28.9.14

Menggenggam Kebahagiaan

"The less you respond to negative people, 
the more peaceful your life will become." 
-Anonymous-


Suatu hari, di dunia antah berantah...

M : Random Question.
    What do you think about happiness?
H : In my opinion, kebahagiaan itu fitrah manusia.
    Kalo ga bahagia, berarti udah keluar dari fitrahnya.
    Tapi banyak orang yang ga sadar kalo kebahagiaan ada di dalem.
    Very close.
    Idealnya gitu, tapi kadang emang prakteknya butuh perjuangan.
M:  What exactly they need to find happiness on their own?
H:  Mungkin salah satunya bersyukur ya..
    Sama fokus sama apa yang dia udah punya, 
    jangan sama apa yang belum dia punya.

Yak. Sepakat.

Bahagia.
Seperti makan bersama dengan teman-teman.
Seperti berkumpul dengan keluarga.
Seperti melihat senja yang cantik.
Seperti membaca komik seharian.
Seperti berjalan diantara pohon pinus.
Seperti tertawa dengan teman baik.
Seperti makan eskrim kesukaan.
Seperti mendengarkan lagu-lagu kesukaan.
Seperti memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.
Seperti bangun tidur dipagi hari.
Seperti menyeruput teh manis atau coklat hangat.
Seperti menonton film atau kartun favorit.
Seperti melihat pelangi.
.
.
.
.
Seperti berbincang sore :)

Cuma "Kebetulan"


"Jika kebetulan terlalu banyak, 
apakah kamu percaya bahwa itu tidak bermakna?" 
-Ayu Utami-


Apakah kamu percaya akan sebuah kebetulan? Aku tidak. 
Tidak ada di dunia ini yang namanya kebetulan. 
Karena segalah hal yang terjadi di semesta ini, sudah tertulis dan tercatat. Begitu katamu.

Begitupun ketika aku menuliskan ini untukmu.

Hari itu cerah.
Aku sedang menikmati santap siangku dengan lahap.
Grill chicken dengan blackpepper sauce. Menu Favoritku di kafe itu. 
Lamat-lamat terdengar nada yang tidak asing di telingaku.
Ah lagu itu. Lagu lama yang telah di-remake oleh penyanyi masa kini. Lagu yang pernah kuberikan padamu saat senja itu. Beberapa tahun yang lalu...

Senja itu...
Menunggangi kendaraan tahun 86 kita bercengkrama, Aku bersenandung kecil dibelakang punggungmu. Aku tahu kamu tidak menyukai lagu itu. 
"Miris." katamu. 
"Lagu itu untukmu, tau!" ucapku dengan cuek.
Tidak lama, kita berteduh di sebuah mesjid di pinggiran kota. 
Ini adalah waktu yang tepat. pikirku.

"Simpan ya!" kataku. 
Aku serahkan sebuah buku teks berwarna hijau. Buku yang mewakili rasaku padamu saat itu. Kutuliskan sebuah ucapan dengan diakhiri s.e.m.e.s.t.a.
Kamu tersenyum dan berterima kasih. 

Senja itu... 
Ah, apa kabar ya orang itu. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dan mendengar kabarnya. Jadi teringat.

Lagu di kafe itu masih berputar ditelingaku. 
Belum lama berselang, ponselku berbunyi. Aku terkaget dengan nama yang tertera di layar. "s.e.m.e.s.t.a" 
Masih dengan perasaan campur aduk aku mengangkatnya. Ada suara yang tidak asing yang sudah lama tidak kudengar. Suara yang terdengar sama persis pada saat senja itu.

Kamu, yang katanya ingin mengunjungiku di hari Minggu :)
Apakah ini pertanda?

PS. Aku masih gemetaran untuk sebuah "kebetulan"

27.9.14

Catatan Kaki 27#


Dalam raga ada hati, dan dalam hati, ada satu ruang tak bernama. 
Di tanganmu tergenggam kunci pintunya.
Ruang itu mungil, isinya lebih halus dari serat sutera. 
Berkata-kata dengan bahasa yang hanya dipahami oleh nurani.
Begitu lemahnya ia berbisik, sampai kadang-kadang engkau tak terusik. 
Hanya kehadirannya yang terus terasa, dan bila ada apa-apa dengannya,
duniamu runtuh bagai pelangi meluruh usai gerimis.
Tahukah engkau bahwa cinta yang tersesat adalah pembuta dunia? 
Sinarnya menyilaukan hingga kau terperangkap, 
dan hatimu menjadi sasaran sekalinya engkau tersekap. 
Banyak garis batas memuai begitu engkau terbuai, 
dan dalam puja kau sedia serahkan segalanya. 
Kunci kecil itu kau anggap pemberian paling berharga.
Satu garis jangan sampai kau tepis:
membuka diri tidak sama dengan menyerahkannya.
Di ruang kecil itu, ada teras untuk tamu.
Hanya engkau yang berhak ada di dalam inti hatimu sendiri.

Kunci Hati - Dewi Lestari (Dee).