Wangi tanah bercampur matahari, atau,
Menari nari menunggu petir, tanda sang naga datang.
Meninggalkan rumah hangat yang disediakan istimewa untukku.
Tapi sekarang tidak lagi.
Naga tak pernah datang.
Aku pun tak suka hujan.
Walaupun diam-diam aku selalu mengintip saat petir datang.
Bertanya apakah awan akan datang, atau kilau ekor naga.
Kupu-kupu kadang mengintari.
Serbuknya kadang bisa membahayakan. tapi kadang menyenangkan.
Aku teringat, si kelinci air.
Entah bagaimana kabarnya.
Apakah singa masih mencabiknya lewat kuku angin.
Atau mungkin dia sedang tertidur.
Karena sekarang musim dingin.
Tertidur ditempat yang hangat nan tersembunyi.
Mungkin juga sedang melahap wortel.
Tidak, itu tidak mungkin.
Kelinci air kan tidak suka wortel dan kuning telur.
Ah, aku merindukannya, semesta.
Rindu, rindu terhadap wangi buih dan gelembung sabun.
Rindu, rindu dengan wajah senja.
Rindu, rindu dengan payung pelangi.
Hay, Ibu dandelion, rasanya ingin sekali kuikut,
Memegang erat, dan melihat semesta dari udara,
Terlepas dari tuan kelabu yang menyita waktu.
-----kepada: semesta.------
2 komentar:
... karna si gadis kecil yg punya catatan ini sudah berubah, hujan tak lagi menyenangkan... hujan bukan lagi teman bermain, ia jadi penghalang untuk bepergian, bertemu dgn orang-orang... basahnya bukan keasyikkan tapi jadi kuyub dan lepek merusak penampilan... petir bukan lagi tanda sang naga dateng, tapi ya fenomena alam yg alami.... Sang Naga? apa lagi, ia tak pernah datang, karna ia memang tak ada....
karna si gadis kecil sekarang sudah besar.... untung dia masih menyimpan catatannya....
:)
siapapun kamu,
terima kasih ya :)
Posting Komentar