
INDAH BANGET!!!
Langit jingganya langsung dijadiin background desktop. hehe.
Kayaknya untuk menjadi manusia berubah pun harus ada momen dan ritualnya yah.
Mereka yang memilih, Ia yang menentukan.
Dalam Stasiun Merah ini aku masih berdiri. Gerbong kereta yang terlewat satu demi satu, begitu cepat melaju. Masih seperti tahun-tahun sebelumnya. Kereta disini hanya lewat dan berhenti sebentar untuk mengangkut penumpang pilihannya.
Hari kemarin, baru ada seseorang turun dari sebuah gerbong kereta yang cukup mewah sepertinya, namun keesokannya, dengan cepat ia sudah menaiki kembali sebuah kereta yang ditentukan. Dengan kereta sedikit lebih usang. Tapi wajahnya terlihat begitu berbinar. Aku tak tahu apa artinya. Mungkin pura-pura tak ingin tahu karena iri dengan ekspresi yang ia miliki. Entah.
Aku masih saja berdiri disini. Mengalami sejak stasiun ini kosong, hingga stasiun ini penuh dengan sesak. Aku disini, mengamati pergerakan. Ada orang yang sering naik turun sampai orang yang hanya sekali aku lihat, dan cukup lama tidak kembali. Mungkin tidak akan pernah kembali dengan kereta yang ia tumpangi.
Jangan kira aku tak punya cerita, aku sudah pernah menaiki beberapa kereta. Yang pertama, ruangannya sangat sederhana, mungkin ini yang disebut gerbong untuk kelas ekonomi, tapi di sana hangat. Walau minim perabotan, Aku merasa nyaman. Aku belajar banyak di gerbong ini. Tentang sebuah kesederhanaan. Tentu saja dalam satu kereta tidak hanya ada satu gerbong, tergantung. Ada gerbong kepala, gerbong dapur dan makanan, gerbong pertama, kedua, dan selanjutnya, sampai berapa banyak gerbong itu diciptakan. Yang pertama ini ada empat gerbong tambahan. Aku paling suka di gerbong yang terakhir, walaupun pertama kali aku dipilih oleh gerbong yang ketiga, yang keempat ini lebih menyenangkan. Aku bisa bercerita banyak oleh penghuninya. Seperi kakak perempuanku. Tapi sayang karena aku dipilih gerbong yang ketiga maka, ketika tidak merasa nyaman, aku harus keluar dari kereta yang satu itu.
Lalu aku kembali menunggu di stasiun. Kereta pilihan selanjutnya datang, awalnya aku bingung, karena ada dua kereta datang saling berurutan, tapi aku tetap pilih kereta yang lebih sederhana. Kereta ini punya dua gerbong tambahan. Tapi sayang, aku tak sempat menengok dapur dan gerbong kepalanya,atau gerbang yang pertama, aku hanya diperbolehkan berada di gerbong yang terakhir, gerbong yang memilihku. Setelah beberapa lama, penghuninya bilang, aku salah naik kereta. Bukan kereta ini seharusnya yang aku naiki. Aku bersedih cukup lama. Karena aku kira, aku akan terbawa kereta itu sampai akhir perjalanan. Aku kembali lagi ke Stasiun Merah.
Setelah itu ada beberapa kereta yang berhenti, ia memperbolehkan aku masuk, tapi aku tidak diangkutnya, “hanya boleh melihat-lihat” katanya, mungkin penghuninya takut aku begitu ceroboh sehingga memecahkan barang-barang di dalamnya. Hmmm… ada juga kereta yang sering berhenti, pintunya selalu terbuka, tapi sayang, di dalamnya terlalu sesak, dan banyak orang, sehingga aku takut, kalau-kalau aku akan sulit bernapas, tapi rasanya aku tergoda dengan ruangnya yang begitu nyaman dan hangat, penghuninya begitu ramah, malah aku diperbolehkan masuk gerbang pertama hingga yang terakhir, tapi tetap saja aku merasa takut kalau-kalau ia hanya berhenti sebentar dan aku dikembalikan dengan cepat. Padahal aku berharap besar pada perjalanannya yang begitu mengasyikkan dan tak terlupakan. Mungkin disini bukan aku yang menentukan, tapi aku yang ditentukan. Aturan disini agak rumit. Walau sekarang, kereta tersebut sudah melaju kencang, entah kemana. Semoga saja sampai akhir, dan aku turut berdoa untuk kelancaran perjalanannya.
Kereta ketiga yang datang juga sederhana, gerbong tambahan kedua yang memilihku, rasanya setahun yang lalu kereta ini juga pernah membukakan pintunya untukku, tapi aku menolak, dengan alasan rasa yang tak pantas untuk dapat menaikinya. Tapi rupanya kali ini aku beranikan diri, sebenarnya aku hanya ingin melihat-lihat dulu, tapi keretanya melaju dengan cepat, sehingga Stasiun Merah itu terpaksa dengan cepat aku tinggalkan. Tidak berlangsung lama aku menaiki kereta ini. Rasanya aku salah naik kereta. Hingga pada akhirnya aku kembali ke stasiun yang pertama. Stasiun Merah. Dan seperti biasa menanti dan menunggu kereta selanjutnya untuk dapat berharap melaju sampai perjalanan stasiun akhir.
Tidak adakah tempat duduk untuk menunggu?
Ah, terima kasih pak kepala stasiun. Sudah lama kakiku pegal karena berdiri menunggu cukup lama.
Baru saja aku terbangun. Padahal rasanya tidak ingin cepat-cepat aku terbangun. Memejamkan mata itu sangat nikmat. Karena kamu tidak berhadapan langsung dengan realita. Walaupun kamu sedikit mimpi buruk, tapi setidaknya itu tak pernah nyata. Mimpi, bermimpi, dongeng, tak nyata, terpejam, dengan rasa aman. Aman karena ragamu tetap diam dan tak usah kau lakukan apapun selain menutupinya dengan selimut, agar tak digigit nyamuk. Aman karena rasamu tak terasa nyata karena sudah tertanam dalam pikiranmu bahwa kamu akan terbangun lagi lalu kamu berhasil menghibur diri “tak apa, itu hanya mimpi”. Aman karena ruh mu yang berkeliaran itu tetap akan suci, karena apapun yang kamu lakukan kamu menafikkan diri “ragaku sedang tak sadar, pikiranku juga, ruhku bukan aku yang mengaturnya, sehingga aku tak pernah melakukan kesalahan apapun dengan nyata”. Oke, lupakan. Itu angan-angan. Untuk kembali pada realita, aku harus terbangun saat ini juga. Ini sudah di luar batas toleransi waktu. Ini waktuku.
Aku harus pandai mengatur waktuku. Agar dia tidak berkeliaran kesana kemari dan dirampas oleh tuan kelabu. Aku harus bangun, untuk mengambil waktu realitaku. Harus melakukan sesuatu untuk menguatkan ragaku, buang air, minum susu, lari pagi, makan camilan, sarapan. Dan melakukan sesuatu untuk menguatkan jiwaku, mendengarkan musik, membaca koran, menulis, dan melakukan berbagai rutinitas (yang seharusnya aku lakukan secara rutin tapi tak pernah menjadi rutin), memasak, hei bagiku memasak sama saja seperti memberi makan besar pada jiwa prematur ini, walaupun aku jarang memakan apa yang aku buat, tapi rasanya lebih puas bila mendapat ekspresi kenikmatan dari orang lain yang menghabiskannya. Itulah makanan jiwa, ketika prosesnya kamu berkeringat dan berusaha ditambah rasa susah payah, dan setelah berhasil kamu mendapatkan harga.
Setelah melakukan sesuatu untuk raga dan jiwaku, ini waktunya untuk ritual pembersihan. Mengambil air segayung demi segayung, menyirami dari ujung rambut hingga ujung kaki, membersihkan buangan raga yang terselip di sela-sela lipatan kulit, agar tak menumpuk sehingga membuat ragamu semakin lama, semakin membusuk dan mengeluarkan bau yang menusuk sehingga dapat mengganggu kinerja indramu. Begitupun dengan jiwa. Selalu ada limbah yang dihasilkan, bila tak cepat dibersihkan, sesuatu yang berkerak dan lama-lama menggerogoti dan membuat lubang hitam yang besar tanpa kau sadari. Entah dari obrolan dari orang-orang yang kau temui, atau dari pikiran-pikiran masa lalu yang hampir memfosil dalam ingatanmu, atau bahkan dari ekspektasi yang kamu dapatkankan sebelum itu semua terjadi. Buangan dari masa yang telah, sedang dan akan terlewati. Jangan sampai setengah-setengah dan menyisakan kotoran-kotoran kecil.
Aku sudah mulai fasih dan ahli dalam membersihkan ragaku, mungkin pada tahun ke dua puluh aku baru sadar secara sadar pada setiap detailnya. Meraba-raba setiap inchinya. Lalu menilai kesempurnaannya. Entah dari mana aku pelajari itu. Tapi setidaknya, ragaku mulai memberikan kenaikan grafik. Walaupun tak signifikan dan cepat memang. Oke, tapi masih ada hal lain. Untuk yang lain ini, memang tak tentu pembersihannya. Kamu bisa saja menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Tapi tak bisa itu kamu lakukan setiap waktu. Di waktu lain kamu harus mencari cara lainnya, agar si prematur ini tak cepat bosan dan menjadi kebal. Kamu bisa saja bercerita, entah pada yang nyata dan yang tidak nyata, atau hal-hal lain yang masih belum aku ketahui. Seperti yang aku bilang, aku masih belum banyak tahu. kalau aku sudah banyak tahu, aku akan memberi tahumu, setelah aku melewati koma ini,