7.9.11
nemu kesukaan baru :)
6.9.11
Awan Terpendam
"rumah itu bukan wujud fisik tapi saat kata pulang terasa menenangkan." -- @lalabohang
Kalimat itu aku temukan pada sebuah beranda. Saat itu cuaca sedang hujan. Aku tahu, itu sedang hujan, walaupun saat itu awan tampil ceria. Bahkan hingga saat ini, aku tau awan masih suka berbohong. Diam diam, dia kelabu lalu hujan. Aku sungguh tahu.
Awan sekarang memang pintar berbohong. Eh, tidak, dia tidak pintar. Aku saja bisa tahu jika dia sedang berpura-pura. Kamu tahu? Diam diam, saat tertidur, dia selalu mengigau. Katanya, "ngin...angin...". Tak sadar dia menyebut kata angin. Diam diam, dalam hatinya, pasti ia merindu. Aku sungguh tahu.
"Bodoh kamu..." aku berkata. "Dulu, kamu mengusirnya. Jauh jauh suruh dia pergi. Katamu, dia mengacaukanmu. Sungguh bodoh." Tapi aku tidak boleh berkata begitu. Aku tahu awan begitu menyesal. Angin yang ramah yang selalu berkunjung, tidak pernah berniat jahat untuk meluluhlantakannya. Aku sungguh tahu.
Awan, awan... diam diam, dia selalu melirik. Menatap angin yang sedang bertiup ramah di pulau sana. Pulau kuning namanya, karena ditumbuhi dengan banyak burung kenari berwarna kuning. Kamu tahu? Diam diam, tak sadar, dia menjadi kelabu lalu hujan. Aku tahu, dia pura pura kuat untuk tetap menjadi awan. Mengisi semesta di tempat yang paling tinggi. Aku tahu, sebenarnya dia ingin sekali turun ke bumi, menjadi hujan dan kembali menjadi embun. Aku sungguh tahu.
Tapi awan terlalu malu.
7.7.11
yang selalu ada
“…seperti halnya biji buah harus memecah, agar intinya bisa berhadapan dengan matahari, begitu jugalah kau harus mengenal kepedihan…”
Perpisahan, kepedihan, mungkin diberikan oleh Tuhan agar kita menengok kembali apa yang ada di relung hati, serta keadaan sekeliling kita.
Ketika kita sedang sibuk-sibuknya mengikuti arus, Dia memberikan kita jeda untuk berhenti sejenak. Menengok kembali keadaan, mengecek apakah arus yang kita ikuti, mengikis banyak apa yang kita miliki.
Aku pun begitu. Mungkin kamu juga. Kita akan menyadari bahwa ternyata banyak orang yang dengan ikhlas memperhatikan kita. Kehilangan satu hal, membuat saya sadar bahwa kita masih memiliki banyak hal. Dan mungkin malah lebih bernilai.
Pagi ini, saya ngobrol dengan papap, (hal yang sangat jarang kami lakukan). Berbagi tentang hal-hal yang telah terlalui. Beliau bercerita banyak. Tentang kabar adik dan kakak-kakak saya. Kami sekeluarga jarang sekali bertemu, berkumpul, atau berkomunikasi. Jarang sekali smsan, telponan, yman, atau fesbukan. Rasa sayang satu sama lain, hanya menjadi satu-satunya kepercayaan yang kami miliki.
Papap atau ibu, tak pernah tau apa-apa yang anaknya lakukan. Tidak pernah bertanya, kecuali kami yang bercerita. Termasuk apa yang sedang saya alami. Rasa pedih dan gelisah yang sudah mencapai limit, hanya dapat terucapkan dengan kalimat, “Pap, doain neng, ya…” Beliau lalu bilang, “Itu mah gak pernah kelewat tiap sholat: Semoga diberikan pasangan yang diridhoi Allah, mendapat keturunan yang shaleh dan shalehah, diteguhkan imannya, semoga selalu mendapat kesehatan yang mumpuni, dilancarkan dan dimudahkan segala urusannya…” terharu sekali saya mendengarnya. Rasa gelisah sejak bangun tadi, cukup terobati dengan pembicaraan singkat kami.
Beruntung sekali, saya masih memiliki orang tua yang selalu senantiasa dengan ikhlas mendoakan anaknya. Bagaimanapun keadaannya. Tanpa pamrih. Bahkan tanpa kita minta, mereka tidak pernah berhenti untuk mendoakan orang yang mereka kasihi. Doa menjadi lebih bernilai dan berharga dari apapun. Tidak dapat dibeli oleh uang, dan hanya dapat diberi oleh orang yang memiliki hati yang lapang dan kasih yang tulus.
Saya tahu, rasa pedih yang dirasa, sudah mencapai limit. Topangan saya pun telah runtuh. Ketika asa telah dirasa habis, ternyata orang tua dan sahabat memberikan kita spirit asa dan rasa yang luar biasa. Seburuk apapun sifat yang mereka miliki, sebagai orang tua tetap harus kita kasihi. Sejauh apapun jarak dengan mereka, doa mereka terhadap kita tak akan pernah lekang.
“…Kepedihan adalah obat pahit yang dipergunakan dokter untuk menyembuhkan dirimu yang sakit. Oleh karena itu, percayalah kepada dokter itu, dan minumlah obat itu dalam keheningan dan ketenangan. Sebab tangannya, meskipun berat dan kasar, dibimbing oleh tangan lembut dari yang Tak tampak…” –Almustafa, hal 75, Kahlil Gibran-
2.7.11
Catatan Almustafa 2#
Catatan Almustafa 1#
Dijemput Matahari
Tubuhnya bergetar. Matanya terpejam mencoba untuk menahan air matanya. Tangannya mengepal memegang angin.
“huu…huhuhuhu… kamu bilang kamu akan terus bermain disini :( huks… ka-kamuu bilang, kita akan terus bersama menjaga padang semesta ini :(” Ia terus menghadap tanah. Tak kuasa ia melihat seorang bocah jerami di hadapannya.
“huuu…huhuhuhu…” gadis kecil terus terisak. Bukan hanya kali ini, teman bermainnya meninggalkan padang semesta. Dan lagi-lagi mengucapkan hal yang sama.
“Kamu tahu, bahwa tempat ini terlalu nyaman untukku, gadis kecil…” ujar bocah jerami sambil tersenyum dengan rambutnya yang selalu acak-acakan seperti habis bangun tidur.
Ia lalu mengusap-usap kepala gadis kecil.
“Kamu pasti akan baik-baik saja :), aku yakin, suatu hari nanti, kamu akan menemukan teman bermain yang akan selalu menemanimu sepanjang masa. Hingga kamu takkan bosan dan takkan khawatir.” Ia berkata pada gadis kecil.
“ta-tapi… aku ingin selalu bermain denganmu… Mendengar dongengmu setiap malam hari, meniup gelembung pelangi setiap pagi, menggambar-gambar padang semesta di siang hari… Bermain hujan, bermain awan, bermain angin… Aku suka itu semua…” rengek gadis kecil.
Bocah jerami hanya tersenyum.
“Aku… aku juga takut dengan tuan kelabuuuu… semenjak kamu ada di sini, dia tidak pernah berani datang lagi… huhuhu… Jangan pergi, jangan ikuti kemauan matahari… huhuhuuhuuu…” isak gadis kecil.
Bocah jerami kembali tersenyum, ia lalu berkata pada gadis kecil, “Aku juga ingin selalu bermain denganmu, gadis kecil. Semuanya serba menyenangkan di sini.” Ia tersenyum memandang sekeliling padang semesta.
“Aku juga menemukan hal-hal yang menakjubkan bersamamu, gadis kecil… Tapi aku tetap harus pergi. Matahari sedang menungguku… Jaga domo untukku ya!” Ia melirik anjing mungil di sampingku.
Gadis kecil menatap bocah jerami. Menangguk. Ia tahu, bahwa matahari sungguh tidak sabar. Dengan perlahan, rupa bocah jerami mulai memudar. tubuhnya bias seiring silau cahaya.
Gadis kecil kembali terpejam. Ia teringat saat pertama kali bocah jerami menyapanya… “cantik…”
Untuk:
Matahari
Jaga jerami baik-baik. Ia sungguh baik karena memberikanku pelangi cantik. Suatu saat, aku ingin mengajaknya bermain lagi. Pastikan ia berselimut agar tak bersin-bersin dan masuk angin ya!
-gadis kecil-
8.6.11
Hidup ini simpel, jika kamu ingin dapatkan apa yg baik bagimu, kamu harus punya keinginan tuk menjauh dari apa yg tak baik bagimu. #pepatah
23.5.11
7:51
Kantor sudah sepi.
Dasar lagu, dasar malam, dasar hening.
Selalu saja bisa menggugah jiwa.
Dan mengusik sensitif rasa.
Aku mengingatmu, entah apa rasanya ini.
Kangen? Rindu? karena kita berjauhan.
Apa karena kamu yang begitu diam.
Pikiran berputar-putar.
Mengingat slide momen yang terlewati.
Pikiran random..
tidak jelas..
mengabur..
Aku ingin sekali bertemu dan bersandar, nguuu... :(
Catatan Sanento 1#
-Sanento Yuliman, sastrawan dan kritikus seni rupa-
5.5.11
Tersekat dalam jagat.
Ada semacam lubang yang sedikit menganga.
Ada semacam isi otak yang sedikit mecuat.
Ketika kata tersekat dalam tabung, ketika suara tercekat dalam lorong.
Entah apa yang dimau raja rimba.
Mengacau lagi tata isi semesta.
15.3.11
Saat berhadapan dengan meja, siang ini
8.3.11
Aries vs Scorpio
Outgoing. Lovable. Spontaneous. Not one to mess with. Funny.. Excellent kisser EXTREMELY adorable. Loves relationships, and family is very important to an aries. Aries are known for being generous and giving. Addictive. Loud. Always has the need to be ‘Right’. Aries will argue to prove their point for hours and hours. Aries are some of the most wonderful people in the world..
SCORPIO - The Addict
EXTREMELY adorable. Loves to joke. Very Good sense of humor. Will try almost anything once. Loves to be pampered. Energetic. Predictable. GREAT kisser. Always get what they want.. Attractive. Loves being in long relationships. Talkative. Loves to party but at times to the extreme. Loves the smell and feel of money and is good at making it but just as good at spending it! Very protective over loved ones. HARD workers. Can be a good friend but if is disrespected by a friend, the friendship will end. Romantic. Caring..
3.3.11
Relish - It's you i'm thingking of
Only you can take me higher
It was you that set me free
What was love before I know
When do you get to that point where enough is enough? Never. Never.
'Cause you are all I need
I just have to let you know
Maybe there's a place for you and me, yeah
I just have to let you know
That it's you I'm thinking of
That's it's you I'm thinking of
You were born to be alive
With a beauty in our minds
To share it with the world
Cause you're so easy just hey
Then to throw it all away
Just adding to the hurt
I just have to let you know
Maybe there's a place for you and me, yeah
Like the sunlight breaking through a cloudy day
Well, it's you I'm thinking of
Yes, it's you I'm thinking of
Let's all get together
'Cause this is what we got
This is what we've got
I just have to let you know
Ohhh....it's you I'm thinking of
Baby, it's you I'm thinking of
I just have to let you know
Maybe there's a place for you and me, yeah
I just have to let you know
Maybe there's a place for you and me
I just have to let you know
That it's you I'm thinking of
That it's you I'm thinking of...oh yeah yeah
Cause it's you I'm thinking of...oohhh oooo ahhh
I said it's you yes it's you you you you I'm thinking of
ohhhh...it's you yes it's you oooo...
14.1.11
Malam ke-13

Nak, aku memimpikanmu semalam.
Apa itu pertanda?
Dan kamu memeluknya dengan lembut.
Dia terus terisak.
Masih bersedih tentang keberangkatannya yang tertunda.
Atau karena kamu mejahilinya dengan suara dan senyumanmu di telinga.
Mereka menemukannya sedang terisak di pinggir jalan.
Dia terisak karena sudah hampir putus asa dan marah.
Menanti seseorang yang menjemputnya.
Mereka datang… Tersenyum, dan menyapa.
Lalu dia berlari.
Mencarimu.
Lalu menerjang bahumu.
Dan begitulah alurnya sehingga kamu memeluknya, dengan lembut.
Dia melihat perempuan dengan kuncir di belakang.
Dia melihat para lelaki dengan wajah bertanya-tanya.
Dan dia, masih terus terisak.
Kamu, memegang tangannya,
Sambil seraya, membisikkan lembut,
“Aku sudah datang…”
Dan pipinya, masih terasa basah.
Black Hole

Ternyata ini masih tentang lubang yang sama.
"lagi takut"
"takut apa"
"takut realitas...takut sama beban kehidupan..."
"i see"
"rasanya kalo pulang ke rumah rasanya banyak bawa beban dari permasalahan yang ada"
"keluarga yang absurd. lagi gak ada yang bisa dijadiin pegangan. butuh orang tua, butuh keluarga, tapi gak bisa berharap."
"kalo kamu kayak gini terus, bisa ilang fokus."
"kamu bisa pake filosofi gunung, dulu kata papap, pas hiking berdua, kalo naik gunung, jangan liat yang jauh-jauh dulu, jangan liat ke atas, nanti kerasa berat dan cape, liat aja di depan kita, hadapi yang di depan aja, nanti gak kerasa tau-tau udah ada di puncak."
...............................................................
lagi dan lagi tentang lubang yang sama.
"patah hati...."
"siapa yang mematahkan hatimu sayang?"
"myself.."
"how come?"
"dia menyukai orang lain sepertinya. orang-orang lain datang, hanya mampir saja, lalu pergi. its hurts. malas ketemu orang, komunikasi cuma basa-basi. Lubangnya makin gede."
"kamu dalam fase apatis, akan segala hal. recovery lah, sebelum menyebar kemana-mana.bisa-bisa kamu membenci semuanya"
"yeah, sedang berjalan kearah
"jangan, hidup cuma sekali dan terlalu berharga, sakit wajar, sedih boleh, tapi jangan lama-lama. asingkan diri dulu. recovery. pikir-pikir apa yang mesti dipikir. tata ulang hati. setelah siap, kembalilah hadapi dunia."
"kenapa penyakitnya gini terus ya? bosan."
"Karena memang belum sembuh."
"lama banget merasa kayak gini."
"memang. nobody say it was easy.inget pada waktu masa gelap?itu memakan waktu yang lama sekali."
"dia bilang itu gampang."
"haha... dia tau apa, dia di posisi yang menyenangkan."
"dia bilang, jangan di bandingin. dia juga sulit. dia gak bisa sama orang yang dia cintai."
"sekarang apa namanya?"
"gak bisa selamanya."
"well, everybody has their own problem. Heal your pain."
"bagaimana?banyak sekali kekosongan."
"iya, ngerti. karena belum ada yang bisa mengisi. coba isi lubang yang kosong dengan diri kamu sendiri. ganti pola pikir kamu. Kamu cukup bahagia dengan diri sendiri."
"lagi-lagi saya begini, dan harus begitu."
...........................................................
"Ini masih penyakit hati yang lama. Jangan salahin diri sendiri. Mungkin kemarin hanya pengalihan perhatian aja"
"yah mungkin. harus nemu titiknya. Biar bukan sekedar pengalih. tapi benar-benar sembuh. but, i dont know..."
"betul, akan ada antiklimaks. percaya deh, saat kamu merelakan, merelakan sama Tuhan, terserah Dia mau dibagaimanakan hati kamu, titik yang sulit."
"cup..cup...jangan nangis. you still have me my dear.. sabar dan terus berfikir, logis. bikin hati sama otak sejalan, supaya bisa mikir."
"kenapa pikiran ini hanya sering berpikir yang buruk-buruk? kenapa telinga ini hanya dapat mendengar hal-hal yang menyakitkan?"
"ya, memang kamu sedang dalam fase apatis. fase tidak menerima. pesimis. Apatis sahabatnya pesimis. Mereka jahat. Seperti yang kamu rasa, segala-galanya terasa negatif. padahal engga."
"kenapa sering merasa begitu dengan waktu yang lama? dan selalu menyembunyikan rasa-rasa itu. lalu mengalihkan ke rasa yang lain?"
"mungkin penyakit itu sudah di
"Pray alot, pray hard, itu menenangkan."
....................................................................
(entah lubang itu dapat tertutup kapan, entah rasa akan bergerak ke arah mana, entah setinggi apa tembok yang akan dibangun, entah berapa banyak topeng yang harus digunakan, atau malah semestinya dihancurkan. Entah sugesti apalagi yang harus ditanam, agar terus tetap mempunyai spirit-spirit yang sebagaimana manusia punya. jangan merasa lelah dulu, jangan menyerah dulu.)






