AKU INGIN-sapardi djoko damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abuAku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
setiap manusia akan selalu tersimpan asa di dalamnya. karena asa merupakan spirit kehidupan. kecuali bagi mereka yang mati tapi hidup. mati asa, namun tetap bernafas. berjiwa seperti selongsong peluru tapi tanpa amunisi.
seorang berkata pada saya, "terus pelihara asa ya". Dia berulang kali mengucapkan hal tersebut pada saya. mungkin, pada masa itu, asa saya sedang sekarat, dan hampir mati. sehingga saya lebih berfikir untuk mengikuti aliran air. namun sekali lagi, dia berkata "PELIHARALAH ASA"
tentu. saya harus berjuang memelihara asa saya tersebut. dengan tulisan-tulisan saya, dengan membangun pikiran saya. jangan sampai Ia menjadi mati dan membusuk. saya harus berjuang dengan spirit-spirit yang saya dapat. jangan sampai saya menyerah dengan semua kondisi yang saya hadapi.
"lihat tukang pembersih jalanan yang terus menjalankan kehidupannya dengan senyuman. ia begitu hidup karena asa yang dimilikinya, walau materi pas-pasan. tapi, lihat pengemudi mobil mewah itu, seperti kuburan di dalamnya, karena asanya telah hilang, padahal materinya mencukupi. bahkan banyak sekali orang yang bunuh diri." dia berkata seperti itu lagi.
dengan segala permasalahan yang cukup hebat datang pada hidup saya, saya pun harus pintar-pintar memelihara asa tersebut. kalaupun saya menangis, kalaupun saya menjerit karena permasalahan tersebut, itu menjadi sebuah loncatan untuk saya ajar bisa lebih kuat menghadapinya. karena saya mempunyai keyakinan tersendiri dengan sesuatu di luar wilayah manusia. setiap manusia mempunyai sumber kekuatan untuk masing-masing. ada yang menjadikannya diri sendiri sebagai sumber kekuatan, atau menjadikan orang lain sebagai sumber kekuatan. itu pilihan. dan kalau kalian melihat saya yang sabar, atau saya yang diam, atau saya yang selalu tersenyum, itu menjadi kekuatan tersendiri untuk saya. begitupun dalam hal 'itu'.
saya pun meyakinkan pada diri saya sendiri. bahwa entah kapan, saya harus yakin, akan ada yang datang. dan entah siapa. dengan bersamanya kami dapat saling melengkapi keberadaan satu sama lain. bukan harapan yang digantung pada orang itu, tapi keberadaannya saja, cukup memenuhi harapan sederhana saya. bukan untuk pamrih akan perasaan, tapi dengan keberadaannya, dapat memberikan nilai lebih pada diri. bukan saling balas membalas dengan suatu perbuatan. tapi, seiring dengan dia ada, maka semuanya akan lebih bernilai. secara manusiawi, saya pun ingin diakui keberadaannya. tapi dalam taraf sewajarnya. bukan untuk memiliki satu sama lain juga. karena kita manusia hanya ciptaanNya, bukan pencipta. dan segalanya adalah milikNya. dan sebagai manusia diberi amanat untuk "menjaga" dan "memelihara". saya bukannya tidak bisa marah. saya bisa marah, tapi untuk itu , saya pun harus dapat "menjaga" marah saya. marah yang memang harus marah. marah yang tidak usah marah. parameternya dari diri saya sendiri.
dan setiap manusia mempunya cara tersendiri untuk menikmati hidupnya. itu semua pilihan. saya pun begitu. kalau kalian menilai saya yang menyakiti diri sendiri, mungkin bagi saya itu bukan tersakiti. mungkin hal-hal yang dapat meyakiti saya ada di jalur lain. entah itu sagat berbeda atau pun sama. yang jelas, semuanya dalam taraf yang "wajar" dan "manusiawi".
keyakinan pada diri sendiri, dan pada sesuatu hal yang di luar wilayah manusia dan tunggal dan tidak ada yang dapat menandingi, adalah sumber kekuatan tersendiri bagi saya.
dari awal, saya tidak banyak menggantungkan harapan pada seseorang. dan bila ada satu hal, yang sederhana dan itupun tidak bersifat wajib. saya hanya menginginkan kejujuran.
"Biarlah Allah yang menjadi penolongmu, biarlah Allah menjadi pelindungmu. dan Dia Maha Mengetahui siapa musuh-musuhmu."
dan saya yakin, ada Dia di sana. dan saya harus banyak bersyukur.
"sesederhana, untuk dapat membangunkan seseorang dari tidurnya lalu membuatkannya secangkir teh atau kopi."
"sesederhana, untuk dapat mengucapkan aku dan kamu diantara kita."
seorang berkata pada saya, "terus pelihara asa ya". Dia berulang kali mengucapkan hal tersebut pada saya. mungkin, pada masa itu, asa saya sedang sekarat, dan hampir mati. sehingga saya lebih berfikir untuk mengikuti aliran air. namun sekali lagi, dia berkata "PELIHARALAH ASA"
tentu. saya harus berjuang memelihara asa saya tersebut. dengan tulisan-tulisan saya, dengan membangun pikiran saya. jangan sampai Ia menjadi mati dan membusuk. saya harus berjuang dengan spirit-spirit yang saya dapat. jangan sampai saya menyerah dengan semua kondisi yang saya hadapi.
"lihat tukang pembersih jalanan yang terus menjalankan kehidupannya dengan senyuman. ia begitu hidup karena asa yang dimilikinya, walau materi pas-pasan. tapi, lihat pengemudi mobil mewah itu, seperti kuburan di dalamnya, karena asanya telah hilang, padahal materinya mencukupi. bahkan banyak sekali orang yang bunuh diri." dia berkata seperti itu lagi.
dengan segala permasalahan yang cukup hebat datang pada hidup saya, saya pun harus pintar-pintar memelihara asa tersebut. kalaupun saya menangis, kalaupun saya menjerit karena permasalahan tersebut, itu menjadi sebuah loncatan untuk saya ajar bisa lebih kuat menghadapinya. karena saya mempunyai keyakinan tersendiri dengan sesuatu di luar wilayah manusia. setiap manusia mempunyai sumber kekuatan untuk masing-masing. ada yang menjadikannya diri sendiri sebagai sumber kekuatan, atau menjadikan orang lain sebagai sumber kekuatan. itu pilihan. dan kalau kalian melihat saya yang sabar, atau saya yang diam, atau saya yang selalu tersenyum, itu menjadi kekuatan tersendiri untuk saya. begitupun dalam hal 'itu'.
saya pun meyakinkan pada diri saya sendiri. bahwa entah kapan, saya harus yakin, akan ada yang datang. dan entah siapa. dengan bersamanya kami dapat saling melengkapi keberadaan satu sama lain. bukan harapan yang digantung pada orang itu, tapi keberadaannya saja, cukup memenuhi harapan sederhana saya. bukan untuk pamrih akan perasaan, tapi dengan keberadaannya, dapat memberikan nilai lebih pada diri. bukan saling balas membalas dengan suatu perbuatan. tapi, seiring dengan dia ada, maka semuanya akan lebih bernilai. secara manusiawi, saya pun ingin diakui keberadaannya. tapi dalam taraf sewajarnya. bukan untuk memiliki satu sama lain juga. karena kita manusia hanya ciptaanNya, bukan pencipta. dan segalanya adalah milikNya. dan sebagai manusia diberi amanat untuk "menjaga" dan "memelihara". saya bukannya tidak bisa marah. saya bisa marah, tapi untuk itu , saya pun harus dapat "menjaga" marah saya. marah yang memang harus marah. marah yang tidak usah marah. parameternya dari diri saya sendiri.
dan setiap manusia mempunya cara tersendiri untuk menikmati hidupnya. itu semua pilihan. saya pun begitu. kalau kalian menilai saya yang menyakiti diri sendiri, mungkin bagi saya itu bukan tersakiti. mungkin hal-hal yang dapat meyakiti saya ada di jalur lain. entah itu sagat berbeda atau pun sama. yang jelas, semuanya dalam taraf yang "wajar" dan "manusiawi".
keyakinan pada diri sendiri, dan pada sesuatu hal yang di luar wilayah manusia dan tunggal dan tidak ada yang dapat menandingi, adalah sumber kekuatan tersendiri bagi saya.
dari awal, saya tidak banyak menggantungkan harapan pada seseorang. dan bila ada satu hal, yang sederhana dan itupun tidak bersifat wajib. saya hanya menginginkan kejujuran.
"Biarlah Allah yang menjadi penolongmu, biarlah Allah menjadi pelindungmu. dan Dia Maha Mengetahui siapa musuh-musuhmu."
dan saya yakin, ada Dia di sana. dan saya harus banyak bersyukur.
"sesederhana, untuk dapat membangunkan seseorang dari tidurnya lalu membuatkannya secangkir teh atau kopi."
"sesederhana, untuk dapat mengucapkan aku dan kamu diantara kita."
1 komentar:
"sesederhana, untuk dapat membangunkan seseorang dari tidurnya lalu membuatkannya secangkir teh atau kopi."
aku suka banget niat baiknya :) semoga terwujud dengan hasil yg indah :)
Posting Komentar