Aku suka wangi buih.
seperti wangi permen karet yang lembut.
Aku suka dandelion.
bunga liar tapi kuat dan tegak walau terinjak.
mekar menghadap matahari, terbang mengikuti angin.
Aku suka pagi.
disana ku bisa membangunkan pohon.
Aku suka matahari senja.
tampak hangat dan ramah.
Aku suka secangkir coklat.
membuatku nyaman dan lepas.
Aku suka cat air.
bening, lembut, dan transparan.
Aku suka embun.
titik titik air yang menyegarkan.
Aku suka bulan purnama.
bulat penuh, putih, sempurna.
Aku suka padang semesta.
disana kubisa menari dan menanti naga.
dan terasa abadi walau sesaat.
Aku suka pelangi.
berwarna warni seperti coklat candy.
tapi sayang dia selalu datang setelah hujan.
jadinya, Aku lebih suka dengan gelembung sabun.
pelanginya selalu hinggap menghadap matahari, hingga akhirnya pecah.
sehingga ku bisa tersenyum lalu tertawa :)
-----gadis kecil, padang semesta-----
ps. tapi diantara semuanya, aku lebih suka saat kamu memanggil namaku dengan tersenyum.
"halo, ayaka :)"
4 komentar:
aroma lama, cukup mengobati kangen sama tulisan sobat lama.. :)
ps: begini tulisannya
hijau.dandelion.bintang.sabana dan rumah kayu diatas bukitnya..
itulah halhal yang membuat aku masih begitu menyukai bumi. bukan laut birunya, bukan.
aku memilih bermain di rumput basah setelah hujan seharian. bukan memandang pelangi dengan 7 warnanya. bukan.
bau tanah yang basah adalah obat luka hati paling mujarab. kata siapa?
kata mereka. periperi hutan.
ah yah, tolong tambahkan satu lagi!
aku bermimpi bahwa periperi itu memang ada. dan benar mereka hanya sebesar jari manis.
dan itulah juga mengapa aku masih begitu menyukai bumi.
aku ingin berbulan madu di Budapest. bercinta sambil memandang Lánchíd-Chain Bridge siang hari.
meneriakkan "Szeretlek!!" padamu berkalikali.
atau Mumbai? atau Killorglin? bagaimana dengan Cape Town?
jangan Paris! jangan juga Milan. kita tidak akan menemukan apaapa disana. aku yakin.
aku suka menyusun puzzle seharian. minum bercangkircangkir teh. bermain tekateki bodoh lalu kemudian tertawa tolol. mencari jalan keluar dari labirin raksasa. menyembunyikan sendal tetangga, senang melihatnya kalang kabut. makan pohon tebu. membayangkan siapa yang sedang menangis di bulan. membaca cerita dongeng dengan jutaan warna. menonton opera. memutar lagu jutaan kali. siapa peduli kalau kasetnya rusak kemudian?
aku suka makan jagung. mendengar bahasa rusia. pesta pernikahan. balon udara. angka 13. coklat murni. gigi berkawat. pria berkacamata. dengkuran ibu. menyetir mobil dengan kecepatan kilat. memetik gitar tanpa tahu kuncinya. mandi selama setengah jam. menunggu.
aku tidak suka matematika, bukan aku bodoh. aku tidak suka kopi, aku benci kalau tidurku tidak cukup. aku tidak suka matahari terbenam, gelap selalu membuatku lupa jalan pulang. aku tidak makan bebek. atau kelinci. atau burung dara. mereka terlalu manis untuk hanya jadi penghuni lambung.
aku benci rambut berwarna, bagaimana kalau warna hitam?
aku benci gigi berlubang.
aku tidak suka saus tomat, manisan mangga, dan gurun sahara.
aku tidak suka permainan tennis. aku benci olahraga apapun.
tapi aku suka kamu.aku suka kamu bermain tennis.
kamu memaksa ke Paris, atau Milan. kamu berpendapat bahwa ilmu eksak adalah hal terbaik di dunia. makanan kesukaanmu sate kelinci, coklat murni membuat perutmu melilit. dasar bodoh!
menurutmu bercinta itu harus malam hari, romantis katamu. angka 13 itu angka sial. dan bahwa pria maupun wanita berkacamata itu terlihat tolol. dan bahwa menonton opera itu membuang waktu, lebih baik berlatih tennis.
warna terbaik di dunia adalah merah. dan sphagetti tanpa saus tomat adalah siasia.
kamu benci manusia pemimpi. dan lelucon bahwa peri hutan itu nyata adalah hal terkonyol di dunia setelah Amerika berpikir bahwa mereka bisa selamat dari hari kiamat.
hahaha..kamu lucu sekali,hei!
kamu benci puisi cinta. aku juga sih..
tapi kamu suka aku.
bukankah itu cukup? bukankah kita tidak perlu samasama menyukai pelangi?
..valentine 1 desember 2009..
terima kasih sudah berbagi cerita :)
ijin re-blog ya kak :)
Oke :)
tapi dilengkapi tautan linknya yaa :)
thank you,,,
Posting Komentar