Papap yang selalu tangguh dalam bekerja,
selalu bijak dalam kesederhanaan,
tak pernah marah, dan selalu percaya pada anak-anaknya. Love you! ♥♥♥
-Saat akan piknik bersama ke Lembang bersama Ibu,-
Hari Minggu kemarin, saya putuskan untuk tidak keluar rumah seharian. Sering absennya para penghuni rumah adalah hal yang biasa. Karena kami sekeluarga jarang sekali berkumpul, maka “Kehadiran” menjadi hal yang sangat berharga di rumah kami. Seharian saya menata ini dan itu dalam rumah. “Menata” adalah hal yang sangat saya sukai untuk mengisi kekosongan waktu.
Malam harinya, setelah buka puasa, saya duduk disamping Papap yang sedang membaca koran. Saya perhatikan badannya semakin mungil dan gurat wajahnya bertambah seiring usia yang dijalaninya. Papap, dalam ingatan saya adalah sosok yang sangat sederhana, cara hidupnya tidak terbawa arus konsumtif zaman. Sekalipun saya tidak ingat bagaimana rupanya Papap jika marah. Papap tidak pernah menuntut untuk melakukan ini dan itu pada istri dan anak-anaknya. Ia selalu percaya pada kami. Sungguh penyabar, rendah hati, dan tak pernah mengeluh.
Papap sedang memakai peci, sarung, dengan atasan baju batik seperti biasa setelah sholat. Baju batik merupakan baju andalannya setiap hari. Baju batik selalu hadir pada setiap momen dan setiap pertemuan, bahkan saat beribadah. Saat saya duduk-duduk, tiba-tiba beliau berkata, “Nganggo acuk iyeu teh haneut. Tapi kancingna aya nu lepas.” – “Pake baju ini tuh hangat, tapi ada kancing yang lepas.” Mengingat saya adalah anak perempuan satu-satunya (untuk bisa menjahit). Saya tersenyum, lalu menyadari, bahwa inilah cara beliau meminta. Tidak mengungkapkan secara langsung. “Dieu Pap, ku neng jaitkeun. Mana cobi kancingna aya?” –“Sini Pap, saya jaitkan, kancingnya ada?” Ia lalu membawa satu toples kancing lengkap dengan jarum jahitnya.
Saya menjaitkan satu kancing yang lepas. Saya perhatikan ternyata kancing lain pun sudah hampir lepas. Lalu saya memperbaiki kancing-kancing yang lain sambil beliau bercerita bahwa ini baju kesayangannya. Baju batik ini pemberian dari saudara saat saya berumur 9 tahun. Terlihat rasa bangga mengenai baju batik yang Ia kenakan sekarang. Saya ingin menangis rasanya saat itu. Bertanya-tanya pada diri sendiri, Bakti apa yang sudah saya lakukan?
Saya teringat bagaimana perjuangannya dulu, bahwa beberapa kali jalan kaki, untuk menghemat demi anaknya bisa pergi sekolah. Saya teringat bagaimana saat Ia menghibur saya saat menangis setiap pembagian raport (karena takut dimarahi ibu). Ibu saya termasuk yang strick dalam pendidikan. Prestasi adalah nomor satu. Dia selalu yakin, bahwa anaknya cemerlang dan berprestasi. Saya juga teringat perjuangannya saat melawan perampok dulu. Dan masih banyak lagi.
Tahun ini genap Papap berusia 75 Tahun. Usia tidak muda untuk kepala keluarga. Tapi Ia tetap bekerja keras. Tidur hanya 4-5 jam sehari. Bekerja sebagai tukang sablon di rumah. "Ah, ngarah teu pikun." -"Ah, biar ga pikun" , katanya.
Papap tidak pernah memerintah atau meminta banyak hal pada anak-anaknya. Hanya satu pertanyaan yang beliau tanyakan pada saya kemarin. “Neng, iraha atuh? (menikah) Neng kan pintu gerbang (untuk adik/kakak saya).” Saya hanya tersenyum.
Lalu saya teringat, tulisan saya saat dahulu:
Papap atau ibu, tak pernah tau apa-apa yang anaknya lakukan. Tidak pernah bertanya, kecuali kami yang bercerita. Termasuk apa yang sedang saya alami. Rasa pedih dan gelisah yang sudah mencapai limit, hanya dapat terucapkan dengan kalimat, “Pap, doain neng, ya…” Beliau lalu bilang, “Itu mah gak pernah kelewat tiap sholat: Semoga diberikan pasangan yang diridhoi Allah, mendapat keturunan yang shaleh dan shalehah, diteguhkan imannya, semoga selalu mendapat kesehatan yang mumpuni, dilancarkan dan dimudahkan segala urusannya…”
Ramadhan kali ini rasanya berbeda dari Ramadhan biasanya. Ah, sudah lama mungkin saya tidak duduk mengobrol lama dengan Beliau.

2 komentar:
tulisannya bagus suft :) ayoo sering2 tulis blognya biar gw ada bacaan.. hehehe
@Diski : Makasi kikii! :D siap. siap.. hehe..
Posting Komentar