Saya sebenarnya tidak ingin mengerti tentang semua hal ini. orang-orang bilang, kalo ini adalah anugrah yang Tuhan kasih untuk saya. Dapat memasuki batasan ruang sesorang dan dan dapat berdialog dengan "santai". Saya sangat berterima kasih, Tuhan memberikan "Anugrah" tersebut, karena dengan itu, saya dapat berdialog lebih dalam dan mengenali ruang mereka. Ruang yang sebenarnya terdapat tembok yang mereka ciptakan untuk orang luar. Dan hanya orang yang "diizinkan" yang boleh masuk untuk ruang mereka.
Saya kadang bertanya, apa yang membuat mereka merasa "nyaman" sehingga batasan ruang mereka dapat saya masuki. kadang saya agak kewalahan, karena "kenyamanan" tersebut ternyata membuat mereka memaksa masuk pada ruang yang saya ciptakan sendiri. Atau dalam kasus lain, mereka menginginkan, saya masuk jauh lebih dalam lagi untuk "mengisi" ruang mereka yang kosong, atau hanya sekedar "memperbaiki" ruang tersebut. Atau entah apa lagi.
Tapi, dalam proses tersebut, dampaknya, "indera" lain yang saya punya, menjadi tumpul. Saya harus mencerna lebih lama lagi, dan meyakinkan diri untuk "masukan" yang datang. Seperti, saya hanya terpaku pada orang tertentu saja, sehingga, ketika ada orang yang datang dan ingin memasuki ruang saya dengan baik-baik, malah saya acuhkan.
Saya berusaha untuk memerdekakan diri dari ruang-ruang mereka, tapi mereka menunjukkan rasa kecewanya, karena saya jarang menengok lagi ruang tersebut. atau malah meninggalkannya. tapi saya harus maju. atau, mencari ruang-ruang baru yang membuat saya lebih "segar".
Bukannya saya menyesal karena telah memasuki ruang itu, tapi yang saya butuhkan sekarang adalah ruang "segar". untuk hal tersebut saya harus membuat pilihan, Menghapus, Mengubah, Menerima, atau Mempertahankan.
hei,
terima kasih, karena saya diberi kepercayaan untuk masuk pada ruang kalian, tapi saya mohon, berikan saya suatu kejelasan, tentang ruang yang kalian punya... apakah saya harus Menghapus.. Mengubah.. Menerima.. atau Mempertahankan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar