Baru saja aku terbangun. Padahal rasanya tidak ingin cepat-cepat aku terbangun. Memejamkan mata itu sangat nikmat. Karena kamu tidak berhadapan langsung dengan realita. Walaupun kamu sedikit mimpi buruk, tapi setidaknya itu tak pernah nyata. Mimpi, bermimpi, dongeng, tak nyata, terpejam, dengan rasa aman. Aman karena ragamu tetap diam dan tak usah kau lakukan apapun selain menutupinya dengan selimut, agar tak digigit nyamuk. Aman karena rasamu tak terasa nyata karena sudah tertanam dalam pikiranmu bahwa kamu akan terbangun lagi lalu kamu berhasil menghibur diri “tak apa, itu hanya mimpi”. Aman karena ruh mu yang berkeliaran itu tetap akan suci, karena apapun yang kamu lakukan kamu menafikkan diri “ragaku sedang tak sadar, pikiranku juga, ruhku bukan aku yang mengaturnya, sehingga aku tak pernah melakukan kesalahan apapun dengan nyata”. Oke, lupakan. Itu angan-angan. Untuk kembali pada realita, aku harus terbangun saat ini juga. Ini sudah di luar batas toleransi waktu. Ini waktuku.
Aku harus pandai mengatur waktuku. Agar dia tidak berkeliaran kesana kemari dan dirampas oleh tuan kelabu. Aku harus bangun, untuk mengambil waktu realitaku. Harus melakukan sesuatu untuk menguatkan ragaku, buang air, minum susu, lari pagi, makan camilan, sarapan. Dan melakukan sesuatu untuk menguatkan jiwaku, mendengarkan musik, membaca koran, menulis, dan melakukan berbagai rutinitas (yang seharusnya aku lakukan secara rutin tapi tak pernah menjadi rutin), memasak, hei bagiku memasak sama saja seperti memberi makan besar pada jiwa prematur ini, walaupun aku jarang memakan apa yang aku buat, tapi rasanya lebih puas bila mendapat ekspresi kenikmatan dari orang lain yang menghabiskannya. Itulah makanan jiwa, ketika prosesnya kamu berkeringat dan berusaha ditambah rasa susah payah, dan setelah berhasil kamu mendapatkan harga.
Setelah melakukan sesuatu untuk raga dan jiwaku, ini waktunya untuk ritual pembersihan. Mengambil air segayung demi segayung, menyirami dari ujung rambut hingga ujung kaki, membersihkan buangan raga yang terselip di sela-sela lipatan kulit, agar tak menumpuk sehingga membuat ragamu semakin lama, semakin membusuk dan mengeluarkan bau yang menusuk sehingga dapat mengganggu kinerja indramu. Begitupun dengan jiwa. Selalu ada limbah yang dihasilkan, bila tak cepat dibersihkan, sesuatu yang berkerak dan lama-lama menggerogoti dan membuat lubang hitam yang besar tanpa kau sadari. Entah dari obrolan dari orang-orang yang kau temui, atau dari pikiran-pikiran masa lalu yang hampir memfosil dalam ingatanmu, atau bahkan dari ekspektasi yang kamu dapatkankan sebelum itu semua terjadi. Buangan dari masa yang telah, sedang dan akan terlewati. Jangan sampai setengah-setengah dan menyisakan kotoran-kotoran kecil.
Aku sudah mulai fasih dan ahli dalam membersihkan ragaku, mungkin pada tahun ke dua puluh aku baru sadar secara sadar pada setiap detailnya. Meraba-raba setiap inchinya. Lalu menilai kesempurnaannya. Entah dari mana aku pelajari itu. Tapi setidaknya, ragaku mulai memberikan kenaikan grafik. Walaupun tak signifikan dan cepat memang. Oke, tapi masih ada hal lain. Untuk yang lain ini, memang tak tentu pembersihannya. Kamu bisa saja menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Tapi tak bisa itu kamu lakukan setiap waktu. Di waktu lain kamu harus mencari cara lainnya, agar si prematur ini tak cepat bosan dan menjadi kebal. Kamu bisa saja bercerita, entah pada yang nyata dan yang tidak nyata, atau hal-hal lain yang masih belum aku ketahui. Seperti yang aku bilang, aku masih belum banyak tahu. kalau aku sudah banyak tahu, aku akan memberi tahumu, setelah aku melewati koma ini,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar