14.1.11

Black Hole

Ternyata ini masih tentang lubang yang sama.

"lagi takut"
"takut apa"
"takut realitas...takut sama beban kehidupan..."
"i see"
"rasanya kalo pulang ke rumah rasanya banyak bawa beban dari permasalahan yang ada"
"keluarga yang absurd. lagi gak ada yang bisa dijadiin pegangan. butuh orang tua, butuh keluarga, tapi gak bisa berharap."
"kalo kamu kayak gini terus, bisa ilang fokus."
"kamu bisa pake filosofi gunung, dulu kata papap, pas hiking berdua, kalo naik gunung, jangan liat yang jauh-jauh dulu, jangan liat ke atas, nanti kerasa berat dan cape, liat aja di depan kita, hadapi yang di depan aja, nanti gak kerasa tau-tau udah ada di puncak."
...............................................................

lagi dan lagi tentang lubang yang sama.
"patah hati...."
"siapa yang mematahkan hatimu sayang?"
"myself.."
"how come?"
"dia menyukai orang lain sepertinya. orang-orang lain datang, hanya mampir saja, lalu pergi. its hurts. malas ketemu orang, komunikasi cuma basa-basi. Lubangnya makin gede."
"kamu dalam fase apatis, akan segala hal. recovery lah, sebelum menyebar kemana-mana.bisa-bisa kamu membenci semuanya"
"yeah, sedang berjalan kearah sana."
"jangan, hidup cuma sekali dan terlalu berharga, sakit wajar, sedih boleh, tapi jangan lama-lama. asingkan diri dulu. recovery. pikir-pikir apa yang mesti dipikir. tata ulang hati. setelah siap, kembalilah hadapi dunia."
"kenapa penyakitnya gini terus ya? bosan."
"Karena memang belum sembuh."
"lama banget merasa kayak gini."
"memang. nobody say it was easy.inget pada waktu masa gelap?itu memakan waktu yang lama sekali."
"dia bilang itu gampang."
"haha... dia tau apa, dia di posisi yang menyenangkan."
"dia bilang, jangan di bandingin. dia juga sulit. dia gak bisa sama orang yang dia cintai."
"sekarang apa namanya?"
"gak bisa selamanya."
"well, everybody has their own problem. Heal your pain."
"bagaimana?banyak sekali kekosongan."
"iya, ngerti. karena belum ada yang bisa mengisi. coba isi lubang yang kosong dengan diri kamu sendiri. ganti pola pikir kamu. Kamu cukup bahagia dengan diri sendiri."
"lagi-lagi saya begini, dan harus begitu."
...........................................................
"Ini masih penyakit hati yang lama. Jangan salahin diri sendiri. Mungkin kemarin hanya pengalihan perhatian aja"
"yah mungkin. harus nemu titiknya. Biar bukan sekedar pengalih. tapi benar-benar sembuh. but, i dont know..."
"betul, akan ada antiklimaks. percaya deh, saat kamu merelakan, merelakan sama Tuhan, terserah Dia mau dibagaimanakan hati kamu, titik yang sulit."
"cup..cup...jangan nangis. you still have me my dear.. sabar dan terus berfikir, logis. bikin hati sama otak sejalan, supaya bisa mikir."
"kenapa pikiran ini hanya sering berpikir yang buruk-buruk? kenapa telinga ini hanya dapat mendengar hal-hal yang menyakitkan?"
"ya, memang kamu sedang dalam fase apatis. fase tidak menerima. pesimis. Apatis sahabatnya pesimis. Mereka jahat. Seperti yang kamu rasa, segala-galanya terasa negatif. padahal engga."
"kenapa sering merasa begitu dengan waktu yang lama? dan selalu menyembunyikan rasa-rasa itu. lalu mengalihkan ke rasa yang lain?"
"mungkin penyakit itu sudah di sana sejak lama. tapi kamu gak sadar itu ada.memang sulit, karena itu dibentuk bertahun-tahun..."
"Pray alot, pray hard, itu menenangkan."
....................................................................
(entah lubang itu dapat tertutup kapan, entah rasa akan bergerak ke arah mana, entah setinggi apa tembok yang akan dibangun, entah berapa banyak topeng yang harus digunakan, atau malah semestinya dihancurkan. Entah sugesti apalagi yang harus ditanam, agar terus tetap mempunyai spirit-spirit yang sebagaimana manusia punya. jangan merasa lelah dulu, jangan menyerah dulu.)

Tidak ada komentar: