23.6.14

Terperangkap Pagi

Setiap pukul 05.20, alarm handphone selalu berbunyi. Namun kali ini, saya bangun lebih awal dari biasanya. Pak semut baik hati membangunkan tepat pada adzan subuh terdengar.  Kakinya yang berjalan di lengan, cukup membuat geli.

Hari ini, to-do-list saya lebih banyak dari biasanya. Maklum, deliverable untuk projek di China sebentar lagi deadline. Menyiapkan segala material real sample yang akan digunakan dalam satu projek merupakan salah satu jobdesc saya (salah satunya, loh!). Misalnya, jika dalam suatu desain mengusung konsep nature, biasanya material yang digunakan adalah batu-batu alam, tile dengan corak kayu, dsb. Nah tugas saya, mencari dan mendapatkan material asli tersebut. I am material expert (cih, angkuh! :p)


Memilah-milah material fabric, suatu hari di Bali.
Photo by. Me
Hunting material asli tidak semudah yang dibayangkan. Harus bisa SKSD dengan banyak supplier. Disini, kemampuan komunikasi diandalkan. Tidak hanya dengan supplier lokal saja, tapi juga dengan supplier internasional (karena kebanyakan projek kantor di luar Indonesia). Biasanya, kendalanya hanya diberi sedikit clue untuk material yang digunakan. Misalnya, “Suf, cari material seperti di image ini.” Nah saatnya memeras otak untuk step selanjutnya, cari dimana, material seperti apa, ukuran bagaimana. Suka ajaib juga kadang tiba-tiba nemu di tempat yang tidak disangka-sangka.


Hunting plat metal di daerah Jatayu, Bandung.
Photo by. Me

Nah, material asli ini biasanya dijadikan bahan presentasi untuk moodboard dan referensi dalam mewujudkan suatu desain. Soal revisi dan pergantian-pergantian material di tengah jalan, jangan ditanya deh.



My handmade material moodboard. 
Photo by. Me
Dan, karena to-do-list hari ini yang begitu padat otomatis, seharusnya saya bergegas untuk hunting. Harusnya.

Tapi pagi ini, saya agak terperangkap. Terperangkap dengan imajinasi sendiri. Sehingga membuat mata cukup lama terpejam dari biasanya. Menikmati lamunan sendiri memang bikin terbuai ya. Dan, saya benar-benar harus bergegas.


Ah Suf, pagi-pagi sudah terperangkap dengan imaji sendiri.

19.6.14

“Someone who makes your heart flutter or someone familiar?”

Judul itu saya ambil dari potongan dialog serial korea terakhir yang saya tonton. “Emergency Couple” judulnya.

Bukan. Saya bukan salah satu fan yang selalu update drama korea. Ceritanya waktu itu, saya sedang mampir ke kosan seorang teman. Kebetulan dia sedang menonton episode pertama serial tersebut. Otomatis, saya pun nebeng nonton juga. Baru setengah episode, teman saya tiba-tiba harus pergi, sehingga acara nonton bareng pun harus disudahi. Setengah penasaran sama serialnya, akhirnya saya cari-cari di internet. Yes, nemu juga! Hehe..

Seperti drama korea lainnya, yang suka bikin ketawa,-ketawa sendiri, senyum-senyum sendiri, malu-malu sendiri, dan sedih sendiri, serial ini pun begitu. Cukup menghibur dikala saya sedang gentayangan di pulau orang (red-Bali-). Tapi berkat serial ini, akhirnya saya jadi penasaran juga sama yang namanya Song Ji Hyo, Prestasi loh, saya bisa ingat namanya. Buat pemain yang lain, jangan tanya. Dari kecil, saya adalah tipe orang yang agak kesulitan untuk mengingat nama orang, nama tempat, judul film, nama benda., dsb. Makanya nilai sejarah saya jeblok sewaktu SD. Hehe.. Hapalan adalah salah satu kelemahan saya. Dulu itu, mending dikasih soal matematika deh ketimbang soal sejarah. Tapi ajaibnya, saya masuk kelas IPS, loh. Hehe..

Anyway, Song Ji Hyo itu sendiri saya ingat gara-gara acara Running Man, acara paling hits sejagat per-korea-an. Ajaib banget emang itu acara. Jago deh, kalau engga bikin senyum, ya bikin ketawa ngakak. Super jenius bisa buat acara sekreatif itu.

Balik lagi ke serial “Emergency Couple”, serial ini bercerita tentang pasangan yang menikah muda, lalu bercerai. Dan setelah berpisah selama 6 tahun, mereka dipertemukan kembali dalam satu tempat kerja yang sama. Yakni, sama-sama jadi dokter praktek di salah satu rumah sakit yang sama, divisi emergency room.

Apa rasanya coba, bertemu lagi sama seseorang yang pernah menjadi bagian paling penting di hidup kita. 
Dan menjadi asing lagi seketika. Walau berusaha dihapuspun, otak kita dengan baik hatinya ini menyimpan semua histori yang pernah terjadi. Dia bukan hardisk yang tiba-tiba hang lalu harus diformat ulang dan voila, menjadi bersih kembali kan? Walaupun dikubur dan disimpan rapat, si memori itu tetap ada di simpan, dalam otak kita entah dimana pun tempatnya. Begitu bersinggungan kembali walau dengan clue yang paling minim-pun, password-nya otomatis terbuka. Klik. Super canggih!

Ah ya, tapi tenang saja, kalau sudah melaju alias move on dan nerimo,  si memori itu hanya membangkitkan ingatan saja. Rasa bisa saja beradaptasi. Seperti, rasa sakit yang pernah dialami, bisa saja berubah dengan rasa manis yang membuat kita tertawa di kemudian hari. Ya, kan? Yakin deh. Salah satu teman saya pernah bekata, “Dua atau tiga tahun lagi, kita akan menertawakan diri kita saat ini.”True! Sangat kejadian pas saya baca-baca ulang tulisan-tulisan saya jaman dulu, atau status-status facebook saya saat 2-3 tahun yang lalu. Ah, jadi malu! Hihi… Abaikan.

Nah, seperti dalam serial emergency couple, jika ada pertanyaan dari judul tulisan ini muncul, saya ingin keduanya. Tapi, jika harus memilih, mungkin saya pun akan menjawab sama seperti si tokoh lelakinya.


“Why do bird, suddenly appear, everytime, you are near. Just like me, they want to be, close to you…”
Tapi, rasa deg-degan kadang juga bikin mati kutu nih.

PS.
Walaupun si tokoh lelaki ini menjawab “someone who makes him flutter.” Tapi, pada akhirnya dia end up juga dengan “someone familiar.” Nah, loh! Who knows!

17.6.14

Terima Kasih, ya!

February 24, 2014 at 9:28am


NP: Coldplay - Everything's not lost.

"Home is where my heart is."

Aku terjaga dalam hiruk pikuk kota ini.
Kota yang yang begitu cepat bertumbuh dengan kesibukan lalu lintasnya.

“Waktunya berkemas, kawan.” Begitu katanya.
Dalam hitungan detik, naluriku memahami makna kalimat tersebut. Aku akan pulang menuju rumahku.

Aku mulai berkemas, tidak semua barang aku bawa serta. Beberapa hal, rasanya sudah sewajarnya ada disana dan tidak patut aku bawa pulang.

Disini, aku menunggu angkutan yang akan membawa kami pulang.  Sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam. Penjemput belum tiba juga. Aku begitu sibuk menelepon. “Posisi ada dimana, Pak?”

Ah, akhirnya datang juga. Sebuah angkutan besar muatan 8-10 orang akan membawa kami dengan nyaman.

“Tunggu dulu pak!” aku berkata dengan tiba-tiba. Rupanya adikku belum siap berkemas.
“Aduuhhhh..” keluhku. Dengan berat hati aku berkata, “Silakan pak tinggalkan saja kami. Adikku belum siap berkemas. Kami akan menyusul dengan angkutan umum saja.”

Aku mulai membantu adikku berkemas. Memasukkan barang-barangnya dalam 3 koper. “Banyak sekali barang bawaanmu!”
Setelah selesai membantu adikku berkemas, aku mulai berpikir, akan memakai apa kami untuk pulang?
Salah satu temanku membantuku, ”Aku akan mengirimkan untukmu penjemputnya!” begitu katanya. Ah, terima kasih kawan, engkau memang pengertian sekali.

Penjemput datang. Dia membawa angkutan mewah yang hanya dapat memuat 3-4 orang saja. “Ah, bagus sekali angkutanmu. Tapi rasanya kami semua tidak akan masuk pada angkutanmu. Terima kasih, tapi rasanya tidak adil jika aku harus meninggalkan sebagian yang lain.” Maka akupun mengucapkan perpisahan pada penjemput itu.

Penjemput yang lain datang. Angkutannya hampir sama dengan angkutan yang pertama. Bermuatan 8-10 orang. Tapi sayang, didalamnya sudah banyak penumpang. Rasanya akan sesak jika kami masuk di dalamnya. Aku mengalah. Lagi-lagi hanya mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih, ya.”


-Imajinasi setelah bangun pagi-

Bali, 24 Februari 2014
Sufty Nurahmartiyanti, 

Manusia Lingkar Luar

February 24, 2014 at 9:54am


....

Seperti penonton pertandingan sepak bola yang berada di antara begitu banyak penonton yang riuh redam karena pertandingan. Dia hanya menonton. Memperhatikan. Tak pernah ia tahu bagaimana rasanya dalam pertandingan itu sendiri.

Ia yang mengabaikan fungisnya sebagai dirinya. Larut dalam lingkaran luar.
Mencoba meredam segala hasrat agar tetap di batasan yang paling luar.
Seperti ada jarak antara ia dan realitas.
Aman dalam zona nyaman.


“Aku akan diam di atas sana, sementara kalian berperang.”


Penakut?!
Pengecut?!


Bali, 20 Februari 2014.
Sufty Nurahmartiyanti.

Inti Dasawarsa

November 6, 2013 at 12:08pm


... Seperti Rubik.
Setiap sudut sisinya dapat berubah, bergerak gerak, berganti, mencari kombinasi...

Tapi ada satu yang pasti...
dari sebuah inti...
tidak berubah, tidak bergerak, tidak berganti, tidak mencari-cari...
tetap sama isi dan hakiki.

-selama satu dasawarsa-


Bandung, 6 November 2013.
Sufty Nurahmartiyanti. 

Adu Batu

December 10, 2013 at 3:05am

Batu satu, batu dua, batu tiga, batu empat
Empat batu sedang merapat
Berdebat siapa yang paling hebat
Diantara empat dalam sabuah jagat
Batu satu merasa kuat
Batu dua merasa tanpa sekat
Batu tiga merasa keramat
Batu empat merasa dahsyat

Batu beradu batu
Tanpa tau siapa yang mengadu
Namanya juga batu
Tidak ingin diberi tahu

DASAR BATU!

Tanpa kalian tahu
Ini batu ada selalu
di dalam setiap satu

-semoga cepat berlalu-


10 Desember 2013,
Sufty Nurahmartiyanti 

Part 1# - 72 Jam: Bali – Lombok – Sumbawa – Pulau Moyo.

"Random and Lucky Trip"

Bisa dibilang ini merupakan trip random dan lucky dalam mengisi long weekend pada tanggal 27-30 Mei 2014. Random, karena sangat dadakan dan tanpa rencana. Saya dan seorang teman, baru memutuskan akan eksplore Sumbawa, pada tanggal 27 Mei di siang harinya. Walaupun kami masih buta arah, kami putuskan untuk pergi trip menuju Pulau Moyo dengan memakai sepeda motor. Yep! Sepeda Motor. Wuihii~

***
Berbekal dengan GPS, kami berangkat dari Jimbaran pada jam 9 malam, dengan tujuan pertama, yakni Pelabuhan Padang Bai, Bali. Dua jam perjalanan yang kami tempuh menuju pelabuhan, disambut manis dengan hujan yang sangat besar. Errrr...

Note: Pelabuhan Padang Bai merupakan pelabuhan penyebrangan kapal feri menuju Lombok, dan buka 24 jam. Jadwal kapalnya sendiri berangkat setiap satu jam sekali.

Karena kapal jam 11 malam sudah penuh muatan, maka kami harus menunggu, -tepatnya berteduh- selama satu jam untuk bisa berangkat dengan kapal selanjutnya, menuju Pelabuhan Lombok Barat. Pelabuhan yang banjir tidak cukup menyurutkan semangat kami untuk eksplore Sumbawa. Yeah!

Penyebrangan selama 4 jam kami lalui dengan kurang menyenangkan. Haha. Serius. Impian ingin tidur nyenyak semalaman, buyar karena jackpot a.k.a muntah massal para penumpang. Dengan kapal super goyang, serta bunyi jackpot yang mengganggu, membuat saya pun tidak khusyu untuk tidur. Pada saat itu, waktu menunjukkan jam 2 malam, dan saya masih terjaga. Saatnya untuk mendengarkan musik. Sip.


*Lombok Barat.
Sesampainya di Lombok, jalanan tampak masih gelap. Tidak heran Lombok dijuluki “seribu masjid”, karena hampir setiap 200 meter,  kami bisa menemukan masjid. Kondisi yang berbanding terbalik dengan Bali, tentunya. Namun, jalanan gelap sedikit membuat saya was-was. Saya tidak terlalu suka gelap. Hehe. Walaupun begitu, motor kami tetap melaju random mengikuti sign system ke arah Praya, Lombok Tengah. Pada saat itu, GPS saya tidak dapat digunakan karena lokasi tujuan kami, yakni Pelabuhan Kayangan di daerah Lombok Timur tidak dapat terdeteksi. Setelah melaju random selama satu jam, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dulu di Masjid terdekat, sambil bertanya-tanya pada penduduk setempat. Untung saja adzan subuh telah terdengar. Masjidpun cukup ramai saat itu.

Peribahasa “Malu bertanya sesat di jalan”,  nampak berlaku untuk kami. Ternyata kami telah mengambil arah yang keliru. Seorang bapak baik hati menjelaskan kami arah jalan menuju Lombok Timur. Alhamdulillah, dengan arah yang cukup rumit, kami tetap gak mudeng. Untungnya hp teman saya lebih canggih, dan ternyata GPSnya dapat mendeteksi lokasi Pelabuhan Kayangan. Oke, saatnya balik arah. GPS, aku padamu.

Berdasarkan GPS, kami harus melewati jalanan kecil yang cukup panjang. Ternyata jalan tersebut melewati area pedesaan. Terlihat para penduduk yang jalan-jalan pagi (mungkin) untuk mencari kehangatan. Tidak jarang, beberapa orang berkumpul dan duduk-duduk di jalanan, -tepatnya ditengah jalan-. Ah, mungkin akhir minggu membuat mereka memiliki waktu luang lebih.

***

Rinjani dari kejauhan.
Photo by. me.

Sinar matahari tampak dari kejauhan. Target untuk menikmati momen matahari terbit di Pelabuhan Kayangan terlewati sudah. Kami masih harus menempuh beberapa puluh kilometer lagi untuk menuju pelabuhan. Satu-satunya penghibur bagi saya adalah view Pegunungan Rinjani yang cantik dari kejauhan. Subhanallah.

Note: Semua kapal di Pelabuhan Kayangan adalah menuju pelabuhan Pototano, Sumbawa. Setiap jam nya selalu ada kapal yang berangkat.

Pada jam 8 pagi, kami sampai di Pelabuhan Kayangan. Nasi bungkus pelabuhan terasa nikmat setelah perjalanan sejauh ini. Apalagi bisa melihat view Rinjani dari dekat. Rasa antusias makin menjadi saat kami sudah menyebrangi Lombok dan mendekati Pelabuhan Pototano, Sumbawa setelah dua jam perjalanan.

*Sumbawa

Bukit di Sumbawa.
Photo by. me

Waaaahhh… akhirnya sampai juga di Sumbawa!!
Super antusias dan percaya ga percaya bisa sampai di sini. Pelabuhan Pototano terlihat cantik, karena pantai pasir putihnya dan airnya yang masih jernih. Pengen deh berenang di sana! Hehe. Tapi kami harus bergegas. Karena, sejauh informasi yang kami miliki, hanya ada satu kapal dalam satu hari menuju Pulau Moyo. Dan katanya, berangkat setiap jam set. 12. Ouch, tinggal satu jam setengah lagi waktu yang kami miliki. Let’s go!


Bisa guling-guling dulu di jalanan nih.  -Sumbawa-
Photo by. me


Menurut GPS, kami harus menempuh jarak sepanjang kurang lebih 60 km untuk bisa sampai di Labuan Bajo, yakni pelabuhan penyebrangan menuju Pulau Moyo. Melewati jalan dengan pemandangan bukit-bukit sabana, serta jalan aspal berkelok tepi laut, membuat saya menjadi agak sentimentil. Hehe. Ah,  Sumbawa sungguh cantik. Bersyukur sekali bisa sampai di daratan ini.

Menemukan pelabuhan untuk menyebrang ke Pulau Moyo, gampang-gampang susah. Pelabuhan Labuan Bajo yang kami maksud, ternyata hanyalah pelabuhan peti kemas. Sampai di sana, waktu menunjukkan pukul setengah 12. Kami kehabisan waktu. Dengan sedikit harapan, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari pelabuhan Kalibaru, pelabuhannya para kapal nelayan. Kami mengetahui pelabuhan ini, dari seorang bapak di Labuan Bajo. 

15 menit dari Labuan Bajo kami sampai di area Kalibaru. Setelah tanya sana-sini, kami mengetahui bahwa kapal menuju Pulau Moyo sudah berangkat kemarin sore dan akan berangkat lagi besok pagi. Ah,  sedih. Tapi karena penasaran, kami bergerak menuju satu area labuhan beberapa kapal nelayan. Kami bertemu beberapa lelaki bertato sedang duduk-duduk di satu warung. Kami bertanya apakah ada kapal menuju Pulau Moyo pada saat itu.  Mereka pun menunjuk pada salah satu kapal dengan beberpa penumpang di dalamnya dan menyuruh kami untuk memastikan pada si pemilik kapal. Setelah kami bertanya kemana arah tujuan mereka, ternyata mereka menuju Pulau Moyo!!! Alhamdulillaaaaahh. Senang sekali kami.  Lucky!

Perahu nelayan menuju Pulau Moyo.
Photo by. me

Note: Pulau Moyo dihuni hanya seribu jiwa dan terdiri dari tiga dusun. Salah satunya merupakan Dusun Labuan Aji, yang merupakan tujuan kami.

Awalnya kami agak kebingungan untuk nasib motor yang kami gunakan. Karena khawatir keamanan dan tidak adanya tempat parkir motor, akhirnya kami putuskan untuk mengangkut serta motor menuju Pulau Moyo. Yes!

Pulau Moyoooooo… kami dataaaang!!

***

-Bersambung-