17.10.14

Malam Masih Panjang

“…seperti halnya biji buah harus memecah, agar intinya bisa berhadapan dengan matahari, 
begitu jugalah kau harus mengenal kepedihan…”


Bandung, 5 Oktober 2014

Hari ini, mungkin menjadi tamparan bagi sebagian orang.
Ketika harapan tidaklah sesuai dengan kenyataan. 
Hari ini, mungkin merupakan akhir bagi beberapa orang.
Akhir dari sebuah penantian yang panjang akan suatu kepastian.
Hari ini, mungkin menjadi titik balik bagi banyak orang.
Waktunya untuk meraih kesadaran kembali.
Hari ini, mungkin adalah masa sunyi bagi seseorang.
Saat ia harus mengambil jeda untuk meraih kepingan diri.

Bagiku, hari ini adalah cerminan.
Cerminan diri risalah lalu.
Ketika menjadi bagian dari hentakan pilu.
Enam atau tujuh tahun lalu yang seakan mengiris kelu.

Tuhan, jagalah mereka.
Luruhkan lara mereka.
Tawarkan sendunya.
agar lebih merindu-Mu.

Seperti aku, lalu :)

PS. NikmatMu tidaklah kuragu.

Sufty Nurahmartiyanti

10.10.14

Menjadi Luruh

Rubikku sudah memecahkan teka-tekinya.
Dengan geliat, dalam sunyi. 
Rubik sewindu yang dulu merindu.
Sampai dasawarsa, masih berwarna.
Namun ia berlalu pilu.
Bergerak memutar-mutar ruas dengan lihai.
Terbentuk pola yang sempurna.
Memilah, memilih, dengan jernih.
Merah- dengan Merah.
Kuning- dengan Kuning.
Biru- dengan Biru.
Putih- dengan Putih.
Hijau- dengan Hijau.

Pecah...
Leburkan inti yang hakiki.
Menjadi remah melemah.
Lerai...
Luruh...
Bergemuruh...


Bandung, 4 Oktober 2014
Sufty Nurahmartiyanti

9.10.14

Catatan Kaki #29





"Sehebat apapun nahkodanya, siapapun dia. 
Bila mengarungi lautan dengan bahtera yang lemah dan rapuh. 
Tak akan bisa membawa penumpangnya selamat sampai tujuan."




8.10.14

Catatan Kaki #28




"Kita akan selalu sampai pada satu waktu, 
dimana pada waktu itu kita berada pada satu titik, 
dimana di titik itu kita bisa mentertawakan romantisme kehidupan yang lalu - lalu."



7.10.14

Berdamai dengan Kesedihan.

"When sadness was the sea, you taught me how to swim." 
-Anonymous-


Diantara percakapan lintas angka...

M : Kamu bilang, kebahagiaan adalah fitrah manusia. 
    Lantas bagaimana dengan kesedihan? 
    "The saddest part" pernah mengalaminya?
H : Kesedihan.. hmm.. Pernah.. 
    Dulu, mungkin cara berpikirnya yang salah, 
    Sehingga, tidak bisa menerima antara harapan dan kenyataan.
M : Lalu?
H : Dengan keyakinan yang mantap, 
    bahwa segala sesuatu yang terjadi itu sudah ditentukan, 
    Dia tau yang terbaik untuk kita, 
    yakin juga kalo skenarioNya itu ingin melihat kita selamat dan bahagia. 
    Maju terus.

Perpisahan, kepedihan, mungkin diberikan oleh Tuhan agar kita menengok kembali apa yang ada di relung hati, serta keadaan sekeliling kita.
Ketika kita sedang sibuk-sibuknya mengikuti arus, Dia memberikan kita jeda untuk berhenti sejenak. Menengok kembali keadaan, mengecek apakah arus yang kita ikuti, mengikis banyak apa yang kita miliki.

Aku pun begitu. Mungkin kamu juga. Kita akan menyadari bahwa ternyata banyak orang yang dengan ikhlas memperhatikan kita. Kehilangan satu hal, membuat saya sadar bahwa kita masih memiliki banyak hal. Dan mungkin malah lebih bernilai.

Bandung, 7 Juli 2011
Sufty Nurahmartiyanti.


“…Kepedihan adalah obat pahit yang dipergunakan dokter untuk menyembuhkan dirimu yang sakit. Oleh karena itu, percayalah kepada dokter itu, dan minumlah obat itu dalam keheningan dan ketenangan. Sebab tangannya, meskipun berat dan kasar, dibimbing oleh tangan lembut dari yang Tak tampak…” –Almustafa, hal 75, Kahlil Gibran-



28.9.14

Menggenggam Kebahagiaan

"The less you respond to negative people, 
the more peaceful your life will become." 
-Anonymous-


Suatu hari, di dunia antah berantah...

M : Random Question.
    What do you think about happiness?
H : In my opinion, kebahagiaan itu fitrah manusia.
    Kalo ga bahagia, berarti udah keluar dari fitrahnya.
    Tapi banyak orang yang ga sadar kalo kebahagiaan ada di dalem.
    Very close.
    Idealnya gitu, tapi kadang emang prakteknya butuh perjuangan.
M:  What exactly they need to find happiness on their own?
H:  Mungkin salah satunya bersyukur ya..
    Sama fokus sama apa yang dia udah punya, 
    jangan sama apa yang belum dia punya.

Yak. Sepakat.

Bahagia.
Seperti makan bersama dengan teman-teman.
Seperti berkumpul dengan keluarga.
Seperti melihat senja yang cantik.
Seperti membaca komik seharian.
Seperti berjalan diantara pohon pinus.
Seperti tertawa dengan teman baik.
Seperti makan eskrim kesukaan.
Seperti mendengarkan lagu-lagu kesukaan.
Seperti memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.
Seperti bangun tidur dipagi hari.
Seperti menyeruput teh manis atau coklat hangat.
Seperti menonton film atau kartun favorit.
Seperti melihat pelangi.
.
.
.
.
Seperti berbincang sore :)

Cuma "Kebetulan"


"Jika kebetulan terlalu banyak, 
apakah kamu percaya bahwa itu tidak bermakna?" 
-Ayu Utami-


Apakah kamu percaya akan sebuah kebetulan? Aku tidak. 
Tidak ada di dunia ini yang namanya kebetulan. 
Karena segalah hal yang terjadi di semesta ini, sudah tertulis dan tercatat. Begitu katamu.

Begitupun ketika aku menuliskan ini untukmu.

Hari itu cerah.
Aku sedang menikmati santap siangku dengan lahap.
Grill chicken dengan blackpepper sauce. Menu Favoritku di kafe itu. 
Lamat-lamat terdengar nada yang tidak asing di telingaku.
Ah lagu itu. Lagu lama yang telah di-remake oleh penyanyi masa kini. Lagu yang pernah kuberikan padamu saat senja itu. Beberapa tahun yang lalu...

Senja itu...
Menunggangi kendaraan tahun 86 kita bercengkrama, Aku bersenandung kecil dibelakang punggungmu. Aku tahu kamu tidak menyukai lagu itu. 
"Miris." katamu. 
"Lagu itu untukmu, tau!" ucapku dengan cuek.
Tidak lama, kita berteduh di sebuah mesjid di pinggiran kota. 
Ini adalah waktu yang tepat. pikirku.

"Simpan ya!" kataku. 
Aku serahkan sebuah buku teks berwarna hijau. Buku yang mewakili rasaku padamu saat itu. Kutuliskan sebuah ucapan dengan diakhiri s.e.m.e.s.t.a.
Kamu tersenyum dan berterima kasih. 

Senja itu... 
Ah, apa kabar ya orang itu. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dan mendengar kabarnya. Jadi teringat.

Lagu di kafe itu masih berputar ditelingaku. 
Belum lama berselang, ponselku berbunyi. Aku terkaget dengan nama yang tertera di layar. "s.e.m.e.s.t.a" 
Masih dengan perasaan campur aduk aku mengangkatnya. Ada suara yang tidak asing yang sudah lama tidak kudengar. Suara yang terdengar sama persis pada saat senja itu.

Kamu, yang katanya ingin mengunjungiku di hari Minggu :)
Apakah ini pertanda?

PS. Aku masih gemetaran untuk sebuah "kebetulan"

27.9.14

Catatan Kaki 27#


Dalam raga ada hati, dan dalam hati, ada satu ruang tak bernama. 
Di tanganmu tergenggam kunci pintunya.
Ruang itu mungil, isinya lebih halus dari serat sutera. 
Berkata-kata dengan bahasa yang hanya dipahami oleh nurani.
Begitu lemahnya ia berbisik, sampai kadang-kadang engkau tak terusik. 
Hanya kehadirannya yang terus terasa, dan bila ada apa-apa dengannya,
duniamu runtuh bagai pelangi meluruh usai gerimis.
Tahukah engkau bahwa cinta yang tersesat adalah pembuta dunia? 
Sinarnya menyilaukan hingga kau terperangkap, 
dan hatimu menjadi sasaran sekalinya engkau tersekap. 
Banyak garis batas memuai begitu engkau terbuai, 
dan dalam puja kau sedia serahkan segalanya. 
Kunci kecil itu kau anggap pemberian paling berharga.
Satu garis jangan sampai kau tepis:
membuka diri tidak sama dengan menyerahkannya.
Di ruang kecil itu, ada teras untuk tamu.
Hanya engkau yang berhak ada di dalam inti hatimu sendiri.

Kunci Hati - Dewi Lestari (Dee).

13.8.14

Prabu Sewindu

Menjejakkan rasa, melepaskan canda.
Meredam tanya, bagaimana rupa hati kecilnya.
Karena rindu yang terlalu lama berkelu.
Mengasah asa, mengubur bara.

Hingga satu dasawarsa kini.
Nampak Tuhan selalu tidak jemu.
Menanam rindu yang selalu kelu.
Antara satu hingga sewindu.
Sampai kapan mengadu?

"Laa hawlaa walaa quwwata illa billah.."



23:43
Bandung, 13 Agustus 2014.


4.7.14

Catatan Kaki 26#

kecewa.

saya kurang tahu bagaimana menyampaikan rasa kecewa saya dengan baik selain diam dan mengambil jarak.

saya hanya butuh berjarak dan diam sebentar, mungkin juga sedikit lebih lama. pada jeda yang sebentar, biasanya itu hanya upaya untuk menahan diri agar tak mengumbar kata-kata yang tak perlu. pada waktu yang lebih panjang, biasanya saya menimang-nimang tindakan apa yang sebaiknya saya lakukan.

pada kekecewaan yang terlalu mendalam, saya sebenarnya sangat takut menghadapi diri saya. saya bisa menjelma menjadi orang yang tidak peduli. mati rasa. ini sisi yang mengerikan. sebab, ini yang saya pahami; lawan dari cinta, bukanlah benci, melainkan tidak (lagi) peduli. [13]

-Windy Ariestanty-

diambil dari sini.
Salah satu tumblr favorit.

23.6.14

Terperangkap Pagi

Setiap pukul 05.20, alarm handphone selalu berbunyi. Namun kali ini, saya bangun lebih awal dari biasanya. Pak semut baik hati membangunkan tepat pada adzan subuh terdengar.  Kakinya yang berjalan di lengan, cukup membuat geli.

Hari ini, to-do-list saya lebih banyak dari biasanya. Maklum, deliverable untuk projek di China sebentar lagi deadline. Menyiapkan segala material real sample yang akan digunakan dalam satu projek merupakan salah satu jobdesc saya (salah satunya, loh!). Misalnya, jika dalam suatu desain mengusung konsep nature, biasanya material yang digunakan adalah batu-batu alam, tile dengan corak kayu, dsb. Nah tugas saya, mencari dan mendapatkan material asli tersebut. I am material expert (cih, angkuh! :p)


Memilah-milah material fabric, suatu hari di Bali.
Photo by. Me
Hunting material asli tidak semudah yang dibayangkan. Harus bisa SKSD dengan banyak supplier. Disini, kemampuan komunikasi diandalkan. Tidak hanya dengan supplier lokal saja, tapi juga dengan supplier internasional (karena kebanyakan projek kantor di luar Indonesia). Biasanya, kendalanya hanya diberi sedikit clue untuk material yang digunakan. Misalnya, “Suf, cari material seperti di image ini.” Nah saatnya memeras otak untuk step selanjutnya, cari dimana, material seperti apa, ukuran bagaimana. Suka ajaib juga kadang tiba-tiba nemu di tempat yang tidak disangka-sangka.


Hunting plat metal di daerah Jatayu, Bandung.
Photo by. Me

Nah, material asli ini biasanya dijadikan bahan presentasi untuk moodboard dan referensi dalam mewujudkan suatu desain. Soal revisi dan pergantian-pergantian material di tengah jalan, jangan ditanya deh.



My handmade material moodboard. 
Photo by. Me
Dan, karena to-do-list hari ini yang begitu padat otomatis, seharusnya saya bergegas untuk hunting. Harusnya.

Tapi pagi ini, saya agak terperangkap. Terperangkap dengan imajinasi sendiri. Sehingga membuat mata cukup lama terpejam dari biasanya. Menikmati lamunan sendiri memang bikin terbuai ya. Dan, saya benar-benar harus bergegas.


Ah Suf, pagi-pagi sudah terperangkap dengan imaji sendiri.

19.6.14

“Someone who makes your heart flutter or someone familiar?”

Judul itu saya ambil dari potongan dialog serial korea terakhir yang saya tonton. “Emergency Couple” judulnya.

Bukan. Saya bukan salah satu fan yang selalu update drama korea. Ceritanya waktu itu, saya sedang mampir ke kosan seorang teman. Kebetulan dia sedang menonton episode pertama serial tersebut. Otomatis, saya pun nebeng nonton juga. Baru setengah episode, teman saya tiba-tiba harus pergi, sehingga acara nonton bareng pun harus disudahi. Setengah penasaran sama serialnya, akhirnya saya cari-cari di internet. Yes, nemu juga! Hehe..

Seperti drama korea lainnya, yang suka bikin ketawa,-ketawa sendiri, senyum-senyum sendiri, malu-malu sendiri, dan sedih sendiri, serial ini pun begitu. Cukup menghibur dikala saya sedang gentayangan di pulau orang (red-Bali-). Tapi berkat serial ini, akhirnya saya jadi penasaran juga sama yang namanya Song Ji Hyo, Prestasi loh, saya bisa ingat namanya. Buat pemain yang lain, jangan tanya. Dari kecil, saya adalah tipe orang yang agak kesulitan untuk mengingat nama orang, nama tempat, judul film, nama benda., dsb. Makanya nilai sejarah saya jeblok sewaktu SD. Hehe.. Hapalan adalah salah satu kelemahan saya. Dulu itu, mending dikasih soal matematika deh ketimbang soal sejarah. Tapi ajaibnya, saya masuk kelas IPS, loh. Hehe..

Anyway, Song Ji Hyo itu sendiri saya ingat gara-gara acara Running Man, acara paling hits sejagat per-korea-an. Ajaib banget emang itu acara. Jago deh, kalau engga bikin senyum, ya bikin ketawa ngakak. Super jenius bisa buat acara sekreatif itu.

Balik lagi ke serial “Emergency Couple”, serial ini bercerita tentang pasangan yang menikah muda, lalu bercerai. Dan setelah berpisah selama 6 tahun, mereka dipertemukan kembali dalam satu tempat kerja yang sama. Yakni, sama-sama jadi dokter praktek di salah satu rumah sakit yang sama, divisi emergency room.

Apa rasanya coba, bertemu lagi sama seseorang yang pernah menjadi bagian paling penting di hidup kita. 
Dan menjadi asing lagi seketika. Walau berusaha dihapuspun, otak kita dengan baik hatinya ini menyimpan semua histori yang pernah terjadi. Dia bukan hardisk yang tiba-tiba hang lalu harus diformat ulang dan voila, menjadi bersih kembali kan? Walaupun dikubur dan disimpan rapat, si memori itu tetap ada di simpan, dalam otak kita entah dimana pun tempatnya. Begitu bersinggungan kembali walau dengan clue yang paling minim-pun, password-nya otomatis terbuka. Klik. Super canggih!

Ah ya, tapi tenang saja, kalau sudah melaju alias move on dan nerimo,  si memori itu hanya membangkitkan ingatan saja. Rasa bisa saja beradaptasi. Seperti, rasa sakit yang pernah dialami, bisa saja berubah dengan rasa manis yang membuat kita tertawa di kemudian hari. Ya, kan? Yakin deh. Salah satu teman saya pernah bekata, “Dua atau tiga tahun lagi, kita akan menertawakan diri kita saat ini.”True! Sangat kejadian pas saya baca-baca ulang tulisan-tulisan saya jaman dulu, atau status-status facebook saya saat 2-3 tahun yang lalu. Ah, jadi malu! Hihi… Abaikan.

Nah, seperti dalam serial emergency couple, jika ada pertanyaan dari judul tulisan ini muncul, saya ingin keduanya. Tapi, jika harus memilih, mungkin saya pun akan menjawab sama seperti si tokoh lelakinya.


“Why do bird, suddenly appear, everytime, you are near. Just like me, they want to be, close to you…”
Tapi, rasa deg-degan kadang juga bikin mati kutu nih.

PS.
Walaupun si tokoh lelaki ini menjawab “someone who makes him flutter.” Tapi, pada akhirnya dia end up juga dengan “someone familiar.” Nah, loh! Who knows!

17.6.14

Terima Kasih, ya!

February 24, 2014 at 9:28am


NP: Coldplay - Everything's not lost.

"Home is where my heart is."

Aku terjaga dalam hiruk pikuk kota ini.
Kota yang yang begitu cepat bertumbuh dengan kesibukan lalu lintasnya.

“Waktunya berkemas, kawan.” Begitu katanya.
Dalam hitungan detik, naluriku memahami makna kalimat tersebut. Aku akan pulang menuju rumahku.

Aku mulai berkemas, tidak semua barang aku bawa serta. Beberapa hal, rasanya sudah sewajarnya ada disana dan tidak patut aku bawa pulang.

Disini, aku menunggu angkutan yang akan membawa kami pulang.  Sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam. Penjemput belum tiba juga. Aku begitu sibuk menelepon. “Posisi ada dimana, Pak?”

Ah, akhirnya datang juga. Sebuah angkutan besar muatan 8-10 orang akan membawa kami dengan nyaman.

“Tunggu dulu pak!” aku berkata dengan tiba-tiba. Rupanya adikku belum siap berkemas.
“Aduuhhhh..” keluhku. Dengan berat hati aku berkata, “Silakan pak tinggalkan saja kami. Adikku belum siap berkemas. Kami akan menyusul dengan angkutan umum saja.”

Aku mulai membantu adikku berkemas. Memasukkan barang-barangnya dalam 3 koper. “Banyak sekali barang bawaanmu!”
Setelah selesai membantu adikku berkemas, aku mulai berpikir, akan memakai apa kami untuk pulang?
Salah satu temanku membantuku, ”Aku akan mengirimkan untukmu penjemputnya!” begitu katanya. Ah, terima kasih kawan, engkau memang pengertian sekali.

Penjemput datang. Dia membawa angkutan mewah yang hanya dapat memuat 3-4 orang saja. “Ah, bagus sekali angkutanmu. Tapi rasanya kami semua tidak akan masuk pada angkutanmu. Terima kasih, tapi rasanya tidak adil jika aku harus meninggalkan sebagian yang lain.” Maka akupun mengucapkan perpisahan pada penjemput itu.

Penjemput yang lain datang. Angkutannya hampir sama dengan angkutan yang pertama. Bermuatan 8-10 orang. Tapi sayang, didalamnya sudah banyak penumpang. Rasanya akan sesak jika kami masuk di dalamnya. Aku mengalah. Lagi-lagi hanya mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih, ya.”


-Imajinasi setelah bangun pagi-

Bali, 24 Februari 2014
Sufty Nurahmartiyanti, 

Manusia Lingkar Luar

February 24, 2014 at 9:54am


....

Seperti penonton pertandingan sepak bola yang berada di antara begitu banyak penonton yang riuh redam karena pertandingan. Dia hanya menonton. Memperhatikan. Tak pernah ia tahu bagaimana rasanya dalam pertandingan itu sendiri.

Ia yang mengabaikan fungisnya sebagai dirinya. Larut dalam lingkaran luar.
Mencoba meredam segala hasrat agar tetap di batasan yang paling luar.
Seperti ada jarak antara ia dan realitas.
Aman dalam zona nyaman.


“Aku akan diam di atas sana, sementara kalian berperang.”


Penakut?!
Pengecut?!


Bali, 20 Februari 2014.
Sufty Nurahmartiyanti.

Inti Dasawarsa

November 6, 2013 at 12:08pm


... Seperti Rubik.
Setiap sudut sisinya dapat berubah, bergerak gerak, berganti, mencari kombinasi...

Tapi ada satu yang pasti...
dari sebuah inti...
tidak berubah, tidak bergerak, tidak berganti, tidak mencari-cari...
tetap sama isi dan hakiki.

-selama satu dasawarsa-


Bandung, 6 November 2013.
Sufty Nurahmartiyanti. 

Adu Batu

December 10, 2013 at 3:05am

Batu satu, batu dua, batu tiga, batu empat
Empat batu sedang merapat
Berdebat siapa yang paling hebat
Diantara empat dalam sabuah jagat
Batu satu merasa kuat
Batu dua merasa tanpa sekat
Batu tiga merasa keramat
Batu empat merasa dahsyat

Batu beradu batu
Tanpa tau siapa yang mengadu
Namanya juga batu
Tidak ingin diberi tahu

DASAR BATU!

Tanpa kalian tahu
Ini batu ada selalu
di dalam setiap satu

-semoga cepat berlalu-


10 Desember 2013,
Sufty Nurahmartiyanti 

Part 1# - 72 Jam: Bali – Lombok – Sumbawa – Pulau Moyo.

"Random and Lucky Trip"

Bisa dibilang ini merupakan trip random dan lucky dalam mengisi long weekend pada tanggal 27-30 Mei 2014. Random, karena sangat dadakan dan tanpa rencana. Saya dan seorang teman, baru memutuskan akan eksplore Sumbawa, pada tanggal 27 Mei di siang harinya. Walaupun kami masih buta arah, kami putuskan untuk pergi trip menuju Pulau Moyo dengan memakai sepeda motor. Yep! Sepeda Motor. Wuihii~

***
Berbekal dengan GPS, kami berangkat dari Jimbaran pada jam 9 malam, dengan tujuan pertama, yakni Pelabuhan Padang Bai, Bali. Dua jam perjalanan yang kami tempuh menuju pelabuhan, disambut manis dengan hujan yang sangat besar. Errrr...

Note: Pelabuhan Padang Bai merupakan pelabuhan penyebrangan kapal feri menuju Lombok, dan buka 24 jam. Jadwal kapalnya sendiri berangkat setiap satu jam sekali.

Karena kapal jam 11 malam sudah penuh muatan, maka kami harus menunggu, -tepatnya berteduh- selama satu jam untuk bisa berangkat dengan kapal selanjutnya, menuju Pelabuhan Lombok Barat. Pelabuhan yang banjir tidak cukup menyurutkan semangat kami untuk eksplore Sumbawa. Yeah!

Penyebrangan selama 4 jam kami lalui dengan kurang menyenangkan. Haha. Serius. Impian ingin tidur nyenyak semalaman, buyar karena jackpot a.k.a muntah massal para penumpang. Dengan kapal super goyang, serta bunyi jackpot yang mengganggu, membuat saya pun tidak khusyu untuk tidur. Pada saat itu, waktu menunjukkan jam 2 malam, dan saya masih terjaga. Saatnya untuk mendengarkan musik. Sip.


*Lombok Barat.
Sesampainya di Lombok, jalanan tampak masih gelap. Tidak heran Lombok dijuluki “seribu masjid”, karena hampir setiap 200 meter,  kami bisa menemukan masjid. Kondisi yang berbanding terbalik dengan Bali, tentunya. Namun, jalanan gelap sedikit membuat saya was-was. Saya tidak terlalu suka gelap. Hehe. Walaupun begitu, motor kami tetap melaju random mengikuti sign system ke arah Praya, Lombok Tengah. Pada saat itu, GPS saya tidak dapat digunakan karena lokasi tujuan kami, yakni Pelabuhan Kayangan di daerah Lombok Timur tidak dapat terdeteksi. Setelah melaju random selama satu jam, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dulu di Masjid terdekat, sambil bertanya-tanya pada penduduk setempat. Untung saja adzan subuh telah terdengar. Masjidpun cukup ramai saat itu.

Peribahasa “Malu bertanya sesat di jalan”,  nampak berlaku untuk kami. Ternyata kami telah mengambil arah yang keliru. Seorang bapak baik hati menjelaskan kami arah jalan menuju Lombok Timur. Alhamdulillah, dengan arah yang cukup rumit, kami tetap gak mudeng. Untungnya hp teman saya lebih canggih, dan ternyata GPSnya dapat mendeteksi lokasi Pelabuhan Kayangan. Oke, saatnya balik arah. GPS, aku padamu.

Berdasarkan GPS, kami harus melewati jalanan kecil yang cukup panjang. Ternyata jalan tersebut melewati area pedesaan. Terlihat para penduduk yang jalan-jalan pagi (mungkin) untuk mencari kehangatan. Tidak jarang, beberapa orang berkumpul dan duduk-duduk di jalanan, -tepatnya ditengah jalan-. Ah, mungkin akhir minggu membuat mereka memiliki waktu luang lebih.

***

Rinjani dari kejauhan.
Photo by. me.

Sinar matahari tampak dari kejauhan. Target untuk menikmati momen matahari terbit di Pelabuhan Kayangan terlewati sudah. Kami masih harus menempuh beberapa puluh kilometer lagi untuk menuju pelabuhan. Satu-satunya penghibur bagi saya adalah view Pegunungan Rinjani yang cantik dari kejauhan. Subhanallah.

Note: Semua kapal di Pelabuhan Kayangan adalah menuju pelabuhan Pototano, Sumbawa. Setiap jam nya selalu ada kapal yang berangkat.

Pada jam 8 pagi, kami sampai di Pelabuhan Kayangan. Nasi bungkus pelabuhan terasa nikmat setelah perjalanan sejauh ini. Apalagi bisa melihat view Rinjani dari dekat. Rasa antusias makin menjadi saat kami sudah menyebrangi Lombok dan mendekati Pelabuhan Pototano, Sumbawa setelah dua jam perjalanan.

*Sumbawa

Bukit di Sumbawa.
Photo by. me

Waaaahhh… akhirnya sampai juga di Sumbawa!!
Super antusias dan percaya ga percaya bisa sampai di sini. Pelabuhan Pototano terlihat cantik, karena pantai pasir putihnya dan airnya yang masih jernih. Pengen deh berenang di sana! Hehe. Tapi kami harus bergegas. Karena, sejauh informasi yang kami miliki, hanya ada satu kapal dalam satu hari menuju Pulau Moyo. Dan katanya, berangkat setiap jam set. 12. Ouch, tinggal satu jam setengah lagi waktu yang kami miliki. Let’s go!


Bisa guling-guling dulu di jalanan nih.  -Sumbawa-
Photo by. me


Menurut GPS, kami harus menempuh jarak sepanjang kurang lebih 60 km untuk bisa sampai di Labuan Bajo, yakni pelabuhan penyebrangan menuju Pulau Moyo. Melewati jalan dengan pemandangan bukit-bukit sabana, serta jalan aspal berkelok tepi laut, membuat saya menjadi agak sentimentil. Hehe. Ah,  Sumbawa sungguh cantik. Bersyukur sekali bisa sampai di daratan ini.

Menemukan pelabuhan untuk menyebrang ke Pulau Moyo, gampang-gampang susah. Pelabuhan Labuan Bajo yang kami maksud, ternyata hanyalah pelabuhan peti kemas. Sampai di sana, waktu menunjukkan pukul setengah 12. Kami kehabisan waktu. Dengan sedikit harapan, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari pelabuhan Kalibaru, pelabuhannya para kapal nelayan. Kami mengetahui pelabuhan ini, dari seorang bapak di Labuan Bajo. 

15 menit dari Labuan Bajo kami sampai di area Kalibaru. Setelah tanya sana-sini, kami mengetahui bahwa kapal menuju Pulau Moyo sudah berangkat kemarin sore dan akan berangkat lagi besok pagi. Ah,  sedih. Tapi karena penasaran, kami bergerak menuju satu area labuhan beberapa kapal nelayan. Kami bertemu beberapa lelaki bertato sedang duduk-duduk di satu warung. Kami bertanya apakah ada kapal menuju Pulau Moyo pada saat itu.  Mereka pun menunjuk pada salah satu kapal dengan beberpa penumpang di dalamnya dan menyuruh kami untuk memastikan pada si pemilik kapal. Setelah kami bertanya kemana arah tujuan mereka, ternyata mereka menuju Pulau Moyo!!! Alhamdulillaaaaahh. Senang sekali kami.  Lucky!

Perahu nelayan menuju Pulau Moyo.
Photo by. me

Note: Pulau Moyo dihuni hanya seribu jiwa dan terdiri dari tiga dusun. Salah satunya merupakan Dusun Labuan Aji, yang merupakan tujuan kami.

Awalnya kami agak kebingungan untuk nasib motor yang kami gunakan. Karena khawatir keamanan dan tidak adanya tempat parkir motor, akhirnya kami putuskan untuk mengangkut serta motor menuju Pulau Moyo. Yes!

Pulau Moyoooooo… kami dataaaang!!

***

-Bersambung-



2.5.14

Catatan Kaki 24#





"Rumah bukan sekedar alamat, dia tempat kepercayaan sesama pada yang meninggali."

— Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia









Catatan Kaki 23#





"Jangan pikirkan kekalahan, pikirkan dulu perlawanan yang sebaik mungkin, sehormat mungkin."

— Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia











Catatan Kaki 22#





"Sangat mudah menjadikan perempuan hanya untuk seorang lelaki, tetapi tidak mudah menjadikan seorang lelaki hanya untuk seorang perempuan."

— M. Quraish Shihab