30.10.10

Problem, apakah kamu itu?


Problem... Apakah seperti main free cell? Pada awalnya menantang, acak-acakan, tidak jelas. Harus disusun satu persatu. Mencari-cari hubungan antara satu kartu dengan kartu lainnya. Susunannya mesti berurutan dari king sampai angka 2. Disusun dengan warna yang saling berlainan. Merah harus menempel pada hitam. Hitam harus menempel pada merah. Tidak boleh sesamanya.

Begitupun dengan hubungan antar makhluk hidup. Kita berlatih mencari solusi yang terbaik. Apabila salah langkah, kita mesti memutar otak kembali. Apabila terlalu jauh melangkah dengan cara yang salah, pilihannya hanya diantara dua: RESIGN atauGAME OVER.

Kalau kita memilih RESIGN, kita harus memulainya dari awal lagi. Begitulah permainan free cell. Namun kadang kita dapat menemukan suatu solusi yang cukup membuat kita kaget sendiri. Dengan berusaha dan berdoa, tiba-tiba secara hebat, kita sudah dapat menyelesaikannya. Sehingga, kartunya pun telah selesai kita susun. Selesai. FINISH.

Dan si komputer akan bertanya lg, "Congragulation,you win! Do you want to play again?"

(sttt... Coba cek tabel statikanya. Berapa kali kita MENANG, KALAH, atau RESIGN?)




29.10.10

Totto-chan dan Kelas Keretanya

Ini dia buku yang saya suka pas jaman-jaman SMA. Saya lupa baca dari mana. Tapi yang jelas, saya baru punya pas kuliahan gitu. Tingkat 3-an kayaknya, karena saat itu saya pamerin ke salah satu sahabat saya.

Buku ini yang membuat saya jadi punya cita-cita pengen punya sebuah sekolah. Buat anak-anak gitu. Karena, Totto-chan, si tokoh buku ini bersekolah di sebuah sekolah yang bikin saya takjub. Totto-chan ini sudah berkali-kali dikeluarin dari sekolah karena tingkahnya yang aneh dan menurut ibu gurunya dia nakal. Mungkin gurunya udah kewalahan sama tingkahnya Totto chan. Salah satu tingkah Totto-chan ini, dia seneng banget main. Main meja, main penghapus, ngobrol sama burung, ngobrol sama pengamen yang lewat di kelasnya. (dan buku ini berdasar kisah nyata, ditulis sama si Totto-chan dewasa)

Dan yang paling buat saya berkesan sama sekolah si Totto-chan ini adalah kelasnya yang berasal dari gerbong kereta. *saya ngebayanginnya aja udah ngerasain asyik banget kayaknya sekolah di sana*. Sampai-sampai saya juga ikutan excited ketika kedatangan gerbong kereta buat kelas baru. Anak-anak, termasuk Totto-chan sampai berkemah cuma buat liat proses pengangkutan gerbongnya. Terus, belum lagi sama pelajaran-pelajarannya. Di sini ada pelajaran "belajar apa yang kamu mau dan suka" trus anak-anaknya ada yang belajar gambar, belajar berhitung, balajar eksperimen. Dan semuanya dilakukan sendiri. Tapi, anak-anak di sana jadi sungguh-sungguh belajarnya.

Kalau makan siang, gurunya bakal nyuruh setiap anak untuk membawa bekal sesuai dengan tema, dan makan di halaman sekolah. *asyikk bangett*. Dan kepala sekolahnya itu keren banget, karena dia sangat menghargai pendapat anak-anak. Bahkan dia nerima Totto-chan untuk sekolah di tempatnya, setelah dia mendengar cerita Totto-chan berjam-jam sampai Totto-chan kehabisan cerita.

Heeuuufff... Pokoknya, kalau saya sekolah di sana, kayaknya saya gak mau lulus-lulus. Hehehehe... abisnya menyenangkan... MAUUU!!

Cuma sedikit *

Harusnya, hari ini saya bekerja. Mengedit, dan mengedit, naskah yang masih mentah. Entah kenapa saya menjadi agak jengkel dengan naskah yang saya baca. *lalu berpikir bahwa penulisnya tidak terbiasa menulis*. Saya berpikir begitu karena naskah yang saya edit itu sangat-sangat tidak enak dibaca. Karena bosan, maka saya lalu berhenti. Berhenti sementara untuk bekerja. *niatnya sih sementara*

Ternyata saya malah tergoda lama. Tergoda sama situs-situs yang muat teman banyak. Saya cek satu persatu. Saya bertemu teman SMA. *bukan bertemu begitu*. Tapi saya hanya lihat-lihat fotonya. Ternyata itu pas jaman-jaman SMA. Dan saya mulai merasa kangen. Kangen sekali. Kangen sama itu jaman SMA. Dan saya merasa bahwa semua itu menjadi berharga.

Saya tergoda yang lain lagi. Seorang sahabat kemarin bercerita, kalau dia sudah punya seseorang. Sebagai sahabat, saya jadi penasaran sama si seseorangnya itu. Dan ternyata di sana, ada sebuah album yang membuat saya terharu. Judulnya "YOU and ME Song". Itu bukan album cinta-cintaan semata. Itu album isinya dia sama seseorangnya, "seseorang" disini berbeda-beda orangnya. Ada dia sama sahabatnya, dia sama temennya, dia sama dosennya, dia sama seseorangnya, dia sama bapaknya, dia sama mantannya, dia sama temennya lagi *ternyata temennya banyak*. Lalu, kenapa saya terharu? itu karena dia ternyata sangat menghargai setiap momen sama seseorangnya. Siapapun itu. Dia tulis di sana tanggal dan tempatnya. Kalau saya ada di salah satu fotonya, saya pasti akan merasa senang sekali. Karena dengan begitu, saya akan diingat dan diabadikan. *saya bukannya berharap diabadikan sama orang ini loh*. Saya cuma ingin kayak gitu juga sama teman-teman saya, sahabat-sahabat saya, saudara-saudara saya juga. Karena saya pikir, momen seperti itu kayaknya akan cepat dilupakan, karena itu harus cepat diabadikan.

Kembali lagi saya tergoda dengan melihat kabar lain. Yakni, "seseorang saya yang tidak menjadi seseorang". Kebetulan dia sudah mempunyai seseorang, sekarang. Dan saya mulai membaca tulisan-tulisan yang diabadikan oleh seseorangnya dari "seseorang saya yang tidak menjadi seseorang" itu. Saya baca tulisan-tulisan dia. Dan hal-hal yang dia tulis itu, cukup banyak mengingatkan saya dengan momen-momen yang saya alami dengan "seseorang saya yang tidak menjadi seseorang". Dan saya kembali terharu. Sangat terharu. Karena ternyata, saya mulai kangen sama momen-momen yang pernah saya alami bersama "seseorang saya yang tidak menjadi seseorang" itu. Dan yang bisa saya ingat saat itu, adalah rasa-rasa senang dan sesal yang terkenang.

Cukup sampai sana saja, di titik sebelum koma yang barusan. Saya harus simpan itu. Simpan dengan erat. Dan saya juga harus segera wudhu. Karena Adzan udah kenceng saya denger.

Udah ya. Ini cuma sedikit... sedikit, teringat :)

20.10.10

Fantasinya, Manjali dan Cakrabirawa

Bukunya Ayu Utami yang kesekian kalinya saya baca, selalu membawa pikiran saya menjelajahi fantasi-fantasi magis.

Ada beberapa hal yang nyangkut-nyangkut di pikiran setelah membaca ini, (selain pasukan Cakrabirawa dan Gerakan 30 September) salah satunya yakni tentang legenda Rama dan Sita (sepakat sama apa yang ditulisnya)

"Mungkin aja Rahwana memang seorang kesatria mencintai dengan tulus dan menjaga kesucian Dewi Sita..."

Setelah Dewi Sita ditahan sama Rahwana selama 12 Tahun, dia masih suci dan lulus Uji Pembakaran bahkan Dewi Sita tetep baik-baik aja (mungkin pas masa ditahan itu, dia malah selalu dirawat dan dikasihi). Kalau dia (Rahwana) memang seperti itu, saya VOTE buat dia deh. hehe...
Ngomong-ngomong ternyata namanya emang Sita (dari bahasa Sanskerta, toh) , kalo di Indonesia, dikenal dengan Shinta (dari Bahasa Jawa)

*kayaknya saya mulai kejebak sama pemikiran buku ini... hmmm... GREAT BOOKS! kamu akan naik tingkat ujian wawasan setelah membaca buku ini. (tapi saya lebih suka sama BILANGAN FU nya, hehe...) dan saya sangat PENASARAN sama tokoh PARANG JATI (yang menawan hati)!


" Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apakah kita tetap percaya bahwa itu tidak bermakna?"
-Ayu Utami, Manjali dan Cakrabirawa-

Chill Girl

Ditemukan Kepribadian WOW kamu
Kamu adalah:
Chill Girl
Ini adalah motif Chill Girl kamu.
Hey hey, bagi kamu hidup itu sederhana dan santai. Kamu ngga akan meributkan yang kecil-kecil dan heran kenapa orang menghabiskan banyak uang untuk sepatu atau tas. Kamu easygoing dan tenang, dengan santai dan nyaman, itulah mantra kamu. Teman dan pertemanan sangat penting bagi kamu. Mungkin kamu punya beberapa masalah tapi hampir semua orang juga punya kan?

dapet dari sini

7.10.10

(Aku dan Kamu) Tinggal Ampas

Seperti permen karet yang enak dikunyah. Terasa manis dan empuk. Terus dikunyah sampai hambar. Tak boleh sampai tertelan. Karena harus dibuang.
Ampas.

http://milk-cream.deviantart.com/art/Bubble-gum-56964143

Atau seperti secangkir kopi. Harum. Menyegarkan. Membuat rileks. Pengisi waktu senggang nan santai. Tapi tak boleh diminum sampai habis. Harus disisakan. Pahit.
Ampas.

Atau seperti rokok. Dihisap perlahan. Nikmat. Habis makan, habis mandi, habis nonton, atau bahkan habis bercinta (mungkin). Tapi, tetap tak boleh sampai dihisap habis. Sepat.
Ampas.

"Kita" meninggalkan sisa.
Diujung rasa hambar, pahit, sepat, bahkan tak enak.
Tapi bukankah itu wajar?
Meninggalkan ampas.
Tak terpakai.
Lalu dibuang.
Jauh?

Kesekian Lamanya

Lagi-lagi begini.
Ini sudah malam kesekian kalinya.
Aku masih terperangkap dengan teks-teks yang berjajar di depan mataku dan dalam otakku.
Tak pernah berkembang. Tak pernah berlanjut.

Lagi-lagi begini.
Ini sudah pertemuan kesekian kalinya.
Aku selalu terperangkap dengan kediaman antara waktu dan dirimu.
Tak pernah berkembang. Tak pernah berlanjut.

Lagi-lagi begini.
Ini sudah cerita kesekian kalinya.
Aku lagi terperangkap dengan alur rasa dalam lubang hitam pekat tak berdasar.
Tak pernah berkembang. Tak pernah berlanjut.

Lagi-lagi begini.
Ini sudah penantian kesekian kalinya.
Aku kembali terperangkap dengan asa panjang tanpa batas.
Tak pernah berkembang. Tak pernah berlanjut.

Lagi-lagi begini.
Kesekian kalinya.
Terperangkap.
Tak berkembang.
Tak berlanjut.

3.10.10

Sampai saat ini pun, kau tetap begitu.

"Perkenalkan, aku asing."
6 tahun lalu kau berkata begitu. Tapi tetap saja, walau sudah kenal lama, kau tetap misteri.
"Bukan, aku bukan misteri. Aku ini teka-teki." ucapmu.
Ah, kau itu pandai berkelit. Ini hanya permasalahan waktu atas munculnya jawaban. Mungkin nanti, kau ternyata adalah teka-teki. Tapi sekarang, kau ini tetap misteri.
"Maaf, sampai sekarang aku tak mengenalimu." Aku berkata begitu.

26.9.10

“…tapi aku tak suka keabadian…”

Apa itu “Taman dengan sejuta keindahan?”

Katanya, disana kamu bisa menghilangkan rasa sedihmu. Kamu tidak perlu khawatir dengan apa-apa yang kamu tinggalkan di bawah sana. Ayah, ibu, kakak, adik, orang tercinta (kalau-kalau ada), sahabat, bahkan mungkin orang yang membencimu (kamu tahu bahwa kamu tak pernah membenci seseorang dengan sepenuh hatimu walaupun ia pernah sampai dalam menyakitimu).

“Kamu tidak akan pernah muram disini.” Begitu katanya.

Kamu tak usah menangis diam-diam lagi karena caci maki ibumu yang kamu dengar setiap hari, kamu tidak usah khawatir lagi pada ayahmu yang sudah senja, kamu akan bahagia di sini walau tanpa sahabatmu, kamu tidak usah terlalu banyak berpikir tentang apa dan siapa cinta sejatimu, kamu tidak usah peduli lagi tentang apa kata orang terhadapmu, dan kamu tak usah berpura-pura lagi untuk tidak membenci seseorang bahkan dia yang tega menyakitimu.

“Bukankah tempat ini yang kamu inginkan?”

"..."


2.7.10

Setelah ini, lalu apa?

”Dinyatakan lulus...” gitu kada dosen saya lusa kemarin.
Seneng? Pastilah. Ngerasa lega dan lepas beban dari kuliah.
Bangga? Ya kalo engga, ga mungkin papap langsung meluk pas bukain pintu sambil cium pipi kiri dan kanan.
Cuma, perasaan yang paling besar sekarang, yaaah itu... agak sedikit was-was sekarang. Takut.
Takut sama kehidupan nyata yang benar-benar dirasa nyata. Mesti kerja, buat hidup dan keluarga. Ga ada yang bisa ditolelir lagi. Kamu kerja buruk, ya out... Ngeri.
Tambahan lagi, rasanya juga belum rela aja untuk ninggalin rutinitas ke kampus buat sekedar ketemu dan ngobrol sama temen-temen. Belum rela kehilangan momen bareng-bareng sama yang lain. Karena bayangan nanti bakal kerasa sendiri-sendiri. Tapi emang harus sendiri sih. Biar bisa tanggung jawab sama semua yang dilakukan. Nerima konsekuensi sama resiko. Ckck... makin gak boleh sembarangan buat nentuin pilihan.
Belum lagi, orang tua menuntut ini –itu, demi keluarga dan saudara yang lebih muda. Makin menjadi deh rasa takutnya.
Heuuummm...
Rasanya jadi kebayang lagu iwan fals deh...

Kata Pengantar

Beribu ucapan syukur dipanjatkan hanya untukNya, serta ucapan terima kasih yang tak terkira untuk kalian.

Kalian yang telah mewarnai hari-hari saya di tahun terakhir perkuliahan:

· Mama&Papap dengan segala pertengkaran dan kepeduliannya,

· Para tukang bangunan yang udah inspeksi seluruh area rumah di saat saya sedang skripsi sampe-sampe saya dan papap harus giliran tidur di atas meja tapi tetep buat saya semangat mandang rumah karena dibuatin tampilan dan studio baru,

· Kakak2 dan adik nun jauh di mata,

· dosen pembimbing yang rela membimbing saya dengan omelan-omelan yang bikin saya dendam buat beresin skripsi dengan dahsyat dan cepat,

· Bu Evi, psikolog sekaligus sahabat serta ibu kedua yang diandalkan dan selalu memberi support baik moril maupun materil,

· Annisa Setiawati, sahabat setia yang selalu ada untuk saling berbagi asa dan rasa.

· Rian & Angga (riangga), atas hari dan petualangan yang dilewati secara bersama suka dan duka.

· Anak-anak Kampiun, yang rela menerima (gak ya?heu...) saya campurin, aduk-aduk, tempel-tempel, sekaligus sebagai keluarga kedua, yang senantiasa mengisi hari-hari dengan obrolan, banyolan, plus sindiran maut juga...

· Penghuni ruang alternatif grafis, Penghuni kavling di studio lukis (ger & ion), penghuni kos-kosan (niest, lyra, maya) yang sudah mau membagi ruang dan jadi rumah kedua bagi saya kalo gak betah di studio dan di rumah sendiri.

· LPKM dan IOM, yang udah mau ngasih saya bantuan SPP dari awal smester ampe tahun terakhir kuliah.

· Dongeng-dongeng si gadis kecil yang dijadikan pelampiasan dan tempat menumbuhkan harapan-harapan yang gak mungkin bisa diharap di dunia nyata.

· Pendamping yang ditunggu-tunggu tapi belum dateng juga, (ngelatih sabar dan berserah ini mah).

· Dan masih banyak lagi...

love you guys...

And... this is the beginning...

16.6.10

Lepas atulah...

Apaan NIH????

duri-duri bikin nyeri.
gaksukagaksukagaksuka.
pengen...
JAUH.Ngilang.
tapi gak mungkin.
harus gitu?

31.5.10

Di Restoran

Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput -
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu di tengah sungai terjal yang deras -

kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.

Sapardi Djoko Damono (1989)
Hujan Bulan Juni

26.5.10

"Hati mempunyai alasan-alasan yang tidak dikenal oleh pikiran"

(YB.Mangunwijaya-Manusia,pascamodern,semesta,dan Tuhan. Hal.221)

19.5.10

Yang Diterbangkan Balon Kuning


Gelap gulita. Ah, rupanya mati lampu. Sedang musimnya pemadaman listrik di pelosok kota. Pertanda energi semakin menurun hingga harus diperhitungkan. Kali ini giliran rumahku. Cat minyak pada kanvas yang menggantung di dinding itu, masih belum memperlihatkan bentuk. Padahal esok atau lusa harus sudah kuserahkan pada penilai. Hmmm… "Harus bersabar", kata ibuku, menunggu penguasa cahaya malam untuk dapat dihidupkan kembali.

Suasana gelap seperti ini paling pandai dalam mengusik hati. Berkas-berkas yang tersembunyi di padang ilalang, sedikit menyibakkan diri. Kali ini ada kamu. Si beruang yang hobi memakan bambu. Dengan lingkar mata hitam bulat seperti selalu bergadang setiap malam. Padahal, aku tahu, kerjaanmu hanya makan dan tidur. Makannya badanmu itu gemuk dan empuk.

Teringat kamu berkisah tentang putri berambut emas. Bahwa yang tuluslah yang mampu melihat kilau emasnya. Setelah bercerita itu, kamu malah menangis dengan hebat. Karena aku. Itu pengakuanmu dulu. Layaknya jam pasir yang dibalikkan. Sekarang giliranku yang menangis di dalam gelap karena mu. Seperti kali ini dan waktu gelap sebelumnya.

Aku menyesal terlambat datang ke rumahmu yang hangat. Di mana kamu selalu menyiapkan sofa empuk, bantal, dan secangkir coklat bila aku datang. Rasanya rumahku tidak sehangat ini. Namun, aku baru menyadari itu saat rumahmu mulai diterbangkan balon-balon raksasa berwarna kuning. Tapi aku, malah sibuk dengan menari di padang semesta untuk menarik naga. Ck...Ck...

Semakin tinggi rumahmu terbang semakin kecil dilihatku di angkasa, hingga hanya terlihat setitik sinar terang karena kilau balon kuningnya.

“Pluk…” ada sesuatu terjatuh dan tergeletak disamping kakiku. Sebutir bola embun. Pemberianmu dari jauh hari, sebagai momente pelepasan. Pandanganku mulai nanar ketika membaca tulisan dalam bola embun itu, “SEMESTA…”

Kapan kamu kembali, rumah hangat? Aku ingin coklat buatanmu yang kuminum di atas sofa empuk dengan bantal indah. Aku ingin mendengar ceritamu yang membuatku hangat dan entah apa artinya itu.

Yang aku tahu, kamu tak bisa kembali, mungkin karena gas balonmu sudah habis lalu mendarat di taman biji kenari. Dan aku, (tak boleh) menantimu.

7.4.10

Tiga sajak kecil

/1/
Pada suatu pagi hari
seorang gadis kecil
mengendarai selembar daun
meniti berkas-berkas cahaya
"Mau ke mana, Wak?"
"Ke Selatan situ."
"Mau apa, Wak?"
"Menangkap kupu-kupu."

/2/
Pada suatu siang hari
seorang gadis kecil
belajar menggunting kertas,
gorden, dan taplak meja;
"Guntingan-guntingan ini
indah sekali, akan kujahit
jadi perca merah, hijau, dan biru
bahan baju untuk Ibu."

/3/
Pada suatu malam hari
seorang gadis kecil
menodong ibunya membaca cerita
nina-bobok sebelum tidur
"Malam ini Puteri Salju,
kemarin Bawang Putih,
besok Sinderela, ya Bu
biar Pangeran datang menjemputku."

-Sapardi Djoko Damono-
Ayat-ayat Api

11.3.10

Pengabadian Lokasi Pandang


Tetep aja gak bisa bohong... saya emang suka...
INDAH BANGET!!!
Langit jingganya langsung dijadiin background desktop. hehe.

Memulai Hari dengan Pagi

Kayaknya untuk menjadi manusia berubah pun harus ada momen dan ritualnya yah.
Kemarin, saya dan sahabat dekat saya baru menyadari kalau apa yang kita hadapi hari itu terasa menjadi lebih baik bila kita memulai hari dengan baik. "Kita
mah kayak tradisional pisan, untuk melakukan sesuatu mesti ada ritual-ritualnya." Iya. Bener. Saya dari kemarin juga baru ngerasain pengaruhnya "cara memulai hari" dengan hari yang kita jalankan saat itu.
Kami jadi percaya kalo kualitas hari itu terletak, kapan waktu kita sholat subuh. Kalo telat dan kesiangan, rasanya jadi malas dan gak jelas. Tapi kalo berusaha lebih tepat waktu, jadinya lebih menyegarkan. heu. Sepakat dah. Saya kangen banget ngedenger azan subuh. Kayaknya untung-untungan aja denger azan subuh pas lagi tidur. Apalagi kalo sampe kebangun. Rasanya nikmat. Ngelawan rasa malesnya itu loh. Beuh.
Setelah sholat subuh itu, saya pun mulai punya satu doa tetap yang harus saya lakukan untuk memulai hari itu. Doa untuk saya, dan orang-orang yang akan saya temui hari itu. Semoga diaminin juga deh sama malaikat. hehe. Untuk momen perubahan yang gak boleh ditunda-tunda lagi.

"limpahkan kami rahmat dan kasih sayangMu, Amin"

Charger Full.

Hari Minggu kemarin, saya benar-benar sedang di puncak kelabilan. Entah karena banyak yang sedang saya pikirkan atau deg-degan mau sidang, sehingga 3 minggu ini saya menjadi orang yang super sensitif dengan kata-kata dan perilaku orang-orang disekitar saya. PARAH.
Sulit komunikasi sama orang, histeris gak jelas. Membohongi perasaan diri sendiri serta orang lain itu seperti udah jadi ahli. "Duh, suf, itu buruk. Gak semestinya manjain perasaan-perasaan gak jelas gitu." OKE... saya harus berubah, jangan terlalu melambungkan mood. "ih...nanti kalo gak ditumpahin, bakal kena semua, trus orang-orang pada takut, nanti gak ada temen..." tuh kan, pikirannya udah mulai berlebihan. STOP. Waktunya mencharger diri...
bangun.
matiin hp.
sarapan.
nulis.
baca komik.
baca mangascan.
baca novel.
baca dongeng.
denger musik yang kenceng.
nulis lagi.
ngeliatin si kura-kura.
jalan-jalan sore.
makan bakso.
luluran.
tidur.

SENYUM DAN SEMANGAT KEMBALI.
lupakan hal-hal yang gak penting yang jadi duri.

9.3.10

Simsalabim....DATANG!!

Mereka yang memilih, Ia yang menentukan.

Dalam Stasiun Merah ini aku masih berdiri. Gerbong kereta yang terlewat satu demi satu, begitu cepat melaju. Masih seperti tahun-tahun sebelumnya. Kereta disini hanya lewat dan berhenti sebentar untuk mengangkut penumpang pilihannya.

Hari kemarin, baru ada seseorang turun dari sebuah gerbong kereta yang cukup mewah sepertinya, namun keesokannya, dengan cepat ia sudah menaiki kembali sebuah kereta yang ditentukan. Dengan kereta sedikit lebih usang. Tapi wajahnya terlihat begitu berbinar. Aku tak tahu apa artinya. Mungkin pura-pura tak ingin tahu karena iri dengan ekspresi yang ia miliki. Entah.

Aku masih saja berdiri disini. Mengalami sejak stasiun ini kosong, hingga stasiun ini penuh dengan sesak. Aku disini, mengamati pergerakan. Ada orang yang sering naik turun sampai orang yang hanya sekali aku lihat, dan cukup lama tidak kembali. Mungkin tidak akan pernah kembali dengan kereta yang ia tumpangi.

Jangan kira aku tak punya cerita, aku sudah pernah menaiki beberapa kereta. Yang pertama, ruangannya sangat sederhana, mungkin ini yang disebut gerbong untuk kelas ekonomi, tapi di sana hangat. Walau minim perabotan, Aku merasa nyaman. Aku belajar banyak di gerbong ini. Tentang sebuah kesederhanaan. Tentu saja dalam satu kereta tidak hanya ada satu gerbong, tergantung. Ada gerbong kepala, gerbong dapur dan makanan, gerbong pertama, kedua, dan selanjutnya, sampai berapa banyak gerbong itu diciptakan. Yang pertama ini ada empat gerbong tambahan. Aku paling suka di gerbong yang terakhir, walaupun pertama kali aku dipilih oleh gerbong yang ketiga, yang keempat ini lebih menyenangkan. Aku bisa bercerita banyak oleh penghuninya. Seperi kakak perempuanku. Tapi sayang karena aku dipilih gerbong yang ketiga maka, ketika tidak merasa nyaman, aku harus keluar dari kereta yang satu itu.

Lalu aku kembali menunggu di stasiun. Kereta pilihan selanjutnya datang, awalnya aku bingung, karena ada dua kereta datang saling berurutan, tapi aku tetap pilih kereta yang lebih sederhana. Kereta ini punya dua gerbong tambahan. Tapi sayang, aku tak sempat menengok dapur dan gerbong kepalanya,atau gerbang yang pertama, aku hanya diperbolehkan berada di gerbong yang terakhir, gerbong yang memilihku. Setelah beberapa lama, penghuninya bilang, aku salah naik kereta. Bukan kereta ini seharusnya yang aku naiki. Aku bersedih cukup lama. Karena aku kira, aku akan terbawa kereta itu sampai akhir perjalanan. Aku kembali lagi ke Stasiun Merah.

Setelah itu ada beberapa kereta yang berhenti, ia memperbolehkan aku masuk, tapi aku tidak diangkutnya, “hanya boleh melihat-lihat” katanya, mungkin penghuninya takut aku begitu ceroboh sehingga memecahkan barang-barang di dalamnya. Hmmm… ada juga kereta yang sering berhenti, pintunya selalu terbuka, tapi sayang, di dalamnya terlalu sesak, dan banyak orang, sehingga aku takut, kalau-kalau aku akan sulit bernapas, tapi rasanya aku tergoda dengan ruangnya yang begitu nyaman dan hangat, penghuninya begitu ramah, malah aku diperbolehkan masuk gerbang pertama hingga yang terakhir, tapi tetap saja aku merasa takut kalau-kalau ia hanya berhenti sebentar dan aku dikembalikan dengan cepat. Padahal aku berharap besar pada perjalanannya yang begitu mengasyikkan dan tak terlupakan. Mungkin disini bukan aku yang menentukan, tapi aku yang ditentukan. Aturan disini agak rumit. Walau sekarang, kereta tersebut sudah melaju kencang, entah kemana. Semoga saja sampai akhir, dan aku turut berdoa untuk kelancaran perjalanannya.

Kereta ketiga yang datang juga sederhana, gerbong tambahan kedua yang memilihku, rasanya setahun yang lalu kereta ini juga pernah membukakan pintunya untukku, tapi aku menolak, dengan alasan rasa yang tak pantas untuk dapat menaikinya. Tapi rupanya kali ini aku beranikan diri, sebenarnya aku hanya ingin melihat-lihat dulu, tapi keretanya melaju dengan cepat, sehingga Stasiun Merah itu terpaksa dengan cepat aku tinggalkan. Tidak berlangsung lama aku menaiki kereta ini. Rasanya aku salah naik kereta. Hingga pada akhirnya aku kembali ke stasiun yang pertama. Stasiun Merah. Dan seperti biasa menanti dan menunggu kereta selanjutnya untuk dapat berharap melaju sampai perjalanan stasiun akhir.

Tidak adakah tempat duduk untuk menunggu?

Ah, terima kasih pak kepala stasiun. Sudah lama kakiku pegal karena berdiri menunggu cukup lama.