7.7.11

yang selalu ada

“…seperti halnya biji buah harus memecah, agar intinya bisa berhadapan dengan matahari, begitu jugalah kau harus mengenal kepedihan…”

Perpisahan, kepedihan, mungkin diberikan oleh Tuhan agar kita menengok kembali apa yang ada di relung hati, serta keadaan sekeliling kita.

Ketika kita sedang sibuk-sibuknya mengikuti arus, Dia memberikan kita jeda untuk berhenti sejenak. Menengok kembali keadaan, mengecek apakah arus yang kita ikuti, mengikis banyak apa yang kita miliki.

Aku pun begitu. Mungkin kamu juga. Kita akan menyadari bahwa ternyata banyak orang yang dengan ikhlas memperhatikan kita. Kehilangan satu hal, membuat saya sadar bahwa kita masih memiliki banyak hal. Dan mungkin malah lebih bernilai.

Pagi ini, saya ngobrol dengan papap, (hal yang sangat jarang kami lakukan). Berbagi tentang hal-hal yang telah terlalui. Beliau bercerita banyak. Tentang kabar adik dan kakak-kakak saya. Kami sekeluarga jarang sekali bertemu, berkumpul, atau berkomunikasi. Jarang sekali smsan, telponan, yman, atau fesbukan. Rasa sayang satu sama lain, hanya menjadi satu-satunya kepercayaan yang kami miliki.

Papap atau ibu, tak pernah tau apa-apa yang anaknya lakukan. Tidak pernah bertanya, kecuali kami yang bercerita. Termasuk apa yang sedang saya alami. Rasa pedih dan gelisah yang sudah mencapai limit, hanya dapat terucapkan dengan kalimat, “Pap, doain neng, ya…” Beliau lalu bilang, “Itu mah gak pernah kelewat tiap sholat: Semoga diberikan pasangan yang diridhoi Allah, mendapat keturunan yang shaleh dan shalehah, diteguhkan imannya, semoga selalu mendapat kesehatan yang mumpuni, dilancarkan dan dimudahkan segala urusannya…” terharu sekali saya mendengarnya. Rasa gelisah sejak bangun tadi, cukup terobati dengan pembicaraan singkat kami.

Beruntung sekali, saya masih memiliki orang tua yang selalu senantiasa dengan ikhlas mendoakan anaknya. Bagaimanapun keadaannya. Tanpa pamrih. Bahkan tanpa kita minta, mereka tidak pernah berhenti untuk mendoakan orang yang mereka kasihi. Doa menjadi lebih bernilai dan berharga dari apapun. Tidak dapat dibeli oleh uang, dan hanya dapat diberi oleh orang yang memiliki hati yang lapang dan kasih yang tulus.

Saya tahu, rasa pedih yang dirasa, sudah mencapai limit. Topangan saya pun telah runtuh. Ketika asa telah dirasa habis, ternyata orang tua dan sahabat memberikan kita spirit asa dan rasa yang luar biasa. Seburuk apapun sifat yang mereka miliki, sebagai orang tua tetap harus kita kasihi. Sejauh apapun jarak dengan mereka, doa mereka terhadap kita tak akan pernah lekang.

“…Kepedihan adalah obat pahit yang dipergunakan dokter untuk menyembuhkan dirimu yang sakit. Oleh karena itu, percayalah kepada dokter itu, dan minumlah obat itu dalam keheningan dan ketenangan. Sebab tangannya, meskipun berat dan kasar, dibimbing oleh tangan lembut dari yang Tak tampak…” –Almustafa, hal 75, Kahlil Gibran-


2.7.11

Catatan Almustafa 2#






"... Mereka yang sungguh-sungguh baik, tidak akan bertanya kepada yang telanjang,"Mana pakaianmu?"
dan juga tidak bertanya kepada yang tak berumah, "Apa yang terjadi dengan rumahmu?..."


-Almustafa, Kahlil Gibran-








Catatan Almustafa 1#






"... Dan selalu saja cinta tidak menyadari kedalamannya
sebelum saat perpisahan tiba..."


-Almustafa, Kahlil Gibran-

Dijemput Matahari

“huu…huhuhuhu… kamu… kamu jahat sebesar semesta…” isak gadis kecil.

Tubuhnya bergetar. Matanya terpejam mencoba untuk menahan air matanya. Tangannya mengepal memegang angin.

“huu…huhuhuhu… kamu bilang kamu akan terus bermain disini :( huks… ka-kamuu bilang, kita akan terus bersama menjaga padang semesta ini :(” Ia terus menghadap tanah. Tak kuasa ia melihat seorang bocah jerami di hadapannya.

“huuu…huhuhuhu…” gadis kecil terus terisak. Bukan hanya kali ini, teman bermainnya meninggalkan padang semesta. Dan lagi-lagi mengucapkan hal yang sama.

“Kamu tahu, bahwa tempat ini terlalu nyaman untukku, gadis kecil…” ujar bocah jerami sambil tersenyum dengan rambutnya yang selalu acak-acakan seperti habis bangun tidur.

Ia lalu mengusap-usap kepala gadis kecil.

“Kamu pasti akan baik-baik saja :), aku yakin, suatu hari nanti, kamu akan menemukan teman bermain yang akan selalu menemanimu sepanjang masa. Hingga kamu takkan bosan dan takkan khawatir.” Ia berkata pada gadis kecil.

“ta-tapi… aku ingin selalu bermain denganmu… Mendengar dongengmu setiap malam hari, meniup gelembung pelangi setiap pagi, menggambar-gambar padang semesta di siang hari… Bermain hujan, bermain awan, bermain angin… Aku suka itu semua…” rengek gadis kecil.

Bocah jerami hanya tersenyum.

“Aku… aku juga takut dengan tuan kelabuuuu… semenjak kamu ada di sini, dia tidak pernah berani datang lagi… huhuhu… Jangan pergi, jangan ikuti kemauan matahari… huhuhuuhuuu…” isak gadis kecil.

Bocah jerami kembali tersenyum, ia lalu berkata pada gadis kecil, “Aku juga ingin selalu bermain denganmu, gadis kecil. Semuanya serba menyenangkan di sini.” Ia tersenyum memandang sekeliling padang semesta.

“Aku juga menemukan hal-hal yang menakjubkan bersamamu, gadis kecil… Tapi aku tetap harus pergi. Matahari sedang menungguku… Jaga domo untukku ya!” Ia melirik anjing mungil di sampingku.

Gadis kecil menatap bocah jerami. Menangguk. Ia tahu, bahwa matahari sungguh tidak sabar. Dengan perlahan, rupa bocah jerami mulai memudar. tubuhnya bias seiring silau cahaya.

Gadis kecil kembali terpejam. Ia teringat saat pertama kali bocah jerami menyapanya… “cantik…”

Untuk:

Matahari

Jaga jerami baik-baik. Ia sungguh baik karena memberikanku pelangi cantik. Suatu saat, aku ingin mengajaknya bermain lagi. Pastikan ia berselimut agar tak bersin-bersin dan masuk angin ya!

-gadis kecil-