23.7.13

Meluruskan Orbit




"Matilah terhadap segala yang kau ketahui. 
Matilah sebelum mati.
Karena kematianmu adalah kemerdekaanmu." 
–Supernova, Dee.




Kata pintar sekali mencari celah. Ia selalu berlari-lari, mencuat kesana kemari dalam waktu, pikiran, dan perjalanan yang statis, lalu ia hilang begitu saja. Sudah lama sekali saya tidak menulis. Menulis, dalam artian mengeluarkan segala pikiran random saya dalam sebuah kata-kata yang nyata.

Kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi, saya berada dalam masa-masa statis. Masa datar yang entah apa itu penyebabnya apa. Dimana pikiran-pikiran seenaknya membuat sugesti untuk melakukan ini dan itu. Jiwa saya pasrah menerima segala sugesti yang muncul. Statis, datar, mengikuti alur kemanapun. Menerima segala informasi tanpa ada filter untuk diri sendiri. Terlalu banyak berbagi kepada siapapun bahkan hal hal terkecil, sampai akhirnya saya tidak berbagi pada diri saya sendiri. Fokus saya meracau kemana-mana. Pikiran saya terbuai sampai akhirnya pertahanan diri menjadi sangat kendur. Tidak, saya sendiri tidak menyadari bahwa saya berada dalam masa itu, sampai akhirnya mengalami shocking therapy. Dikejutkan dengan peristiwa yang diluar nalar saya. Shock. Pada akhirnya, menangis sampai dalam. Tersentak dengan orbit yang telah saya lalui, yang mungkin sudah melenceng terlalu jauh.

Tuhan Maha Baik. Dia memberikan saya alarm, melalui shock therapy tersebut. Pada saat saya terlampau jauh kehilangan rasa dan nilai. Saya ditarik kembali pada suatu jeda. Membuat saya berhenti pada satu titik, dan mulai melihat sekeliling saya. Apa yang sebenarnya telah saya abaikan sampai akhirnya kehilangan. Esensi kehilangan yang sebenarnya, hanya karena kita terlalu obsesi pada satu hal. Karena kadang kita tidak menyadari apa yang benar-benar hilang, karena kita terlampau lugu oleh keadaan sehingga buyar dengan realitas sesungguhnya. Waktu yang terlewatkan, mimpi-mimpi yang pudar, potensi diri yang semakin melemah adalah hal yang saya abaikan hingga akhirnya hampir kehilangan. Saya terlalu fokus pada objek yang sebenarnya hanyalah fana.

Ini adalah titik balik. Kita manusia, selalu memerlukan momen untuk mengawali segala hal. Ramadhan kali ini Insya Allah memberi berkah bagi kita semua. Memberi kesadaran pada sesuatu hal yang harusnya kita sadari. Memberi kesempatan pada diri kita untuk merekonstruksi untuk menjadi lebih solid dari biasanya.

Segala puji bagi Tuhan semesta alam.

Cipaku, 23 Juli 2013.
Diantara pekerjaan yang mengantri.

Tidak ada komentar: