9.3.10

Simsalabim....DATANG!!

Mereka yang memilih, Ia yang menentukan.

Dalam Stasiun Merah ini aku masih berdiri. Gerbong kereta yang terlewat satu demi satu, begitu cepat melaju. Masih seperti tahun-tahun sebelumnya. Kereta disini hanya lewat dan berhenti sebentar untuk mengangkut penumpang pilihannya.

Hari kemarin, baru ada seseorang turun dari sebuah gerbong kereta yang cukup mewah sepertinya, namun keesokannya, dengan cepat ia sudah menaiki kembali sebuah kereta yang ditentukan. Dengan kereta sedikit lebih usang. Tapi wajahnya terlihat begitu berbinar. Aku tak tahu apa artinya. Mungkin pura-pura tak ingin tahu karena iri dengan ekspresi yang ia miliki. Entah.

Aku masih saja berdiri disini. Mengalami sejak stasiun ini kosong, hingga stasiun ini penuh dengan sesak. Aku disini, mengamati pergerakan. Ada orang yang sering naik turun sampai orang yang hanya sekali aku lihat, dan cukup lama tidak kembali. Mungkin tidak akan pernah kembali dengan kereta yang ia tumpangi.

Jangan kira aku tak punya cerita, aku sudah pernah menaiki beberapa kereta. Yang pertama, ruangannya sangat sederhana, mungkin ini yang disebut gerbong untuk kelas ekonomi, tapi di sana hangat. Walau minim perabotan, Aku merasa nyaman. Aku belajar banyak di gerbong ini. Tentang sebuah kesederhanaan. Tentu saja dalam satu kereta tidak hanya ada satu gerbong, tergantung. Ada gerbong kepala, gerbong dapur dan makanan, gerbong pertama, kedua, dan selanjutnya, sampai berapa banyak gerbong itu diciptakan. Yang pertama ini ada empat gerbong tambahan. Aku paling suka di gerbong yang terakhir, walaupun pertama kali aku dipilih oleh gerbong yang ketiga, yang keempat ini lebih menyenangkan. Aku bisa bercerita banyak oleh penghuninya. Seperi kakak perempuanku. Tapi sayang karena aku dipilih gerbong yang ketiga maka, ketika tidak merasa nyaman, aku harus keluar dari kereta yang satu itu.

Lalu aku kembali menunggu di stasiun. Kereta pilihan selanjutnya datang, awalnya aku bingung, karena ada dua kereta datang saling berurutan, tapi aku tetap pilih kereta yang lebih sederhana. Kereta ini punya dua gerbong tambahan. Tapi sayang, aku tak sempat menengok dapur dan gerbong kepalanya,atau gerbang yang pertama, aku hanya diperbolehkan berada di gerbong yang terakhir, gerbong yang memilihku. Setelah beberapa lama, penghuninya bilang, aku salah naik kereta. Bukan kereta ini seharusnya yang aku naiki. Aku bersedih cukup lama. Karena aku kira, aku akan terbawa kereta itu sampai akhir perjalanan. Aku kembali lagi ke Stasiun Merah.

Setelah itu ada beberapa kereta yang berhenti, ia memperbolehkan aku masuk, tapi aku tidak diangkutnya, “hanya boleh melihat-lihat” katanya, mungkin penghuninya takut aku begitu ceroboh sehingga memecahkan barang-barang di dalamnya. Hmmm… ada juga kereta yang sering berhenti, pintunya selalu terbuka, tapi sayang, di dalamnya terlalu sesak, dan banyak orang, sehingga aku takut, kalau-kalau aku akan sulit bernapas, tapi rasanya aku tergoda dengan ruangnya yang begitu nyaman dan hangat, penghuninya begitu ramah, malah aku diperbolehkan masuk gerbang pertama hingga yang terakhir, tapi tetap saja aku merasa takut kalau-kalau ia hanya berhenti sebentar dan aku dikembalikan dengan cepat. Padahal aku berharap besar pada perjalanannya yang begitu mengasyikkan dan tak terlupakan. Mungkin disini bukan aku yang menentukan, tapi aku yang ditentukan. Aturan disini agak rumit. Walau sekarang, kereta tersebut sudah melaju kencang, entah kemana. Semoga saja sampai akhir, dan aku turut berdoa untuk kelancaran perjalanannya.

Kereta ketiga yang datang juga sederhana, gerbong tambahan kedua yang memilihku, rasanya setahun yang lalu kereta ini juga pernah membukakan pintunya untukku, tapi aku menolak, dengan alasan rasa yang tak pantas untuk dapat menaikinya. Tapi rupanya kali ini aku beranikan diri, sebenarnya aku hanya ingin melihat-lihat dulu, tapi keretanya melaju dengan cepat, sehingga Stasiun Merah itu terpaksa dengan cepat aku tinggalkan. Tidak berlangsung lama aku menaiki kereta ini. Rasanya aku salah naik kereta. Hingga pada akhirnya aku kembali ke stasiun yang pertama. Stasiun Merah. Dan seperti biasa menanti dan menunggu kereta selanjutnya untuk dapat berharap melaju sampai perjalanan stasiun akhir.

Tidak adakah tempat duduk untuk menunggu?

Ah, terima kasih pak kepala stasiun. Sudah lama kakiku pegal karena berdiri menunggu cukup lama.

Tidak ada komentar: