22.12.09

Permohonan Padang Semesta


Kaki gadis kecil gemetaran… tak kuat menopang tubuhnya yang mulai berontak. Tangannya mencengkeram bagian dada baju bocah semesta. Kepalanya tertunduk menyembunyikan air yang keluar dari pelupuk matanya.

“kamu kejam…” geram gadis kecil. “kejam sebesar semesta…” suaranya tergetar. Lirih. Tanda ia kelelahan.

Bocah semesta hanya terdiam dan memandang tubuh gadis kecil yang tergetar.

“kamu jahaaaat…” gadis kecil itu mulai merengek dan berteriak tangannya masih mencengkeram. Kepalanya jatuh bersandar pada dada bocah semesta itu… tangannya masih mencengkeram bajunya yang mulai basah dan kusut.

“maafkan aku gadis kecil…” sahut si bocah.

“huuuhuuuhuu…a-a-aku pikir… huks, kaamuu tidak sama dengan anak-anak laiiin, huks, aku pikir mimpiku d-dan kamu samaa, huks, a-aku pikir kita akan bersama-samaaa… huks, aku pikir, kamu tidak akan meninggalkanku seperti mereka…” gadis kecil itu merengek. Air mata yang mengalir merembes pada baju bocah semesta.

“tidak bisa seperti itu terus gadis kecil… “

“aku sediiihh,,,kita tidak bisa terus mendengar obrolan pohon setiap pagi bersama… kita tidak bisa terus bernyanyi dan berdongeng setiap malam. Kita tidak bisa terus menikmati bunyi jangkrik bersama-sama lagi…”

“kamu bisa menikmatinya tanpaku, gadis kecil…”

“ta-tapi itu tidak akan bisa menjadi indaaaaaahhh… kalau tanpa kamuuu… :(

“maaf gadis kecil, semesta memanggilku untuk menjaga yang lain… aku harus memastikan bahwa tumbuhnya dapat melewati garis peniruan…”

“kamu akan meninggalkanku disini sendiriaaaannnn… di padang rumput ini… payungku diterbangkan angin tornado yang ditinggalkan naga, topi jeramiku, bolong-bolong dipatuki burung pelatuk… dan aku tidak bisa lagi berteduh di balik tubuhmu… :(

“jangan menangis gadis kecil, aku tahu kamu pasti kuat… bila aku terus berada disisimu, kamu tidak akan bisa jadi penerusku untuk meraih mimpi… dan aku pasti akan membuatmu selalu bersedih…”

“Huhuhuuuuuuu… Jangan tinggalkan akuuu… aku mohon pada semesta, agar aku dan kamu dapat bersama-sama mewujudkan impian semesta yang hebat... dan menjadi teman bermain sepanjang waktu kita...” isak gadis kecil. Namun, kakinya sudah tak kuat menopang tubuhnya. Hingga akhirnya ia terhempas pada dada bocah semesta dengan pipi yang masih basah dan mata terpejam.

***

Dalam pejam, ingatannya menuju pada sebuah senyum bocah semesta. dan gadis kecil berbisik, "namaku AYAKA".

Karena hanya pada bocah semesta ia mengenalkan namanya.

2 komentar:

Vanimelde Eltariel mengatakan...

terharu :(
hebat banget ya...ada sebuah kreativitas yang dramatis dan dahsyat tercipta disaat kesukaran dalam hidup seseorang mengacaukan situasi batiniah... hahhahaa

lihat sisi positif ini :)

hope u'll fix things up soon!

Anonim mengatakan...

menangis saat butuh menangis..
lalu bangkit setelahnya..
u'll be alright!