15.9.08

Menjelang bulan Ramadhan 10 tahun lalu

"praaaanngggg..."
suara pecahan kaca membangunkan perempuan kecil itu. Belum genap sepuluh tahun anak umur anak itu. Dia bingung. Karena setengah sadar dia mendengar suara tersebut. Dia kira, ada tabrakan di depan rumahnya. Dia berusaha mencari tau. Ketika dia berjalan ke arah ruang tamu, ternyata dia mendapati jendela ruang tamunya yang tidak bertralis itu pecah.
Lalu, dia mendengar ada orang yang berteriak "Cepat, buka pintunya! kalo tidak, saya Tembak!"
Namun, karena dia masih kecil, dia tidak begitu mengerti apa yang didengarnya. kemudian, dia mendapati bapaknya yang sudah uzur itu dipelintir tangannya oleh seorang laki-laki, dan dibelakang bapaknya itu, ikut sekelompok laki-laki yang mukanya setengah ditutup.
Tapi tetap saja, anak kecil itu masih belum mengerti keadaan yang sedang terjadi. sampai seorang laki-laki datang kehadapannya, sambil memegang golok yang diacungkan ke mukanya.
"Cepat! masuk kamar!" Teriak laki-laki itu, perempuan kecil itu memperhatikan wajah laki-laki yang sedang mencoba menutupi mukanya dengan sehelai kain sapu tangan. Sapu tangannya jatuh. Dia melihat muka laki-laki itu. Putih. Dengan mata yang agak sipit.
"capat!masuk kamar!" ulang laki-laki itu.
Anak kecil itu menurut. dan lagi-lagi berusaha mencerna itu semua.
Kakak tirinya berteriak "apa-apaan ini?".
Ibunya entah ada dimana.
Sedangkan sekelompok laki-laki yang tak dikenal itu membangunkan seisi rumah dengan kasar. Menendang-nendang. Dan menyuruh orang seisi rumah untuk masuk kamar itu. Dua kakak laki-lakinya hanya bisa berdiam diri dan menuruti kemauan orang-orang itu. Adik laki-lakinya juga ikut masuk kamar. dan hanya bisa diam. Mungkin dia juga berusaha untuk mengerti keadaan saat itu.
Dia mendengar ayahnya berteriak-teriak " Allahuakbar!Allahuakbar!"
Entah apa yang dilakuakan orang-orang itu terhadap bapaknya. Karena anak kecil itu tidak bisa melihat bapaknya yang sedang di ruangan lain. Yang ternyata sedang diinjak punggungnya.
"Tolong!jangan apa-apakan anak saya!" mohon bapaknya itu.
"Diam!" teriak laki-laki yang sedang bersama bapaknya.
lalu ada seseorang yang masuk kamar dan berteriak.
"Mana uangnya?!Mana Uangnya?!" teriak orang itu.
"Kami gak punya uang! Uang apa?! Silakan kalian cari sendiri! Kami ini miskin! Kalian salah kesini!" teriak kakak-kakaknya si perempuan kecil itu.
"ahhhh!!cepat kasih saya kunci lemarinya!"teriak lagi orang itu. Tapi karena dia kehabisan waktu, maka dia tidak berbicara lagi.
Sekelompok laki-laki itu mulai mengangkut barang-barang yang dia temukan di ruang keluarga dan di kamar kakak-kakaknya.
"Ampun...ampun..lepaskan saya...!sakiiitt...Allahuakbar"Teriakan bapaknya terdengar lagi.
"Berisik!sudah saya bilang, Diam!kalo ngga saya siksa anak kamu!"ancam laki-laki itu.
"Tolong,jangan siksa anak saya...iya...saya diam!Allahuakbar!"
"Sudah saya bilang diam!"teriak laki-laki itu.
Entah apa yang dilakukan sekelompok laki-laki itu di ruang keluarga.
Akhirnya, setelah mereka selesai dengan urusannya, sang bapak dimasukkan juga ke dalam kamar.
"aduuhh...aduh..."rintih bapak itu.
"iya..iya diam...!"kata laki-laki yang membawanya.
Perempuan kecil itu hanya bisa menonton. Masih belum mengerti. dan hanya bisa berpandangan dengan adik laki-lakinya, yang lebih muda setahun itu.
"Allahuakbar!"bapak itu berteriak setelah kelompok orang-orang itu mulai tidak ada. bapak itu berlari keluar dan berusaha mengejar orang-orang itu. Disusul oleh kakak-kakaknya.
Anak kecil itu akhirnya sadar dan menangis, karena shock.
"kami telah dirampok....." begitu katanya.
Dia menangis bersama adiknya dan tidak beranjak sedikitpun di dalam kamar...
dan dia hanya bisa berucap...
"ini semua salah saya...karena saya lupa shalat isya..."
begitulah. Perempuan kecil itu mengira semua yang terjadi malam itu, adalah kesalahannya, karena dia lupa shalat isya.



Itulah keluarga kami. Menjelang bulan Ramadhan sepuluh tahun yang lalu, keluarga kami dirampok. Hanya dalam waktu 15 menit.
Pada masa itu, semua serba susah. Masa krisis moneter. Dan kriminalitas meningkat saat itu.

keluarga kami sempat hidup tanpa TV selama 1 tahun lamanya.
KOmputer, printer, setrikaan, jam tangan, dll. tidak pernah kembali sejak saat itu. (iyalah,namanya juga dirampok)

Seminggu setelah itu, terjadi perampokan lagi di Bandung, pada peristiwa itu, anggota keluarganya ada yang dibunuh karena melawan.

Dan satu bulan kemudian, kami dapat kabar dari polisi, bahwa salah satu perampoknya, mati tertembak.

MUSUH TERBESAR SAYA

bisa bikin saya males ngomong seharian.
suka membuat orang-orang jadi salah paham sama saya.
gara-garanya, saya dibilang judes, dan cemberut terus.
gara-garanya juga, saya jadi males makan.
terus, gara-garanya juga, saya selalu merasa tersiksa pas bangun tidur.
kerasa sakit.
kerasa linu.
sampai-sampai gigi juga ikutan linu.
sebel.
pengen ngejauh aja.
pengen ga kenal lagi.

dasar SARIAWAN!
SELALU DATENG TERUS!

deuh...susah ngomong...periihh...huhu.
saya benar-benar menyerah,kalo lagi sariawan.

14.9.08

masa itu.

baca blognya orang-orang, termasuk satu bocah TPB. wew... jadi inget masa lalu, pas masih jadi ketua wisudaan. jadi pengen ketawa-ketawa nih.
presentasi ampe tengah malem, nginep dikosan temen, kerja properti ampe subuh, tidur diparkiran TPB, kumpul di tempat yang jadi base camp. fiuh.
Ternyata saya begitu merindukan masa-masa itu.
masa pencarian, masa pembentukan.
menyenangkan kalo diinget-inget.

Seni Rupa, seni rupa...
HEBAT!

13.9.08

Bersahabat saja.

Ternyata, begini ya rasanya, kalo ada orang yang mau mengakui secara jujur, bahwa dia suka sama kita. Jadi bingung, ketika ditanya dua pilihan, iya, dan tidak. Kenapa bingung ya? karena, menurut saya, untuk membina suatu komitmen itu mesti dipikirin (ga asal, langsung embat aja karena butuh), apalagi kalo kita kenal baik sama orangnya. Untuk memakai kata 'pacaran' aja, saya harus mikir beribu kali. (Terlepas dari masa lalu yang saya alami ya!). Saya hanya tidak mau menjadi orang yang 'asal', karena ketika kita memutuskan sesuatu, kita benar-benar harus konsisten dengan apa yang kita putuskan. Bukannya saya ga suka sama orang ini, saya beneran nyaman sama orang ini. (dan orang-orang dalam hidup saya, punya peranan masing-masing dalam kehidupan saya), mereka menjadi 'sesuatu' bagi saya. Tapi untuk memutuskan 'pacaran' saya masih ragu.
Pacaran menurut saya, image yang saya bayangkan adalah, hubungan disertai dengan sentuhan fisik ditambah hasrat. (tolong bedakan dengan sentuhan fisik biasa tanpa hasrat, seperti salaman, cas, dll) Ga bisa dipungkiri, sealim-alimnya orang, ketika cewe sama cowo disatuin dengan sebuah perasaan, pasti ada keinginan untuk menyentuh. Apalagi kalo dikuatkan dengan istilah 'pacaran'. udah deh. Bablas aja. Belajar dari pengalaman masa lalu nih, emang susah banget. Kedengerannya emang sok suci ya. Terserah sih. Tapi, yang ingin saya lakukan sekarang ini adalah "menjaga". Ini semua terlepas dari konteks agama ya. Soalnya, yang saya kejar disini bukan hasratnya, tapi perasaan sayangnya. dalam konteks pacaran, si perasaan sayang itu kadang berubah menjadi hasrat. (memang kedengeran naif, kalo mengharapkan perasaan sayang yang murni) Saya juga tidak memungkiri, bahwa setiap manusia itu memang mempunyai hasrat. Justru itulah manusia. Saya akui, saya juga manusia yang tidak terlepas dari hasrat, makanya, karena saya tau itu, tapi saya gak ingin hasrat itu mengalahkan hal-hal lainnya. Saya beneran ingin "Menjaga" hasrat tersebut. Bukan untuk "menghilangkan" ya (karena itu gak mungkin). Saya nulis kayak gini juga, justru karena saya pernah mengalami, tentang konteks pacaran tadi. Dan itu benar-benar saya jadikan pelajaran untuk saya kedepannya.
Tapi gimana caranya kalo kita memang mempunyai perasaan terhadap seseorang?
Bagi saya, sangat manusiawi kalo kita mempunya perasaan terhadap seseorang, saya juga seperti itu, ketika saya memang menyukai seseorang, saya mengungkapkannya dengan cara saya sendiri. Tergantung bagaimana sifat dan karakter orang yang kita hadapi. Tapi tidak dalam konteks "pacaran" itu sendiri. Susah sih. Emang agak ribet. Dan membutuhkan suatu keberanian yang lebih.
Pernah, saya tertarik dengan seseorang, beneran, "tertarik", kita memang dekat, saya juga tidak memungkiri, bahwa saya memang punya harapan-harapan pada orang itu. Dan menurut saya, wajar saja, kalo saya akhirnya mengakui, bahwa saya tertarik padanya. Dan ingin mengenal lebih jauh lagi, melihat kelebihan dan kekurangan nya (walaupun kata sahabat saya, kalau kita sayang sama seseorang, pasti terlihat sempurna) yah apapun itu. Sampai kita sendiri memutuskan suatu batasan, untuk diri kita sendiri loh. bukan untuk orang lain. Batasan, sejauh mana kita mesti mengenal orang itu. dan batasan itu, kita sendiri yang membuatnya. Untuk diri kita sendiri.

Nah, solusinya, kejujuran pada diri sendiri itu penting. Dan saya tekankan, bahwa kejujuran diatas segalanya, dan selalu membawa kebaikan, bila kita mendapatkan punishment dari kejujuran yang kita lakukan, berarti, pada letak penyampaiannya lah yang kurang baik.

Lho? Di mana sih nyambungnya? kejujuran sama yang tadi saya bahas?

jadi, untuk saya, bagi saya, sekali lagi loh, ini pembenaran saya dan untuk saya ya...
Pengungkapan rasa sayang itu penting. (syaratnya mesti udah mengenal pribadi satu sama lain ya) Dan mencari jalinan hubungan lain yang lebih terjaga. Terlepas dari hubungan seperti 'pacaran'. apapun itu namanya. Karena saya yakin satu hal, Semuanya sudah ada. Tinggal kita "memilih".

Dan untuk masa sekarang, saya lebih milih judul itu.

Tokoh Masa Kecil

kemarin,sahabat saya bertanya, waktu kecil, mememerankan tokoh sebagai apa sih?konon,pikiran kita waktu kecil itu mempengaruhi pas kita dewasa, contohnya, bapaknya sewaktu kecil, menganggap bahwa dia adalah seorang Rambo, makanya pas dewasa, dia suka banget fitness buat ngebentuk badannya, sedangkan sahabat saya itu, sewaktu kecil, menganggap dirinya sebagai preman, makanya pada saat beranjak dewasa, dia suka banget ngajak orang berantem, sedangkan saya?
hehe...
saya ga pernah berpikiran untuk menjadi tokoh apapun. Dulu, saya beranggapan, bahwa saya adalah tokoh utama dunia ini. Selain saya, orang lain hanyalah pemeran pendukung untuk hidup saya. Saya berpikir, bahwa masing-masing punya perannya. Ada yang berperan sebagai saudara saya, ada yang berperan sebagai tetangga saya...Pokoknya, saya berpikir bahwa dunia diciptakan untuk saya. Egois ya? tenang aja, itu cuma pikiran anak TK ko. pikiran yang masih belum mengenal bagaimana dunia yang dihadapinya.
Terus, waktu SD, saya berpikir, bahwa saya orang cantik.(hahaha..malu ni) san kerjaan saya selalu ngaca.Dan Seperti anak kecil pada umumnya, saya senang memakai kosmetik mama, apalagi lipstiknya.(hehe...)saya senang melihat bibir saya yang berwarna merah.(walaupun belepotan) tetep aja ngerasa cantik.(hihi..)
Oiya, saya pernah berpikir, saya sebagai kupu-kupu (waktu SD). saya seneng ngebayangin,kalo saya bisa terbang,dengan sayap yang indah. (deuh, dasar anak kecil). makanya, saya seneng banget kalo nemu kupu-kupu yang besar. Dulu, saya nyebutnya Si Rama-Rama. Entah apa nama sebenernya. Dan suka berkhayal, gimana rasanya terbang ngeliat bumi dari atas. hmm...
Setelah dewasa, kenapa ya imajinasi itu dilupakan? (inget kuliahnya Pa Prim, suf!) semakin dewasa, kita menemukan masaah, dan kita mengalami sesuatu peristiwa, biasanya kita menanamkan pikiran, bahwa kita keliru, tentang cara pandang kita.

hayooo...dulu waktu kecil pernah punya pikiran apalagi coba?hehe,klo diinget-inget, pasti malah senyum-senyum sendiri...iya kan?hehe...

Batasan Ruang

Saya sebenarnya tidak ingin mengerti tentang semua hal ini. orang-orang bilang, kalo ini adalah anugrah yang Tuhan kasih untuk saya. Dapat memasuki batasan ruang sesorang dan dan dapat berdialog dengan "santai". Saya sangat berterima kasih, Tuhan memberikan "Anugrah" tersebut, karena dengan itu, saya dapat berdialog lebih dalam dan mengenali ruang mereka. Ruang yang sebenarnya terdapat tembok yang mereka ciptakan untuk orang luar. Dan hanya orang yang "diizinkan" yang boleh masuk untuk ruang mereka.
Saya kadang bertanya, apa yang membuat mereka merasa "nyaman" sehingga batasan ruang mereka dapat saya masuki. kadang saya agak kewalahan, karena "kenyamanan" tersebut ternyata membuat mereka memaksa masuk pada ruang yang saya ciptakan sendiri. Atau dalam kasus lain, mereka menginginkan, saya masuk jauh lebih dalam lagi untuk "mengisi" ruang mereka yang kosong, atau hanya sekedar "memperbaiki" ruang tersebut. Atau entah apa lagi.
Tapi, dalam proses tersebut, dampaknya, "indera" lain yang saya punya, menjadi tumpul. Saya harus mencerna lebih lama lagi, dan meyakinkan diri untuk "masukan" yang datang. Seperti, saya hanya terpaku pada orang tertentu saja, sehingga, ketika ada orang yang datang dan ingin memasuki ruang saya dengan baik-baik, malah saya acuhkan.
Saya berusaha untuk memerdekakan diri dari ruang-ruang mereka, tapi mereka menunjukkan rasa kecewanya, karena saya jarang menengok lagi ruang tersebut. atau malah meninggalkannya. tapi saya harus maju. atau, mencari ruang-ruang baru yang membuat saya lebih "segar".
Bukannya saya menyesal karena telah memasuki ruang itu, tapi yang saya butuhkan sekarang adalah ruang "segar". untuk hal tersebut saya harus membuat pilihan, Menghapus, Mengubah, Menerima, atau Mempertahankan.


hei,

terima kasih, karena saya diberi kepercayaan untuk masuk pada ruang kalian, tapi saya mohon, berikan saya suatu kejelasan, tentang ruang yang kalian punya... apakah saya harus Menghapus.. Mengubah.. Menerima.. atau Mempertahankan...

1.9.08

bebas merdeka!

ditulis oleh hega densana di buletin boardnya fs...

Jumat, 26 Aug '08 kmaren, salah satu penulis favorit gw meng-update ShoutOut Facebook-nya:

"baru mngerti arti kemerdekaan. yaitu bebas dr mencintai orang. bebas dari rasa cemburu dan ketergantungan. emang paling asyik itu sendiri."

Yeah, ntu lah yg ditulis oleh Samuel Mulia.

And u know, what?

I'm abso-BLOODY-lutely agree with him.

No more "falling hopelessly in love", then.

I've got enough and I can't bear it anymore. So I quit!!

Wanna join our club??

Hahahaa...
Cheers!!!


kayaknya oke tuh...

ambil resiko sekarang...

dapet dari milis...

Kelaparan atau Dimakan Singa?


Setiap pagi, seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus lari lebih cepat
daripada singa. Kalau tidak, ia akan dimakan singa.

Setiap pagi, seekor singa bangun. Ia tahu bahwa ia harus lari lebih cepat
daripada rusa. Kalau tidak, ia akan mati kelaparan.

Tidak menjadi soal apakah anda seekor singa ataukah seekor rusa. Begitu
matahari terbit, sebaiknya anda berlari!

Jangan lewatkan waktu sedetik pun, cepatlah berlari menjemput impian anda!
Berusaha adalah mengambil resiko. Tapi resiko harus dihadapi karena
bahaya terbesar dalam hidup ini adalah tidak mengambil resiko sama sekali.

Orang yang tidak berani menghadapi resiko, tidak akan melakukan apa-apa,
tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa. Mereka mungkin saja menghindari
penderitaan dan kesengsaraan. Tapi mereka tidak bisa belajar, merasakan,
mengubah, tumbuh, mencintai atau hidup.

Dalam keadaan terikat oleh kepastian, mereka telah mengekang kebebasan
mereka sendiri. Hanya orang yang berani mengambil resiko adalah orang yang
bebas.

Ambil resiko SEKARANG!!

Happy Reading! Mudah-mudahan bermanfaat yaa ;

buat ngecek kualitas HP

Memasuki era perdagangan bebas kita haruslah berhati-hati dalam

membeli sesuatu, terutama barang-barang elektronik, hp khusunya karena
sekarang banyak sekali penipuan atau bermunculannya hp-hp black market
ataupun mungkin juga hp rekondisi, oleh karena itu diperlukan tips
untuk mengetahui apakah hp sebuah hp itu benar-benar asli, dibuat
dinegara mana dan tentu saja paling penting adalah kualitasnya.

Berikut ini sedikit tips untuk mengetahui dinegara mana sebuah hp
dibuat serta kualitasnya (hanya hp GSM bukan CDMA) :
- Langkah pertama : ketik *#06#
- Setelah kamu mengetikan code tersebut maka akan muncul 15 angka no
seri 434566106789435.
- Jika angka no tujuh dan delapan adalah angka 02 atau 20 itu berarti
hp tersebut dibuat di Asia dengan kualitas yang jelek.
- Jika angka no tujuh dan delapan adalah angka 08 atau 80 itu berart
hp tersebut dibuat Jerman dengan kualitas lumayan.
- Jika angka no tujuh dan delapan adalah angka 01 atau 10 itu berarti
hp tersebut dibuat di Finlandia dengan kualitas bagus.
- Jika angka no tujuh dan delapan adalah angka 00 itu berarti hp
tersebut dibuat di Perancis dengan kualitas paling baik.
- Dan apabila nggak ada dari salah satu diatas, berarti hp anda bodong
alias gak jelas.

seni sawah jepang

Seni sawah .:JEPANG:.


Seni melukis sawah dgn padi terdapat di Jepang. Setiap tahun, orang2 membuat gambar2 baru di sawah mereka dgn menggunakan padi yg ditanam sesuai pola2 yg sudah dibuat sebelumnya.Utk pewarnaanya dgn menggunakan jenis2 padi yg berbeda.



HASILNYAAA .!!!!!!!!!!










LENTERA JIWA -Andy F Noya-

Inspirasi untuk teman-teman. ..

LENTERA JIWA

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena ¡pecah kongs dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang. Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya, katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.