"praaaanngggg..."
suara pecahan kaca membangunkan perempuan kecil itu. Belum genap sepuluh tahun anak umur anak itu. Dia bingung. Karena setengah sadar dia mendengar suara tersebut. Dia kira, ada tabrakan di depan rumahnya. Dia berusaha mencari tau. Ketika dia berjalan ke arah ruang tamu, ternyata dia mendapati jendela ruang tamunya yang tidak bertralis itu pecah.
Lalu, dia mendengar ada orang yang berteriak "Cepat, buka pintunya! kalo tidak, saya Tembak!"
Namun, karena dia masih kecil, dia tidak begitu mengerti apa yang didengarnya. kemudian, dia mendapati bapaknya yang sudah uzur itu dipelintir tangannya oleh seorang laki-laki, dan dibelakang bapaknya itu, ikut sekelompok laki-laki yang mukanya setengah ditutup.
Tapi tetap saja, anak kecil itu masih belum mengerti keadaan yang sedang terjadi. sampai seorang laki-laki datang kehadapannya, sambil memegang golok yang diacungkan ke mukanya.
"Cepat! masuk kamar!" Teriak laki-laki itu, perempuan kecil itu memperhatikan wajah laki-laki yang sedang mencoba menutupi mukanya dengan sehelai kain sapu tangan. Sapu tangannya jatuh. Dia melihat muka laki-laki itu. Putih. Dengan mata yang agak sipit.
"capat!masuk kamar!" ulang laki-laki itu.
Anak kecil itu menurut. dan lagi-lagi berusaha mencerna itu semua.
Kakak tirinya berteriak "apa-apaan ini?".
Ibunya entah ada dimana.
Sedangkan sekelompok laki-laki yang tak dikenal itu membangunkan seisi rumah dengan kasar. Menendang-nendang. Dan menyuruh orang seisi rumah untuk masuk kamar itu. Dua kakak laki-lakinya hanya bisa berdiam diri dan menuruti kemauan orang-orang itu. Adik laki-lakinya juga ikut masuk kamar. dan hanya bisa diam. Mungkin dia juga berusaha untuk mengerti keadaan saat itu.
Dia mendengar ayahnya berteriak-teriak " Allahuakbar!Allahuakbar!"
Entah apa yang dilakuakan orang-orang itu terhadap bapaknya. Karena anak kecil itu tidak bisa melihat bapaknya yang sedang di ruangan lain. Yang ternyata sedang diinjak punggungnya.
"Tolong!jangan apa-apakan anak saya!" mohon bapaknya itu.
"Diam!" teriak laki-laki yang sedang bersama bapaknya.
lalu ada seseorang yang masuk kamar dan berteriak.
"Mana uangnya?!Mana Uangnya?!" teriak orang itu.
"Kami gak punya uang! Uang apa?! Silakan kalian cari sendiri! Kami ini miskin! Kalian salah kesini!" teriak kakak-kakaknya si perempuan kecil itu.
"ahhhh!!cepat kasih saya kunci lemarinya!"teriak lagi orang itu. Tapi karena dia kehabisan waktu, maka dia tidak berbicara lagi.
Sekelompok laki-laki itu mulai mengangkut barang-barang yang dia temukan di ruang keluarga dan di kamar kakak-kakaknya.
"Ampun...ampun..lepaskan saya...!sakiiitt...Allahuakbar"Teriakan bapaknya terdengar lagi.
"Berisik!sudah saya bilang, Diam!kalo ngga saya siksa anak kamu!"ancam laki-laki itu.
"Tolong,jangan siksa anak saya...iya...saya diam!Allahuakbar!"
"Sudah saya bilang diam!"teriak laki-laki itu.
Entah apa yang dilakukan sekelompok laki-laki itu di ruang keluarga.
Akhirnya, setelah mereka selesai dengan urusannya, sang bapak dimasukkan juga ke dalam kamar.
"aduuhh...aduh..."rintih bapak itu.
"iya..iya diam...!"kata laki-laki yang membawanya.
Perempuan kecil itu hanya bisa menonton. Masih belum mengerti. dan hanya bisa berpandangan dengan adik laki-lakinya, yang lebih muda setahun itu.
"Allahuakbar!"bapak itu berteriak setelah kelompok orang-orang itu mulai tidak ada. bapak itu berlari keluar dan berusaha mengejar orang-orang itu. Disusul oleh kakak-kakaknya.
Anak kecil itu akhirnya sadar dan menangis, karena shock.
"kami telah dirampok....." begitu katanya.
Dia menangis bersama adiknya dan tidak beranjak sedikitpun di dalam kamar...
dan dia hanya bisa berucap...
"ini semua salah saya...karena saya lupa shalat isya..."
begitulah. Perempuan kecil itu mengira semua yang terjadi malam itu, adalah kesalahannya, karena dia lupa shalat isya.
Itulah keluarga kami. Menjelang bulan Ramadhan sepuluh tahun yang lalu, keluarga kami dirampok. Hanya dalam waktu 15 menit.
Pada masa itu, semua serba susah. Masa krisis moneter. Dan kriminalitas meningkat saat itu.
keluarga kami sempat hidup tanpa TV selama 1 tahun lamanya.
KOmputer, printer, setrikaan, jam tangan, dll. tidak pernah kembali sejak saat itu. (iyalah,namanya juga dirampok)
Seminggu setelah itu, terjadi perampokan lagi di Bandung, pada peristiwa itu, anggota keluarganya ada yang dibunuh karena melawan.
Dan satu bulan kemudian, kami dapat kabar dari polisi, bahwa salah satu perampoknya, mati tertembak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar