17.6.14

Part 1# - 72 Jam: Bali – Lombok – Sumbawa – Pulau Moyo.

"Random and Lucky Trip"

Bisa dibilang ini merupakan trip random dan lucky dalam mengisi long weekend pada tanggal 27-30 Mei 2014. Random, karena sangat dadakan dan tanpa rencana. Saya dan seorang teman, baru memutuskan akan eksplore Sumbawa, pada tanggal 27 Mei di siang harinya. Walaupun kami masih buta arah, kami putuskan untuk pergi trip menuju Pulau Moyo dengan memakai sepeda motor. Yep! Sepeda Motor. Wuihii~

***
Berbekal dengan GPS, kami berangkat dari Jimbaran pada jam 9 malam, dengan tujuan pertama, yakni Pelabuhan Padang Bai, Bali. Dua jam perjalanan yang kami tempuh menuju pelabuhan, disambut manis dengan hujan yang sangat besar. Errrr...

Note: Pelabuhan Padang Bai merupakan pelabuhan penyebrangan kapal feri menuju Lombok, dan buka 24 jam. Jadwal kapalnya sendiri berangkat setiap satu jam sekali.

Karena kapal jam 11 malam sudah penuh muatan, maka kami harus menunggu, -tepatnya berteduh- selama satu jam untuk bisa berangkat dengan kapal selanjutnya, menuju Pelabuhan Lombok Barat. Pelabuhan yang banjir tidak cukup menyurutkan semangat kami untuk eksplore Sumbawa. Yeah!

Penyebrangan selama 4 jam kami lalui dengan kurang menyenangkan. Haha. Serius. Impian ingin tidur nyenyak semalaman, buyar karena jackpot a.k.a muntah massal para penumpang. Dengan kapal super goyang, serta bunyi jackpot yang mengganggu, membuat saya pun tidak khusyu untuk tidur. Pada saat itu, waktu menunjukkan jam 2 malam, dan saya masih terjaga. Saatnya untuk mendengarkan musik. Sip.


*Lombok Barat.
Sesampainya di Lombok, jalanan tampak masih gelap. Tidak heran Lombok dijuluki “seribu masjid”, karena hampir setiap 200 meter,  kami bisa menemukan masjid. Kondisi yang berbanding terbalik dengan Bali, tentunya. Namun, jalanan gelap sedikit membuat saya was-was. Saya tidak terlalu suka gelap. Hehe. Walaupun begitu, motor kami tetap melaju random mengikuti sign system ke arah Praya, Lombok Tengah. Pada saat itu, GPS saya tidak dapat digunakan karena lokasi tujuan kami, yakni Pelabuhan Kayangan di daerah Lombok Timur tidak dapat terdeteksi. Setelah melaju random selama satu jam, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dulu di Masjid terdekat, sambil bertanya-tanya pada penduduk setempat. Untung saja adzan subuh telah terdengar. Masjidpun cukup ramai saat itu.

Peribahasa “Malu bertanya sesat di jalan”,  nampak berlaku untuk kami. Ternyata kami telah mengambil arah yang keliru. Seorang bapak baik hati menjelaskan kami arah jalan menuju Lombok Timur. Alhamdulillah, dengan arah yang cukup rumit, kami tetap gak mudeng. Untungnya hp teman saya lebih canggih, dan ternyata GPSnya dapat mendeteksi lokasi Pelabuhan Kayangan. Oke, saatnya balik arah. GPS, aku padamu.

Berdasarkan GPS, kami harus melewati jalanan kecil yang cukup panjang. Ternyata jalan tersebut melewati area pedesaan. Terlihat para penduduk yang jalan-jalan pagi (mungkin) untuk mencari kehangatan. Tidak jarang, beberapa orang berkumpul dan duduk-duduk di jalanan, -tepatnya ditengah jalan-. Ah, mungkin akhir minggu membuat mereka memiliki waktu luang lebih.

***

Rinjani dari kejauhan.
Photo by. me.

Sinar matahari tampak dari kejauhan. Target untuk menikmati momen matahari terbit di Pelabuhan Kayangan terlewati sudah. Kami masih harus menempuh beberapa puluh kilometer lagi untuk menuju pelabuhan. Satu-satunya penghibur bagi saya adalah view Pegunungan Rinjani yang cantik dari kejauhan. Subhanallah.

Note: Semua kapal di Pelabuhan Kayangan adalah menuju pelabuhan Pototano, Sumbawa. Setiap jam nya selalu ada kapal yang berangkat.

Pada jam 8 pagi, kami sampai di Pelabuhan Kayangan. Nasi bungkus pelabuhan terasa nikmat setelah perjalanan sejauh ini. Apalagi bisa melihat view Rinjani dari dekat. Rasa antusias makin menjadi saat kami sudah menyebrangi Lombok dan mendekati Pelabuhan Pototano, Sumbawa setelah dua jam perjalanan.

*Sumbawa

Bukit di Sumbawa.
Photo by. me

Waaaahhh… akhirnya sampai juga di Sumbawa!!
Super antusias dan percaya ga percaya bisa sampai di sini. Pelabuhan Pototano terlihat cantik, karena pantai pasir putihnya dan airnya yang masih jernih. Pengen deh berenang di sana! Hehe. Tapi kami harus bergegas. Karena, sejauh informasi yang kami miliki, hanya ada satu kapal dalam satu hari menuju Pulau Moyo. Dan katanya, berangkat setiap jam set. 12. Ouch, tinggal satu jam setengah lagi waktu yang kami miliki. Let’s go!


Bisa guling-guling dulu di jalanan nih.  -Sumbawa-
Photo by. me


Menurut GPS, kami harus menempuh jarak sepanjang kurang lebih 60 km untuk bisa sampai di Labuan Bajo, yakni pelabuhan penyebrangan menuju Pulau Moyo. Melewati jalan dengan pemandangan bukit-bukit sabana, serta jalan aspal berkelok tepi laut, membuat saya menjadi agak sentimentil. Hehe. Ah,  Sumbawa sungguh cantik. Bersyukur sekali bisa sampai di daratan ini.

Menemukan pelabuhan untuk menyebrang ke Pulau Moyo, gampang-gampang susah. Pelabuhan Labuan Bajo yang kami maksud, ternyata hanyalah pelabuhan peti kemas. Sampai di sana, waktu menunjukkan pukul setengah 12. Kami kehabisan waktu. Dengan sedikit harapan, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari pelabuhan Kalibaru, pelabuhannya para kapal nelayan. Kami mengetahui pelabuhan ini, dari seorang bapak di Labuan Bajo. 

15 menit dari Labuan Bajo kami sampai di area Kalibaru. Setelah tanya sana-sini, kami mengetahui bahwa kapal menuju Pulau Moyo sudah berangkat kemarin sore dan akan berangkat lagi besok pagi. Ah,  sedih. Tapi karena penasaran, kami bergerak menuju satu area labuhan beberapa kapal nelayan. Kami bertemu beberapa lelaki bertato sedang duduk-duduk di satu warung. Kami bertanya apakah ada kapal menuju Pulau Moyo pada saat itu.  Mereka pun menunjuk pada salah satu kapal dengan beberpa penumpang di dalamnya dan menyuruh kami untuk memastikan pada si pemilik kapal. Setelah kami bertanya kemana arah tujuan mereka, ternyata mereka menuju Pulau Moyo!!! Alhamdulillaaaaahh. Senang sekali kami.  Lucky!

Perahu nelayan menuju Pulau Moyo.
Photo by. me

Note: Pulau Moyo dihuni hanya seribu jiwa dan terdiri dari tiga dusun. Salah satunya merupakan Dusun Labuan Aji, yang merupakan tujuan kami.

Awalnya kami agak kebingungan untuk nasib motor yang kami gunakan. Karena khawatir keamanan dan tidak adanya tempat parkir motor, akhirnya kami putuskan untuk mengangkut serta motor menuju Pulau Moyo. Yes!

Pulau Moyoooooo… kami dataaaang!!

***

-Bersambung-



2 komentar:

Eunce mengatakan...

jadi pengen maen >.<

bushtonk13 mengatakan...

ekheemm,,, mission complete!!! (y)