24.7.13

Sebuah Tanya -Soe Hok Gie



SEBUAH TANYA


“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, 
lembah mendala wangi kau dan aku tegak berdiri, 
melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. 
wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”

Selasa, 1 April 1969

-Soe Hok Gie-



23.7.13

Meluruskan Orbit




"Matilah terhadap segala yang kau ketahui. 
Matilah sebelum mati.
Karena kematianmu adalah kemerdekaanmu." 
–Supernova, Dee.




Kata pintar sekali mencari celah. Ia selalu berlari-lari, mencuat kesana kemari dalam waktu, pikiran, dan perjalanan yang statis, lalu ia hilang begitu saja. Sudah lama sekali saya tidak menulis. Menulis, dalam artian mengeluarkan segala pikiran random saya dalam sebuah kata-kata yang nyata.

Kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi, saya berada dalam masa-masa statis. Masa datar yang entah apa itu penyebabnya apa. Dimana pikiran-pikiran seenaknya membuat sugesti untuk melakukan ini dan itu. Jiwa saya pasrah menerima segala sugesti yang muncul. Statis, datar, mengikuti alur kemanapun. Menerima segala informasi tanpa ada filter untuk diri sendiri. Terlalu banyak berbagi kepada siapapun bahkan hal hal terkecil, sampai akhirnya saya tidak berbagi pada diri saya sendiri. Fokus saya meracau kemana-mana. Pikiran saya terbuai sampai akhirnya pertahanan diri menjadi sangat kendur. Tidak, saya sendiri tidak menyadari bahwa saya berada dalam masa itu, sampai akhirnya mengalami shocking therapy. Dikejutkan dengan peristiwa yang diluar nalar saya. Shock. Pada akhirnya, menangis sampai dalam. Tersentak dengan orbit yang telah saya lalui, yang mungkin sudah melenceng terlalu jauh.

Tuhan Maha Baik. Dia memberikan saya alarm, melalui shock therapy tersebut. Pada saat saya terlampau jauh kehilangan rasa dan nilai. Saya ditarik kembali pada suatu jeda. Membuat saya berhenti pada satu titik, dan mulai melihat sekeliling saya. Apa yang sebenarnya telah saya abaikan sampai akhirnya kehilangan. Esensi kehilangan yang sebenarnya, hanya karena kita terlalu obsesi pada satu hal. Karena kadang kita tidak menyadari apa yang benar-benar hilang, karena kita terlampau lugu oleh keadaan sehingga buyar dengan realitas sesungguhnya. Waktu yang terlewatkan, mimpi-mimpi yang pudar, potensi diri yang semakin melemah adalah hal yang saya abaikan hingga akhirnya hampir kehilangan. Saya terlalu fokus pada objek yang sebenarnya hanyalah fana.

Ini adalah titik balik. Kita manusia, selalu memerlukan momen untuk mengawali segala hal. Ramadhan kali ini Insya Allah memberi berkah bagi kita semua. Memberi kesadaran pada sesuatu hal yang harusnya kita sadari. Memberi kesempatan pada diri kita untuk merekonstruksi untuk menjadi lebih solid dari biasanya.

Segala puji bagi Tuhan semesta alam.

Cipaku, 23 Juli 2013.
Diantara pekerjaan yang mengantri.

22.7.13

Insya Allah, Pap :)


Papap yang selalu tangguh dalam bekerja, 
selalu bijak dalam kesederhanaan, 
tak pernah marah, dan selalu percaya pada anak-anaknya. Love you! ♥♥♥
-Saat akan piknik bersama ke Lembang bersama Ibu,-

Hari Minggu kemarin, saya putuskan untuk tidak keluar rumah seharian. Sering absennya para penghuni rumah adalah hal yang biasa. Karena kami sekeluarga jarang sekali berkumpul, maka “Kehadiran” menjadi hal yang sangat berharga di rumah kami. Seharian saya menata ini dan itu dalam rumah. “Menata” adalah hal yang sangat saya sukai untuk mengisi kekosongan waktu.

Malam harinya, setelah buka puasa, saya duduk disamping Papap yang sedang membaca koran. Saya perhatikan badannya semakin mungil dan gurat wajahnya bertambah seiring usia yang dijalaninya. Papap, dalam ingatan saya adalah sosok yang sangat sederhana, cara hidupnya tidak terbawa arus konsumtif zaman. Sekalipun saya tidak ingat bagaimana rupanya Papap jika marah. Papap tidak pernah menuntut untuk melakukan ini dan itu pada istri dan anak-anaknya. Ia selalu percaya pada kami. Sungguh penyabar, rendah hati, dan tak pernah mengeluh.

Papap sedang memakai peci, sarung, dengan atasan baju batik seperti biasa setelah sholat. Baju batik merupakan baju andalannya setiap hari. Baju batik selalu hadir pada setiap momen dan setiap pertemuan, bahkan saat beribadah. Saat saya duduk-duduk, tiba-tiba beliau berkata, “Nganggo acuk iyeu teh haneut. Tapi kancingna aya nu lepas.” – “Pake baju ini tuh hangat, tapi ada kancing yang lepas.” Mengingat saya adalah anak perempuan satu-satunya (untuk bisa menjahit). Saya tersenyum, lalu menyadari, bahwa inilah cara beliau meminta. Tidak mengungkapkan secara langsung. “Dieu Pap, ku neng jaitkeun. Mana cobi kancingna aya?” –“Sini Pap, saya jaitkan, kancingnya ada?” Ia lalu membawa satu toples kancing lengkap dengan jarum jahitnya.

Saya menjaitkan satu kancing yang lepas. Saya perhatikan ternyata kancing lain pun sudah hampir lepas. Lalu saya memperbaiki kancing-kancing yang lain sambil beliau bercerita bahwa ini baju kesayangannya. Baju batik ini pemberian dari saudara saat saya berumur 9 tahun. Terlihat rasa bangga mengenai baju batik yang Ia kenakan sekarang. Saya ingin menangis rasanya saat itu. Bertanya-tanya pada diri sendiri, Bakti apa yang sudah saya lakukan?

Saya teringat bagaimana perjuangannya dulu, bahwa beberapa kali jalan kaki, untuk menghemat demi anaknya bisa pergi sekolah. Saya teringat bagaimana saat Ia menghibur saya saat menangis setiap pembagian raport (karena takut dimarahi ibu). Ibu saya termasuk yang strick dalam pendidikan. Prestasi adalah nomor satu. Dia selalu yakin, bahwa anaknya cemerlang dan berprestasi. Saya juga teringat perjuangannya saat melawan perampok dulu. Dan masih banyak lagi.

Tahun ini genap Papap berusia 75 Tahun. Usia tidak muda untuk kepala keluarga. Tapi Ia tetap bekerja keras. Tidur hanya 4-5 jam sehari. Bekerja sebagai tukang sablon di rumah. "Ah, ngarah teu pikun." -"Ah, biar ga pikun" , katanya.

Papap tidak pernah memerintah atau meminta banyak hal pada anak-anaknya. Hanya satu pertanyaan yang beliau tanyakan pada saya kemarin. “Neng, iraha atuh? (menikah) Neng kan pintu gerbang (untuk adik/kakak saya).” Saya hanya tersenyum.

Lalu saya teringat, tulisan saya saat dahulu:
Papap atau ibu, tak pernah tau apa-apa yang anaknya lakukan. Tidak pernah bertanya, kecuali kami yang bercerita. Termasuk apa yang sedang saya alami. Rasa pedih dan gelisah yang sudah mencapai limit, hanya dapat terucapkan dengan kalimat, “Pap, doain neng, ya…” Beliau lalu bilang, “Itu mah gak pernah kelewat tiap sholat: Semoga diberikan pasangan yang diridhoi Allah, mendapat keturunan yang shaleh dan shalehah, diteguhkan imannya, semoga selalu mendapat kesehatan yang mumpuni, dilancarkan dan dimudahkan segala urusannya…” 

Ramadhan kali ini rasanya berbeda dari Ramadhan biasanya. Ah, sudah lama mungkin saya tidak duduk mengobrol lama dengan Beliau.

12.7.13

Catatan Kaki 21#









Kamiya:
"Aku selalu mengagumi angin. Ingin hidup seperti angin yang tidak terikat siapapun. Bisa terikat pada apapun. Bisa terbang kemana pun sambil mengubah bentuknya dengan bebas....
...Tapi aku tetap rumput kecil yang sampai kapanpun terikat pada tanah, tidak bisa pergi kemana pun....
Kalau dipikir-pikir pasti seumur hidup aku hanya dapat hidup memandangi angin.
Rasanya sangat hampa..."

***

Soji Okita:
"Tapi mungkin angin mengagumi rumput juga kan?
Mungkin dia merasa iri dengan rumput yang merekatkan akarnya dengan kuat di tanah.
Dan menjadi tempat tumbuhnya bunga yang mungil.
Kalau bisa, mungkin dia ingin menculik dan membawa bunga itu pergi."


-Antara Kamiya & Soji Okita, Flash of Wind (Kaze Hikaru) Vol. 30-







4.7.13

Payung Teduh - Menuju Sore







Harum mawar di taman
menusuk hingga ke dalam sukma
dan menjadi tumpuan rindu cinta bersama
di sore itu menuju senja

bersama hati yang terluka
tertusuk pilu menganga luka itu
di antara senyum dan menapaki jejak kenangan
di sore yang gelap ditutupi awan
bersama setangkup bunga cerita yang kian
merambat di dinding penantian
ada yang mati saat itu dalam kerinduan tidak terobati
(interlude)

baru saja kuberanjak beberapa saat sebelum itu
ada yang mati menunggu sore menuju senja
bersama..







Catatan Kaki 20#








“Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu.”

—  PARTIKEL, Dee.






Catatan Kaki 19#







“Choosing, however simple the choices are, is never really that simple. Choosing is like balancing the idiosyncasy of ourselves with the mere existence of others.”

—   Divortiare - Ika Natassa






Catatan kaki 18#









For some times in a life, we could change roles with another. One time being a lover, at some other time being a (be)loved. Whatever the roles, do nicely. Don't kill, otherwise you gonna be killed.

For today, for future, and for yet answered pray. be kind with your heart...

-nasihat di pagi hari, dari seorang kakak-










Catatan Kaki 17#





Saya tidak senang bilang “gue cinta sama lo” saya lebih suka bilang “gue sayang sama lo.” Entah mengapa yang kedua lebih hangat saja perasaannya. Perasaan cinta terhadap seseorang bisa habis suatu hari. Tetapi apakah perasaan sayang bisa habis?

Dan “cinta hadir pada momen-momen kecil.” Saya setuju sekali. Terkadang pelukan erat, bergandengan tangan lama, lalu ciuman. Adalah momen. Dimana kita merayakan cinta itu. Kita tidak perlu mengeluarkan kata-kata. Hanya tindakan.

Hanya keintiman yang kita berdua yang tahu. Saya takut berubah menjadi seorang penuntut. Karena bisa saja saya ini monster. Dan menuntut orang lain melakukan ini dan itu. Bukankah itu mengerikan.

-Theoresia Rumthe-
dari blognya: "Perempuan Sore"






3.7.13

catatan kaki 16#






there will be times where things don't go the way you wanted them to, whether it's being with someone you can't have or someone who doesn't feel the same way.









1.7.13

Berdua Saja - Payung Teduh






Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata
Ketika kita berdua
Hanya aku yang bisa bertanya
Mungkinkah kau tahu jawabnya

Malam jadi saksinya
Kita berdua diantara kata
Yang tak terucap
Berharap waktu membawa keberanian
Untuk datang membawa jawaban

Mungkinkah kita ada kesempatan
Ucapkan janji takkan berpisah selamanya

-Payung Teduh, Berdua Saja-