Dulu sekali, aku suka hujan.
Wangi tanah bercampur matahari, atau,
Menari nari menunggu petir, tanda sang naga datang.
Meninggalkan rumah hangat yang disediakan istimewa untukku.
Tapi sekarang tidak lagi.
Naga tak pernah datang.
Aku pun tak suka hujan.
Walaupun diam-diam aku selalu mengintip saat petir datang.
Bertanya apakah awan akan datang, atau kilau ekor naga.
Kupu-kupu kadang mengintari.
Serbuknya kadang bisa membahayakan. tapi kadang menyenangkan.
Aku teringat, si kelinci air.
Entah bagaimana kabarnya.
Apakah singa masih mencabiknya lewat kuku angin.
Atau mungkin dia sedang tertidur.
Karena sekarang musim dingin.
Tertidur ditempat yang hangat nan tersembunyi.
Mungkin juga sedang melahap wortel.
Tidak, itu tidak mungkin.
Kelinci air kan tidak suka wortel dan kuning telur.
Ah, aku merindukannya, semesta.
Rindu, rindu terhadap wangi buih dan gelembung sabun.
Rindu, rindu dengan wajah senja.
Rindu, rindu dengan payung pelangi.
Hay, Ibu dandelion, rasanya ingin sekali kuikut,
Memegang erat, dan melihat semesta dari udara,
Terlepas dari tuan kelabu yang menyita waktu.
-----kepada: semesta.------