17.10.14

Malam Masih Panjang

“…seperti halnya biji buah harus memecah, agar intinya bisa berhadapan dengan matahari, 
begitu jugalah kau harus mengenal kepedihan…”


Bandung, 5 Oktober 2014

Hari ini, mungkin menjadi tamparan bagi sebagian orang.
Ketika harapan tidaklah sesuai dengan kenyataan. 
Hari ini, mungkin merupakan akhir bagi beberapa orang.
Akhir dari sebuah penantian yang panjang akan suatu kepastian.
Hari ini, mungkin menjadi titik balik bagi banyak orang.
Waktunya untuk meraih kesadaran kembali.
Hari ini, mungkin adalah masa sunyi bagi seseorang.
Saat ia harus mengambil jeda untuk meraih kepingan diri.

Bagiku, hari ini adalah cerminan.
Cerminan diri risalah lalu.
Ketika menjadi bagian dari hentakan pilu.
Enam atau tujuh tahun lalu yang seakan mengiris kelu.

Tuhan, jagalah mereka.
Luruhkan lara mereka.
Tawarkan sendunya.
agar lebih merindu-Mu.

Seperti aku, lalu :)

PS. NikmatMu tidaklah kuragu.

Sufty Nurahmartiyanti

10.10.14

Menjadi Luruh

Rubikku sudah memecahkan teka-tekinya.
Dengan geliat, dalam sunyi. 
Rubik sewindu yang dulu merindu.
Sampai dasawarsa, masih berwarna.
Namun ia berlalu pilu.
Bergerak memutar-mutar ruas dengan lihai.
Terbentuk pola yang sempurna.
Memilah, memilih, dengan jernih.
Merah- dengan Merah.
Kuning- dengan Kuning.
Biru- dengan Biru.
Putih- dengan Putih.
Hijau- dengan Hijau.

Pecah...
Leburkan inti yang hakiki.
Menjadi remah melemah.
Lerai...
Luruh...
Bergemuruh...


Bandung, 4 Oktober 2014
Sufty Nurahmartiyanti

9.10.14

Catatan Kaki #29





"Sehebat apapun nahkodanya, siapapun dia. 
Bila mengarungi lautan dengan bahtera yang lemah dan rapuh. 
Tak akan bisa membawa penumpangnya selamat sampai tujuan."




8.10.14

Catatan Kaki #28




"Kita akan selalu sampai pada satu waktu, 
dimana pada waktu itu kita berada pada satu titik, 
dimana di titik itu kita bisa mentertawakan romantisme kehidupan yang lalu - lalu."



7.10.14

Berdamai dengan Kesedihan.

"When sadness was the sea, you taught me how to swim." 
-Anonymous-


Diantara percakapan lintas angka...

M : Kamu bilang, kebahagiaan adalah fitrah manusia. 
    Lantas bagaimana dengan kesedihan? 
    "The saddest part" pernah mengalaminya?
H : Kesedihan.. hmm.. Pernah.. 
    Dulu, mungkin cara berpikirnya yang salah, 
    Sehingga, tidak bisa menerima antara harapan dan kenyataan.
M : Lalu?
H : Dengan keyakinan yang mantap, 
    bahwa segala sesuatu yang terjadi itu sudah ditentukan, 
    Dia tau yang terbaik untuk kita, 
    yakin juga kalo skenarioNya itu ingin melihat kita selamat dan bahagia. 
    Maju terus.

Perpisahan, kepedihan, mungkin diberikan oleh Tuhan agar kita menengok kembali apa yang ada di relung hati, serta keadaan sekeliling kita.
Ketika kita sedang sibuk-sibuknya mengikuti arus, Dia memberikan kita jeda untuk berhenti sejenak. Menengok kembali keadaan, mengecek apakah arus yang kita ikuti, mengikis banyak apa yang kita miliki.

Aku pun begitu. Mungkin kamu juga. Kita akan menyadari bahwa ternyata banyak orang yang dengan ikhlas memperhatikan kita. Kehilangan satu hal, membuat saya sadar bahwa kita masih memiliki banyak hal. Dan mungkin malah lebih bernilai.

Bandung, 7 Juli 2011
Sufty Nurahmartiyanti.


“…Kepedihan adalah obat pahit yang dipergunakan dokter untuk menyembuhkan dirimu yang sakit. Oleh karena itu, percayalah kepada dokter itu, dan minumlah obat itu dalam keheningan dan ketenangan. Sebab tangannya, meskipun berat dan kasar, dibimbing oleh tangan lembut dari yang Tak tampak…” –Almustafa, hal 75, Kahlil Gibran-