Walau singa terkenal dengan buasnya, tapi kelinci percaya, karna singa memiliki mata yang bercahaya. Cukup lama mereka hidup bersahaja. Sang singa selalu berkata dengan mata
cahayanya, "Aku sangat percaya padamu, tentang semua mimpi-mimpiku."
Tapi rimba berkata lain, mereka harus berpisah di percabangan jalan. Singa meyakini, bahwa suatu saat ia bisa mencabik kelinci dengan kejam akibat perjalanan yang kelam. Kelinci pun menangguk. Raganya sepakat, namun hatinya tidak.
Ia berjalan lalu berjalan, meninggalkan rimba yang kelam. Lalu sampailah ia di tepi sungai. Ia melihat air menari dengan begitu deras dan lincahnya. Ia pun mengamati cara air melewati batu batu dan kerikil sungai. Lincah dan sangat bergairah. Ia pun meminta pada Sang Semesta, bahwa ia ingin menjadi air, yang dapat melewati batu batu besar dengan tarian yang indah. Sang Semesta mengabulkannya. Kelinci itu pun berubah menjadi air...
Ia menari dengan lincah. Gerakannya memompa gairah. Kelinci berubah, perasaanya tercurah. Tapi air tetaplah air, ia harus mengisi wadah, mengikuti aliran. Dan akhirnya sampailah ia ke ujung muara, luasan samudra. Sang air lalu mengemban sebuah tugas. Ia harus menguap lalu tertampung awan, untuk menghujani daratan. Air yang dulu, berubah menjadi bulir bulir embun...
Sang embun hinggap dari ujung daun yang satu ke ujung daun yang lainnya. Dia tetap lincah, melompat ke satu tempat ke tempat lainnya. Sang angin yang melihat, tertarik padanya. Angin meniup niup embun kesana kemari. Menjaganya agar tidak jatuh ke bumi. "fuuhhhh..." Tiupan angin membuat embun senang, membuat embun bahagia. Tapi itu tidak berlangsung lama...
Embun mendengar sebuah suara menggelegar. Perhatiannya tertuju pada sebuah petir. "Dhuarrrrr!!" Ia mendengar bisikan hujan, "Sang naga akan datang...petir adalah penanda..." Embun menunggu... menunggu, menanti naga datang. Karena ia sangat penasaran. Angin yang bertiup tiup tidak pernah dihiraukannya. Sampai akhirnya, Ia senyap lalu padam. Sang embun pun tidak menyadari, bahwa angin adalah yang terpenting. Tapi embun kala itu terlena, dengan suara petir atau gemuruh naga...
Naga tak pernah datang, karena ia mungkin tak pernah ada. Gemuruh hanyalah distorsi suara semesta. Embun tercenung. Ia menyadari, bahwa hanya utopis yang ia nanti. Ia terhempas, bulir demi bulir, jatuh tersedot gravitasi bumi..."Pluk" ia jatuh di atas butiran tanah...
Di atas tanah, ia tersedot kuat, menelusuk ke dalam, terus dan terus... Ia bagaikan ditarik oleh sebuah medan magnet. Hisapannya yang kuat menariknya kedalam lentisel, pori kayu, batang, daun, tunas... Perih, sakit, remuk, redam. Dan berubahlah ia, menjadi bunga yang merekah nan cantik...
.
.
.
.
Tapi cerita, tidak berhenti sampai disitu...
.
.
.
.
Pada suatu hari, Sang bunga cantik, menjadi selir bumi. Apapun kata bumi, ia harus menurutinya. Menghadap ke barat, ke timur, ke utara, bahkan ke selatan. Ia harus selalu tersenyum. Ia harus selalu terlihat cantik. Ia harus tampil anggun. "Bunga harus selalu begitu." kata bumi. Bahkan, ketika bumi lelah, bunga harus tetap tersenyum untuk mengobatinya. Tapi bumi tak pernah tau, sang bunga kadang lelah dan ingin meneduh dibalik rindang pohon. Bumi selalu memiliki banyak keinginan. Banyak sekali, dan sang bunga harus selalu mendengarkan.
Suatu masa, Bumi ingin bunga terbang seperti kupu kupu. Tapi sang Bunga menolaknya. "Bagaimana mungkin, aku tidak punya sayap seperti kupu kupu..." tapi bumi tetap bumi. ia tidak ingin dibantah. Sang bunga bersedih, tapi matahari muncul menghiburnya, memberi kehangatan pagi. Hingga akhirnya, matahari memberikan sang bunga pelindung diri berbentuk duri. Tapi, tanpa sengaja, duri bunga menusuk bumi. Bumi marah. Bumi tidak suka dengan durinya. "tapi ini pemberian matahari..." lirih bunga.
Sang Bunga berbicara pada matahari. Ia ingin mengembalikan duri. "Tapi itu abadi, untuk melindungi diri..." kata matahari. Tak ada jalan lain, Sang bunga lalu memohon pada Sang Semesta, bahwa ia ingin mengabulkan keinginan bumi, untuk dapat terbang seperti kupu kupu.
"Baiklah..." ucap Sang Semesta.
Tapi rupanya, Sang Semesta memiliki kehendak lain.
Ia merubah sang bunga menjadi serbuk pelangi...
Ia terbang menjauh dari bumi...
Terbang... melintasi udara dan mewarnai semesta...
Terbang...
Terbang... untuk metamorfosa selanjutnya...
B e b a s...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar