7.10.14

Berdamai dengan Kesedihan.

"When sadness was the sea, you taught me how to swim." 
-Anonymous-


Diantara percakapan lintas angka...

M : Kamu bilang, kebahagiaan adalah fitrah manusia. 
    Lantas bagaimana dengan kesedihan? 
    "The saddest part" pernah mengalaminya?
H : Kesedihan.. hmm.. Pernah.. 
    Dulu, mungkin cara berpikirnya yang salah, 
    Sehingga, tidak bisa menerima antara harapan dan kenyataan.
M : Lalu?
H : Dengan keyakinan yang mantap, 
    bahwa segala sesuatu yang terjadi itu sudah ditentukan, 
    Dia tau yang terbaik untuk kita, 
    yakin juga kalo skenarioNya itu ingin melihat kita selamat dan bahagia. 
    Maju terus.

Perpisahan, kepedihan, mungkin diberikan oleh Tuhan agar kita menengok kembali apa yang ada di relung hati, serta keadaan sekeliling kita.
Ketika kita sedang sibuk-sibuknya mengikuti arus, Dia memberikan kita jeda untuk berhenti sejenak. Menengok kembali keadaan, mengecek apakah arus yang kita ikuti, mengikis banyak apa yang kita miliki.

Aku pun begitu. Mungkin kamu juga. Kita akan menyadari bahwa ternyata banyak orang yang dengan ikhlas memperhatikan kita. Kehilangan satu hal, membuat saya sadar bahwa kita masih memiliki banyak hal. Dan mungkin malah lebih bernilai.

Bandung, 7 Juli 2011
Sufty Nurahmartiyanti.


“…Kepedihan adalah obat pahit yang dipergunakan dokter untuk menyembuhkan dirimu yang sakit. Oleh karena itu, percayalah kepada dokter itu, dan minumlah obat itu dalam keheningan dan ketenangan. Sebab tangannya, meskipun berat dan kasar, dibimbing oleh tangan lembut dari yang Tak tampak…” –Almustafa, hal 75, Kahlil Gibran-



Tidak ada komentar: