30.6.09
untuknya, dalam mengingat kembali sebuah momen
sebagai pemberian untuk mengingat sebuah momen.
video yang saya buat dengan segala ketidaksempurnaan.
dengan segala kekurangannya yang sengaja saya perlihatkan.
gambarnya tanpa edit sama sekali.
hanya ingin memperlihatkan hasil yang memang sederhana.
walau tak sempurna namun hanya satu-satunya.
dengan perasaan yang juga sederhana.
"selamat!" begitu ucap semesta.
ah, rupanya sudah setahun berlalu.
27.6.09
meng up grade
saya mengakui.
dengan kata-katamu yang memang benar.
aaaaaahhhhh~~~
kenapa tidak mengerti sih.
bukan itu.
hanya saja. saya sedang terbalik.
mencoba berdiri dengan satu tangan.
eh malah terkilir.
sebel.
yuhuuu~~
saatnya merestart lagi.
udah nge hang nih.
prosesnya terlalu lama.
atau memorinya yang terlalu penuh?
sehingga berjalan sangat lambat?
berarti saya mesti segera meng up grade nya.
biar tidak usah selalu memencet si jalan pintas ctrl+alt+del.
berarti mesti meng install ulang dong.
mendownload kembali program-program yang dibutuhkan.
yang benar-benar dibutuhkan. tentunya,
biar tidak memenuhinya lagi.
harus bergerak!!!!
dari citraanmu
ya ampun. entah sejak kapan.
dan aku mulai terganggu dengan citraan mu yang seperti itu.
ayolah. pergi.
hei, matahari! selamat pagi! apa tidurmu nyenyak semalam?
seandainya kamu muncul malam tadi.
ah.
ternyata saya lupa sesuatu.
lupa untuk menutup pintu.
26.6.09
hanya padaMu
Tuhan, saya hanya percaya padaMu.
segala keluh kesah saya.
segala isi hati saya.
segala harapan saya.
makna air mata saya ini.
makna kata-kata saya yang tersendat ini.
saya percaya, atas segala rencanaMu.
serahkan padaMu.
yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
24.6.09
harapan sederhana
AKU INGIN-sapardi djoko damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abuAku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
seorang berkata pada saya, "terus pelihara asa ya". Dia berulang kali mengucapkan hal tersebut pada saya. mungkin, pada masa itu, asa saya sedang sekarat, dan hampir mati. sehingga saya lebih berfikir untuk mengikuti aliran air. namun sekali lagi, dia berkata "PELIHARALAH ASA"
tentu. saya harus berjuang memelihara asa saya tersebut. dengan tulisan-tulisan saya, dengan membangun pikiran saya. jangan sampai Ia menjadi mati dan membusuk. saya harus berjuang dengan spirit-spirit yang saya dapat. jangan sampai saya menyerah dengan semua kondisi yang saya hadapi.
"lihat tukang pembersih jalanan yang terus menjalankan kehidupannya dengan senyuman. ia begitu hidup karena asa yang dimilikinya, walau materi pas-pasan. tapi, lihat pengemudi mobil mewah itu, seperti kuburan di dalamnya, karena asanya telah hilang, padahal materinya mencukupi. bahkan banyak sekali orang yang bunuh diri." dia berkata seperti itu lagi.
dengan segala permasalahan yang cukup hebat datang pada hidup saya, saya pun harus pintar-pintar memelihara asa tersebut. kalaupun saya menangis, kalaupun saya menjerit karena permasalahan tersebut, itu menjadi sebuah loncatan untuk saya ajar bisa lebih kuat menghadapinya. karena saya mempunyai keyakinan tersendiri dengan sesuatu di luar wilayah manusia. setiap manusia mempunyai sumber kekuatan untuk masing-masing. ada yang menjadikannya diri sendiri sebagai sumber kekuatan, atau menjadikan orang lain sebagai sumber kekuatan. itu pilihan. dan kalau kalian melihat saya yang sabar, atau saya yang diam, atau saya yang selalu tersenyum, itu menjadi kekuatan tersendiri untuk saya. begitupun dalam hal 'itu'.
saya pun meyakinkan pada diri saya sendiri. bahwa entah kapan, saya harus yakin, akan ada yang datang. dan entah siapa. dengan bersamanya kami dapat saling melengkapi keberadaan satu sama lain. bukan harapan yang digantung pada orang itu, tapi keberadaannya saja, cukup memenuhi harapan sederhana saya. bukan untuk pamrih akan perasaan, tapi dengan keberadaannya, dapat memberikan nilai lebih pada diri. bukan saling balas membalas dengan suatu perbuatan. tapi, seiring dengan dia ada, maka semuanya akan lebih bernilai. secara manusiawi, saya pun ingin diakui keberadaannya. tapi dalam taraf sewajarnya. bukan untuk memiliki satu sama lain juga. karena kita manusia hanya ciptaanNya, bukan pencipta. dan segalanya adalah milikNya. dan sebagai manusia diberi amanat untuk "menjaga" dan "memelihara". saya bukannya tidak bisa marah. saya bisa marah, tapi untuk itu , saya pun harus dapat "menjaga" marah saya. marah yang memang harus marah. marah yang tidak usah marah. parameternya dari diri saya sendiri.
dan setiap manusia mempunya cara tersendiri untuk menikmati hidupnya. itu semua pilihan. saya pun begitu. kalau kalian menilai saya yang menyakiti diri sendiri, mungkin bagi saya itu bukan tersakiti. mungkin hal-hal yang dapat meyakiti saya ada di jalur lain. entah itu sagat berbeda atau pun sama. yang jelas, semuanya dalam taraf yang "wajar" dan "manusiawi".
keyakinan pada diri sendiri, dan pada sesuatu hal yang di luar wilayah manusia dan tunggal dan tidak ada yang dapat menandingi, adalah sumber kekuatan tersendiri bagi saya.
dari awal, saya tidak banyak menggantungkan harapan pada seseorang. dan bila ada satu hal, yang sederhana dan itupun tidak bersifat wajib. saya hanya menginginkan kejujuran.
"Biarlah Allah yang menjadi penolongmu, biarlah Allah menjadi pelindungmu. dan Dia Maha Mengetahui siapa musuh-musuhmu."
dan saya yakin, ada Dia di sana. dan saya harus banyak bersyukur.
"sesederhana, untuk dapat membangunkan seseorang dari tidurnya lalu membuatkannya secangkir teh atau kopi."
"sesederhana, untuk dapat mengucapkan aku dan kamu diantara kita."
emosi sunyi2#
mencintai dengan sunyi.
marah dengan sunyi.
bahagia dengan sunyi.
sedih dengan sunyi.
mati dengan sunyi.
hidup dengan sunyi.
tembok es
tembok itu menjadi semakin tebal dan kuat.
diri yang didalamnya pun semakin menutup.
di dalam tembok, ada tembok lagi..begitu seterusnya.
hingga kamu, atau siapapun, akan terkecoh, dan sulit memasukinya.
kecuali
................................................................
23.6.09
akhir nya jingga
Kesempatan yang diberikan kepada kita hanyalah berkaitan dengan masalah waktu. Waktu ketika bertemu dengan orang yang kita cintai, waktu ketika kita berada di tempat dan waktu yang tepat, waktu ketika bertemu dengan orang yang membuat kamu tertarik.
Namun, ketika kesempatan itu diberikan pada kita, kita akan dihadapkan dengan suatu pilihan. Bisa seperti, Pilihan untuk memutuskan berkenalan lebih lanjut dengan orang yang membuatmu tertarik. Atau, Pilihan untuk memutuskan mencintai seseorang apapun yang terjadi. Atau kita memilih untuk melarikan diri. Apapun pilihan yang kita ambil, itulah yang menentukan takdir apa yang akan kita peroleh nanti.
Karena tugas manusia bukan menduga apa takdir yang Tuhan tentukan untuk kita. Tapi menentukan bagaimana takdir Tuhan yang bagus untuk kita.
22.6.09
meng-arang
sang penjaga
hujan bulan juni - sapardi djoko damono
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
komposisi : AGS. Arya Dipayana
Album : Hujan Bulan Juni
15.6.09
hujan, kemurnian, dan kelinci kecil.
Hujan membasahi bumi malam ini,
Kelinci putih kecil terbangun dari tidurnya, Telinganya berdiri, begitu mendengar butiran hujan yang menyentuh tanah.
Rasanya, hujan malam ini sedang sendu. si kelinci kecil lalu bertanya pada hujan,
"Kenapa malam ini begitu sendu ketika kamu turun?"
Hujan tersenyum, "Aku sedang membantu Ia yang sedang bersedih."
si Kelinci tidak mengerti, lalu hujan berkata,
"Hakikatku adalah untuk membersihkan, dengan bagian jiwaku, aku ingin membersihkan perasaan Ia yang sedang bersedih"
Kelinci putih kecil itu lalu tersenyum, "Perbuatanmu mulia sekali, Ia yang bersedih tentu tidak akan bersedih lagi, apakah Ia yang bersedih adalah sahabatmu?"
Hujan berkata,"Segala hal yang mengisi semesta ini adalah sahabatku, tapi Ia yang sedang sedih memang sangat berharga"
Kelinci putih kecil itu terharu, "Aku juga ingin membantunya. Dengan nyanyian dan tarianku, aku ingin menghiburnya."
"Terima kasih kelinci putih, tentu Ia akan bahagia mendengarnya"
"Kalau boleh tau, siapakah Ia yang sedang bersedih ?"
Sambil memandang bumi, hujan berkata, "Ia rasa cinta, Ia sedang kesulitan mencari kemurniannya"
dan,
dengan tubuhnya yang seputih salju, si kelinci kecil menari dan bernyanyi bersama hujan yang sedang turun malam ini untuk menghibur Ia yang MURNI...
"semoga kamu bahagia..."bisik kelinci putih kecil itu.
inisisasi pulang sendiri.
saya gak mau terlalu komentar tentang acara Seni Rupa yang satu ini "di tempat yang beginian". takutnya interpretasi yang ditulis berbeda sama yang ditangkap. tapi, ketika kemarin mengamati acara ini, pikiran saya malah terbang ke masa-masa pas saya alami dulu.
Maafkan kepada bayu yang tiba-tiba saya tinggalin gitu aja di studio lukis. saya menghilangkan diri dengan pergi ke Salman buat solat subuh. Berharap satu orang yang bisa saya ajak cerita sampai subuh. tapi, mungkin lain kesempatan deh.
Nikmat banget rasanya kalau bisa mendengar suara adzan subuh. mengawali hari dengan suara-suara jernih yang nyampe di telinga. kalau pas saat tidur, terus terbangun sama suaranya, walaupun samar-samar, saya ngerasa beruntung banget. dan bersyukur. "alhamdulillah"
karena, saya pikir, adzan subuh itukan berkumandang pada waktu orang-orang masih ga sadar, sehingga harus berkorban lebih buat bisa dengerinnya. apalagi, tidur itu kenikmatan luar biasa dirasain oleh makhluk hidup. siapa coba yang ingin diganggu pas lagi ngerasain kenikmatan tidur? gak mau kan. tapi lebih nikmat lagi kalo bisa ngerasain keduanya sekaligus. hehe.
dulu pas saya nge kos saya suka berburu "adzan subuh" dan merasa nyesel kalo ngelewatin suaranya. sekarang sih udah susah tu, karena akhir-akhir ini tidur saya gak teratur. jadinya bablas aja.
mungkin, bagi saya, suara adzan subuh itu, memang yang paling nikmat buat didengerin. ditambah dengan suasana subuh yang tenang dan nyaman. wuih. dasar melankolis! beneran deh. bikin tenang.
setelah dari salman, saya jalan-jalan subuh disekitar kampus. sambil menuju tempat nunggu angkot. dan ternyata angkotnya baru dateng setelah saya tunggu lebih dari setengah jam. hhh... merebahkan diri lah saya setelah itu di kursi yang pertama kali saya liat pas masuk rumah...

11.6.09
tangan-tangan ajaib.
dan usaha demi usaha yang kamu lakukan belum membuahkan hasil,
percayakan saja pada tangan-tangan ajaib. karena hanya Ia yang bisa menolongmu di saat detik-detik di luar kemampuanmu.
-berdoalah-
saya percaya...
7.6.09
tanda pamit bocah lelaki kecil
Anak kecil itu selalu bersemangat ketika bermain layang-layang. Ia kadang tersandung, tapi Ia dapat langsung bangkit lagi untuk berlari kesana kemari memainkan layang-layang. Ia tersenyum lebar, sehingga lesung pipitnya selalu terbit. Ia tak pernah lelah untuk menarik mengulur benang layangnya.
Si kelinci kecil, sering bernyanyi dan menari di dekatnya, dan kelinci cukup senang bernyanyi dan menari di atas tanah yang sama dengan anak kecil itu.
Tapi suatu hari, anak kecil berkata,
"Aku sangat senang kamu menemaniku bermain layang-layang, hei kelinci kecil"
"Tarianmu sangatlah indah. cara meloncatmu sungguh lucu"
"Tapi aku ingin bermain sepak bola dilapangan hijau di negri sebrang. sekarang dan sampai besok, dan besoknya lagi, bila permainan disana lebih menarik mungkin akan seterusnya,"
"Aku ingin membawamu, tapi disana tidak ada makanan untukmu. Aku takut kamu nanti akan kelaparan dan sakit. Maaf ya kelinci kecil"
Anak kecil itu berkata seolah-olah kelinci adalah bagian penting dari permainannya,
Kelinci kecil itu cukup mengerti apa yang anak kecil itu katakan. Tapi Ia hanya bisa diam. Karena Ia tahu, bahasa yang ia gunakan berbeda dengan anak kecil itu, Ia hanya bisa berkata melalui gerakan tariannya.
Melalui gerakan tariannya kelinci kecil berkata,
"Tidak apa-apa, pergilah ke sana, mainkan saja permainan yang ingin kamu mainkan. Aku percaya dengan apa yang kamu pikir itu baik dan menyenangkan untuk kamu. Mungkin kamu akan berpikir bola lebih menyenangkan dari pada layang-layang. Ataupun sebaliknya. Hanya kamu yang mengerti mana yang lebih menyenangkan. Tenang saja, aku di sini percaya atas pilihanmu itu. Karena itu semua akan berakhir menjadi baik untukmu. Aku tidak akan berhenti menari dan bernyanyi karena Tuhan telah memberikan karunia ini padaku. Aku akan terus menari dan bernyanyi sebagai rasa syukur kepada Tuhan. Untuk kamu dan seluruh isi semesta ini. Mungkin kita akan bermain bersama lagi. Bila Tuhan memberikan kesempatan waktu dan tempat yang tepat dan sama untuk Kita."
Dan anak kecil itu tersenyum seolah mengerti gerakan tarian si kelinci. dan Dia pun menghilang dari tanah yang ia pijak.
"teruslah menari dengan indah ya kelinci kecil..."
kelinci putih kecil itu pun menari dan bernyanyi untuk bersyukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan untuk bernyanyi dan menari bersama anak kecil yang telah menginspirasinya mendapat gerakan tarian baru...
"jangan pernah lelah untuk bersyukur..."
dateng lagi!!!
yang ini mah beneran parah...
ampe gak bisa ngomong...
ketemu orang pun males...
males ngajak ngobrol...
pipi agak bengkak...
di pangkal lidah!!!
SARIAWAAAANNNN!!!
bikin emosi ih.
gak bisa makan enak.
huh.
ngajak perang!
konspirasi ama deadline ya?!!!
6.6.09
emosi sunyi.
4.6.09
jadi mau.
saya rutin tiap bulan disuruh ke bank sama ibu, bukan buat nabung, tapi buat ngambil kiriman uang. makanya, bukan menuju teller, tapi ke customer service duluan. dan saya perhatiin kebiasaannya, selalu ngajak kenalan dan salaman, terus berusaha menciptakan dialog...
"dengan siapa?"
"sufty..."
"oke, ada yang bisa saya bantu?"
dan seterusnya,
dialog yang sama,
senyum yang sama...
sebenernya saya salut banget sama mereka. harus selalu senyum dan ramah. hebat. saya bisa gitu gak ya? kata temen saya sih, kalo saya lagi bad mood, selalu keliatan dan ekspresif. iya gitu? saya salut deh sama mba-mba teller dan petugas customer service.
namanya juga melayani.
jadi istri juga kan melayani suami.
ko malah ngomongin ini?
eh,
jadi pengen nyoba jadi petugas teller. hehe...
tugas, tugas, tugas, kalo gede, mau jadi apa?
malah PIPI saya tambah tembem!!!!!
maunya sih nambah bobot ke bagian tubuh yang laen, ko malah pipi duluan yak?
hee...
tugas-tugas itu, ko melototin mulu?
iya, iya, bentar. nulis dulu. pundungan amat sih.
mesti bikin maket.
seminar, studio, prakbeng.
detline tgl 12!
abis itu, pengen menyampah saja ah...
1.6.09
kerumitan sederhana,,,
sungguh , saya tidak ingin mengganggu, saya sedang mencari-cari tulisan yang saya buat dua eh tiga hari yang lalu. tentunya, seperti sahabat saya bilang, dengan proses rumit, tapi malah mengjasilkan yang sederhana, tak apa. saya cukup senag bermain-main dengan hal tersebut. kalau begitu, mari saya aduk-aduk dulu buah pikiran saya yang tertulis kemarin.
Mana? mana? sebentar... sabar.. tidak usah dibawa terlalu serius... untuk tulisan ini pun begitu...
***
tidak, tentu tidak serumit itu.
perasaan ini sebenarnya bersifat sederhana. Ia tumbuh atas karunia dan anugrah dari Tuhan. Tapi kadang manusia membawa semua ini menjadi rumit, ketika Ia bercampur dengan emosi dan pikiran. emosi manusia yang membuat perasaan tersebut tidak menjadi murni lagi. dan pikiran manusia yang membuatnya menjadi serba berlebihan. hingga akhirnya menjadikan perasaan tersebut menjadi tinggi hati dan keliru. dan muncul pihak yang merasa tersakiti.
padahal tidak serumit itu. berfikirlah secara jernih. manusia hanya membutuhkan untuk menengok sedikit lebih dalam ke dalam hatinya. apa kabar Ia disana? tentunya Ia ingin segera keluar dengan pesona kejernihannya dan ketulusannya. ketika jiwamu terasa lapang dan lagi tentram. kamu akan merasakan kenikmatannya dalam mengalami perasaan tersebut. hatimu dan hatinya hanya perlu berbicara satu sama lain dengan pikiran dan emosi yang lagi jernih. tenang... tentram...
Ia begitu sederhana dan lapang. seperti ketika kita mencoba untuk menutup mata dan merasakan kehadiran langit jernih yang begitu luas terbentang di sekeliling kita.
Pilihan yang terbentang dihadapan kita ketika anugrah tersebut diturunkanNya, tentu menjadi titik rupa dari visual perasaan tersebut. Entah memilih untuk menyiraminya hingga Ia tumbuh menjadi subur, atau membiarkannya hingga Ia lama kelamaan layu dan mati.
Itulah. Setiap manusia mempunyai bunga keindahannya masing-masing. jauh di dalam hati. Ia tumbuh dengan murni dan sejuk. Jangan terkecoh dengan bunga-bunga yang tumbuh hanya dipermukaan hati saja. Ia bisa saja menipu dengan keindahannya. ayolah, coba tutup mata, dan rasakan jauh kedalam hati. apa rasa ini harus kita campur dengan segala elemen-elemen yang dapat merusak kemurniannya?
kenapa kita tidak mencoba untuk menyederhanakan saja? karena, Ia tumbuh begitu sederhana dan rendah hati.
cukup dengan ucapan sederhana yang muncul dari dalam hati yang terdalam, dekat dengan nurani.
"Aku cinta kamu"
"Aku juga"
"kalau begitu, ayo kita jalan bersama"
=)





