding itu, masih belum memperlihatkan bentuk. Padahal esok atau lusa harus sudah kuserahkan pada penilai. Hmmm… "Harus bersabar", kata ibuku, menunggu penguasa cahaya malam untuk dapat dihidupkan kembali.
Suasana gelap seperti ini paling pandai dalam mengusik hati. Berkas-berkas yang tersembunyi di padang ilalang, sedikit menyibakkan diri. Kali ini ada kamu. Si beruang yang hobi memakan bambu. Dengan lingkar mata hitam bulat seperti selalu bergadang setiap malam. Padahal, aku tahu, kerjaanmu hanya makan dan tidur. Makannya badanmu itu gemuk dan empuk.
Teringat kamu berkisah tentang putri berambut emas. Bahwa yang tuluslah yang mampu melihat kilau emasnya. Setelah bercerita itu, kamu malah menangis dengan hebat. Karena aku. Itu pengakuanmu dulu. Layaknya jam pasir yang dibalikkan. Sekarang giliranku yang menangis di dalam gelap karena mu. Seperti kali ini dan waktu gelap sebelumnya.
Aku menyesal terlambat datang ke rumahmu yang hangat. Di mana kamu selalu menyiapkan sofa empuk, bantal, dan secangkir coklat bila aku datang. Rasanya rumahku tidak sehangat ini. Namun, aku baru menyadari itu saat rumahmu mulai diterbangkan balon-balon raksasa berwarna kuning. Tapi aku, malah sibuk dengan menari di padang semesta untuk menarik naga. Ck...Ck...
Semakin tinggi rumahmu terbang semakin kecil dilihatku di angkasa, hingga hanya terlihat setitik sinar terang karena kilau balon kuningnya.
“Pluk…” ada sesuatu terjatuh dan tergeletak disamping kakiku. Sebutir bola embun. Pemberianmu dari jauh hari, sebagai momente pelepasan. Pandanganku mulai nanar ketika membaca tulisan dalam bola embun itu, “SEMESTA…”
Kapan kamu kembali, rumah hangat? Aku ingin coklat buatanmu yang kuminum di atas sofa empuk dengan bantal indah. Aku ingin mendengar ceritamu yang membuatku hangat dan entah apa artinya itu.
Yang aku tahu, kamu tak bisa kembali, mungkin karena gas balonmu sudah habis lalu mendarat di taman biji kenari. Dan aku, (tak boleh) menantimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar